Rapor Penjualan Mobil Baru September 2026: Turun 2,6 Persen
12 Oktober 2026, 07:00 WIB
Sejak 2009 China telah konsisten memberi subsidi kendaraan listrik untuk memperkuat industri secara global
Oleh Adi Hidayat
KatadataOTO – China telah mengabiskan dana sedikitnya US$ 230 miliar atau setara Rp 3.789,2 triliun (kurs Rp 16.475) untuk membantu para produsen kendaraan listrik seperti BYD sejak 2009. Angka tersebut jauh lebih besar ketimbang APBN Indonesia 2024 yang hanya Rp2.802,3 triliun.
Data itu diungkap oleh Center for Strategic & International Studies (CSIS) dan dinilai menjadi kunci berkembangnya industri kendaraan listrik dari negeri Tirai Bambu. Bahkan kini Eropa khawatir pasar otomotif di kawasan tersebut bakal dikuasai China.
Untuk menghindarinya maka Uni Eropa pun mengumumkan tambahan tarif pajak sebesar 38 persen. Mereka beralasan bahwa perusahaan asal China telah mendapat subsidi yang tidak adil sehingga sanggup menjual kendaraan dengan harga lebih murah.
Dalam laporan terlihat bantuan pemerintah pada 2018 adalah sebesar US$ 17,4 miliar atau setara Rp 286 triliun. Angka itu kemudian turun menjadi US$ 14,8 miliar (Rp 243,8 triliun) di 2019 dan US$ 16,8 miliar (Rp 276,8 triliun) pada 2020.
Namun di 2021 bantuan melonjak jadi US$ 30,1 miliar (Rp 495,8 triliun) lalu naik lagi di 2022 menjadi US$ 45,8 miliar (Rp 754,5 triliun). Sementara tahun lalu turun tipis menjadi US$ 45,2 miliar (Rp 744,6 triliun).
Bantuan tersebut datang dalam beragam cara mulai dari bantuan di bidang infrastruktur, pembebasan pajak hingga potongan harga kendaraan. Besarnya angka subsidi dinilai tidak adil bagi perkembangan industri otomotif Eropa yang hanya memberi insentif kecil.
CSIS bahkan memperkirakan US$ 230 miliar merupakan angka yang terlalu rendah. Pasalnya pemerintah daerah juga memberi bantuan dan banyak diantara mereka telah berinvestasi pada perusahaan kendaraan listrik lokal.
Kebijakan juga masih mengecualikan subsidi pada bagian lain dari rantai pasokan kendaraan listrik seperti baterai. Situasi ini membuat perusahaan lain sulit untuk berkompetisi dengan perusahaan China.
Meski demikian negeri Tirai Bambu sebenarnya juga akan menghadapi masalahnya sendiri. Saat ini mereka sudah memiliki ratusan perusahaan kendaraan listrik dan hanya sedikit yang berhasil mendapat keuntungan.
Bila kondisi itu terus berlanjut maka beberapa dari mereka dipercaya akan bangkrut. Namun sejumlah perusahaan yang berhasil bertahan dipercaya bakal menjadi merek unggulan dalam industri global.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
12 Oktober 2026, 07:00 WIB
11 Oktober 2026, 14:57 WIB
30 September 2026, 15:34 WIB
29 September 2026, 14:39 WIB
28 September 2026, 17:49 WIB
Terkini
13 Oktober 2026, 09:00 WIB
Ada beberapa opsi motor matic 150 cc bisa dipilih, mulai dengan harga murah hingga yang paling mahal
13 Oktober 2026, 07:00 WIB
Peraih Best Kustom Bike Show di Kustomfest 2026 menggunakan Honda CB150R dengan gaya Neo Boardtracker
12 Oktober 2026, 23:00 WIB
Pengguna Chery Omoda 5 diminta untuk mendatangi bengkel resmi untuk melakukan pemeriksaan pada as roda
12 Oktober 2026, 22:00 WIB
Marc Marquez menuturkan ada beberapa faktor yang membuat dia tidak berdaya melawan Martin dan Bezzecchi
12 Oktober 2026, 21:50 WIB
Inspeksi kendaraan merupakan hal krusial yang perlu jadi perhatian perusahaan sebelum melepas unitnya
12 Oktober 2026, 11:07 WIB
Di tengah hingar bingar ramainya ajang MotoGP Mandalika 2026, ternyata ada dua pembalap Indonesia naik podium
12 Oktober 2026, 09:00 WIB
Kompetisi antara Marc Marquez dan Jorge Martin buat persaingan juara dunia MotoGP 2026 berjalan semakin panas
12 Oktober 2026, 07:00 WIB
Secara retail, penjualan mobil baru di Indonesia mengalami penurunan tipis 2,6 persen di September 2026