BYD Berniat Punya Pabrik Baterai di Subang Demi Tingkatkan TKDN
06 September 2026, 01:22 WIB
Gaikindo menilai imbauan agar pabrik-pabrik mobil listrk pakai baterai EV berbasis nikel tidak akan efektif
Oleh Adi Hidayat
KatadataOTO – Imbauan pemerintah untuk mendorong pabrikan mobil listrik menggunakan baterai EV berbasis nikel dinilai tidak bakal optimal. Pasalnya masing-masing perusahaan kendaraan memiliki pertimbangan dan strateginya masing-masing.
Menurut Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), imbauan pemerintah tersebut harus dilakukan pengkajian ulang. Pasalnya pemerintahmharus mempertimbangkan banyak faktor termasuk skala keekonomian.
“Imbauan itu bagus tapi jangan lupa faktor terpenting adalah skala keekonomian. Kalau tidak ekonomis, pabrikan tidak akan mau berinvestasi di sini," ujar Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo dilansir Antara (08/08).
Ia mengakui bahwa pemanfaatan bahan baku lokal seperti nikel memang dapat meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Tapi penerapannya tidak akan bisa dilakukan sembarangan ke sebuah mobil.
Pasalnya pemerintah juga harus mempertimbangkan banyak hal termasuk kesiapan industri dan perbedaan teknologi di tiap merek kendaraan.
Menurut Kukuh, walau bahan baku seperti nikel tersedia tapi proses produksi baterai tetap bergantung pada aspek teknis yang kompleks. Pabrikan pun memiliki rahasia dagangnya masing-masing
“Tidak bisa sekadar dicetak dan langsung dipakai. Kinerja baterai berkaitan langsung dengan teknologi masing-masing merek,” ungkapnya.
Tak hanya itu, volume produksi kendaraan listrik di Indonesia pun terbilang masih terbatas sehingga upaya membangun ekosistem baterai nikel skala besar perlu didasarkan pada potensi pasar yang realistis.
Tanpa skala produksi yang besar maka biaya produksi baterai akan tetap tinggi sehingga sulit bersaing secara global. Selain soal keekonomian, ia juga menyoroti pentingnya investasi dalam riset dan pengembangan (R&D).
Kukuh pun mencontohkan Cina sebagai negara yang berhasil mengembangkan industri EV karena dukungan kuat terhadap R&D.
Meski demikian dirinya mengakui bahwa gagasan penggunaan baterai nikel dalam negeri memiliki potensi besar. Pasalnya biaya logistik bakal menjadi lebih terjangkau.
Namun dirinya mengingatkan bahwa setiap kebijakan harus memperhitungkan semua hal. Karena perubahan bisa mengganggu stabilitas industri otomotif.
“Tujuan utamanya adalah menuju emisi nol karbon serta bisa diraih dengan berbagai cara. Jadi optimalkan apa yang sudah ada sambil tetap mendorong pengembangan lokal secara bertahap dan masuk akal,” pungkasnya.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
06 September 2026, 01:22 WIB
12 Agustus 2026, 09:00 WIB
14 Juli 2026, 22:00 WIB
25 Juni 2026, 20:58 WIB
20 April 2026, 21:19 WIB
Terkini
29 September 2026, 06:00 WIB
Guna meminimalisir kesalahan pengendara di kawasan maupun jalan protokol di jalan Ibu Kota, diterapkan ganjil genap Jakarta
29 September 2026, 06:00 WIB
Agar mengurus dokumen berkendara lebih mudah, masyarakat disarankan untuk mendatangi SIM keliling Bandung
28 September 2026, 21:01 WIB
Bintang Chemical Indonesia melakukan peletakan batu pertama, siap punya pabrik cat belkote baru di Indonesia
28 September 2026, 17:49 WIB
BYD Atto 1 generasi terbaru siap hadir dengan berbagai ubahan mayor, baik pada eksterior maupun jantung pacu
28 September 2026, 12:39 WIB
Di tengah ramainya model baru yang ditawarkan di Indonesia, Mitsubishi Pajero Sport masih menjadi andalan
28 September 2026, 06:00 WIB
Perpanjangan masa berlaku bisa dilakukan dengan mudah di SIM keliling Jakarta, berikut biaya dan lokasinya
28 September 2026, 06:00 WIB
Para pengguna mobil pribadi yang hendak melintas jalan protokol Ibu Kota, simak titik Ganjil Genap Jakarta
28 September 2026, 06:00 WIB
Kepolisian menghadirkan SIM keliling Bandung lagi untuk memudahkan masyarakat mengurus dokumen berkendara