Hyundai Sambut Wacana Insentif Khusus Buat EV dengan Baterai Nikel
08 Januari 2026, 12:00 WIB
Pemilik kendaraan listrik merasa lebih nyaman isi daya di rumah ketimbang memanfaatkan fasilitas SPKLU
Oleh Adi Hidayat
KatadataOTO – Meski pemerintah terus menggalakkan pembangunan SPKLU di berbagai lokasi strategis tetapi pengguna kendaraan listrik rupanya masih jarang memanfaatkannya. Hal ini terungkap dalam studi yang dilakukan Populix.
Riset bertajuk ‘Electric Vehicle Dynamics: Unveiling Consumer Perspectives and Market Insights’ menunjukkan bahwa pemilik Battery Electric Vehicle lebih nyaman mengisi daya di rumah. Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) hanya dimanfaatkan di beberapa situasi tertentu.
Dalam survei diketahui bahwa 59 persen mengatakan bahwa pengisian daya paling nyaman dilakukan di rumah. Sementara mereka yang merasa puas dengan fasilitas SPKLU serta SPBKLU hanya mencapai 15 persen.
Padahal SPKLU selama ini dianggap sebagai fasilitas yang sangat penting untuk perkembangan ekosistem kendaraan listrik. Kehadirannya bisa memberi ketenangan pengendara saat harus menempuh perjalanan jauh.
“Ada beberapa alasan masyarakat enggan memilih SPKLU termasuk ketika mengisi daya namun tidak berfungsi. Kemudian ketika sudah di lokasi tetapi sudah ada orang lain yang sedang menggunakan fasilitasnya,” ungkap Timothy Astandu, CEO & Co-Founder Populix.
Tak mengherankan bila frekuensi penggunaan SPKLU dan SPBKLU di Indonesia masih rendah. Tercatat ada 6 persen pemilik kendaraan yang rutin memanfaatkannya setiap hari.
Kalau pun harus pergi ke SPKLU atau SPBKLU pun kebanyakan masyarakat sangat berhati-hati. 78 persen dari mereka memilih untuk datang ke lokasi resmi merek kendaraan ketimbang ke tempat umum.
Meski demikian, SPKLU dan SPBKLU dinilai tetap penting untuk terus dikembangkan di Indonesia. Pasalnya 65 persen pemilik BEV yang disurvei menyampaikan masih banyak pengendara khawatir kehabisan daya di tengah perjalanan.
Tak cuma itu, 61 persen koresponden juga menyampaikan bahwa mereka masih kurang nyaman dengan kapasitas jarak tempuh BEV yang terbatas. Selain itu fakta bahwa tidak semua bengkel menerima perbaikan meskipun kerusakannya non-listrik pun besar yaitu mencapai 49 persen.
“Untuk mengatasinya, kolaborasi antara regulatir dan produsen EV menjadi sangat krusial agar bisa mengatasi tantangan. Mulai dari aksesibilitas, jarak tempuh, biaya hingga ketersediaan infrastruktur pengisian daya,” pungkas Timothy Astandu, CEO & Co-Founder Populix.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
08 Januari 2026, 12:00 WIB
21 Desember 2025, 13:00 WIB
15 Desember 2025, 13:00 WIB
04 Desember 2025, 19:00 WIB
20 November 2025, 08:00 WIB
Terkini
18 Januari 2026, 17:00 WIB
Andhika Pratama dikenal menggemari dunia otomotif, ia kerap menggunakan BMW R Nine T saat bersama grup Predain
18 Januari 2026, 15:00 WIB
Honda Brio S Satya CVT diluncurkan dengan tujuan memberi kemudahan pelanggan memilih kendaraan sesuai kebutuhan
18 Januari 2026, 13:00 WIB
Toyota Avanza bekas lansiran 2025 kini jumlahnya terus bertambah dengan beragam kemudahan buat pelanggan
18 Januari 2026, 11:00 WIB
Daihatsu Sigra bekas lansiran 2025 semakin banyak pilihannya termasuk promo kredit buat para calon pelanggan
18 Januari 2026, 09:00 WIB
Changan Lumin EV menjadi salah satu mobil listrik yang mengalami kenaikan harga dengan besaran Rp 21 jutaan
18 Januari 2026, 07:00 WIB
Tanpa subsidi, Wuling Cortez Darion EV dan PHEV mengalami penyesuaian harga dari Rp 7 juta sampai Rp 40 juta
17 Januari 2026, 17:00 WIB
Harga Chery J6T resmi naik di awal tahun meski peluncuran kendaraan baru dilakukan pada November 2025
17 Januari 2026, 15:00 WIB
Seorang wiraniaga menawarkan diskon Suzuki XL7 Hybrid untuk semua metode pembelian, baik tunai atau kredit