Tianneng Resmikan Pangkalan Produksi Strategis di Jawa Timur
25 Juni 2026, 20:58 WIB
Pemerintah akan jadikan Afrika sebagai sasaran ekspor baterai EV karena potensi pasar yang besar di masa depan
Oleh Adi Hidayat
KatadataOTO – Pemerintah akan jadikan Afrika sebagai sasaran ekspor baterai EV (Electric Vehicle). Hal ini karena pasar Benua Hitam memiliki potensi yang sangat baik di masa depan.
Melalui langkah tersebut maka diharapkan Indonesia bisa menjadi pemain utama dalam industri kendaraan listrik di dunia.
“Populasi di Afrika bakal berlipat ganda pada 2045 sehingga akan menjadi pasar yang besar,” ujar Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (29/07).
Besarnya potensi membuatnya berharap agar Indonesia bisa bekerjasama dengan perusahaan asal Afrika. Inilah yang membuatnya berkunjung ke benua tersebut untuk menjalin komunikasi.
“Mereka melihat Indonesia sebagai negara yang dapat membantu mereka terkait kendaraan listrik,” kata Luhut.
Ia pun menjelaskan bahwa pada dasarnya Indonesia sudah memiliki hubungan baik dengan negara-negara di Afrika. Bahkan Pertamina telah menggandeng perusahaan asal Kenya serta ada potensi yang bisa digarap PLN.
Semetara itu Agus Tjahajana Wirakusumah, Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bidang Percepatan Pengembangan Industri Sektor ESDM mengatakan bahwa kerja sama dengan Afrika akan menguntungkan kedua negara. Pasalnya Afrika memiliki potensi kobalt lebih baik dibanding Indonesia.
“Walaupun kita punya kobalt, tapi tidak sebanyak di Afrika. Karena kandungannya menyatu di nikel,” ujar Agus.
Oleh karena itu menurut Agus selain menyasar benua Afrika sebagai pasar baterai EV, kerja sama dengan negara-negara Afrika agar bisa memanfaatkan potensi kobalt di sana juga penting.
Indonesia memang tengah berupaya agar bisa menjadi pemain utama di industri kendaraan listrik global. Hal ini terlihat dari berdirinya pabrik baterai EV pertama di Tanah Air beberapa waktu lalu.
Pabrik milik PT Hyundai LG Industry (HLI) Green Power ini berlokasi di Karawang, Jawa Barat. Setidaknya ada tiga fasilitas produksi mulai dari pabrik sel baterai tahap pertama senilai US$ 1,2 miliar atau setara Rp 19,67 triliun, battery pack sebesar US$ 42,12 juta (Rp 690,49 miliar) dan perakitan Hyundai Kona Electric sebanyak US$ 1,5 (Rp 24,59 triliun).
Total investasinya adalah US$ 4,46 miliar atau Rp 73,11 triliun.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
25 Juni 2026, 20:58 WIB
20 April 2026, 21:19 WIB
16 April 2026, 07:56 WIB
10 April 2026, 15:04 WIB
05 April 2026, 20:10 WIB
Terkini
01 Juli 2026, 21:33 WIB
Rofbell Ardante Sahroni mendapat apresiasi dari IMI (Ikatan Motor Indonesia) atas prestasinya di ajang Drift
01 Juli 2026, 17:00 WIB
Harga Porsche Cayenne versi rakitan Malaysia semakin kompetitif di Rp 2,99 miliar, spesifikasi tidak berubah
01 Juli 2026, 16:32 WIB
Pertamina kembali melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang mulai berlaku secara nasional pada hari ini
01 Juli 2026, 09:51 WIB
Dijual Rp 1 miliar, Toyota Hilux BEV diimpor utuh dari Thailand dan menyasar konsumen yang lebih terbatas
01 Juli 2026, 07:00 WIB
Fabio Quartararo dan Alex Rins resmi mengakhiri masa bakti mereka bersama tim pabrikan Yamaha musim ini
01 Juli 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Bandung beroperasi secara penuh di awal bulan demi memudahkan para pengendara di Kota Kembang
01 Juli 2026, 06:00 WIB
Aturan Ganjil Genap Jakarta kembali berlaku hari ini 1 Juli 2026, ada beberapa aturan baru yang diterapkan
01 Juli 2026, 06:00 WIB
Mengawali Juli 2026, layanan SIM keliling Jakarta kembali mengakomodir perpanjangan masa berlaku SIM