Pabrik Toyota Indonesia Lahirkan Mobil Baru Dalam Hitungan Menit
29 September 2025, 08:00 WIB
Toyota kurangi target produksi di Oktober 2022 karena karena masih mengalami krisis cip semikonduktor
Oleh Adi Hidayat
TRENOTO – Toyota kurangi target produksi kendaraannya secara global di Oktober 2022 menjadi hanya 800.000 mobil. Jumlah tersebut berkurang sekitar 100.000 unit dari rencana awal.
Pengurangan jumlah target disebabkan oleh adanya kelangkaan cip semikonduktor yang berdampak pada produksi kendaraan di Toyota Motor Corporation. Kondisi tersebut tentunya memang sangat mengkhawatirkan karena telah beberapa kali terjadi dan telah menghambat penjualan.
Padahal semester 2 tahun fiskal 2022 dianggap menjadi periode yang sangat penting bagi kebangkitan pembuatan mobil Toyota. Pasalnya sepanjang semester pertama sudah beberapa kali mereka mengurangi jumlah produksinya.
Adanya pengurangan rupanya tidak membuat pabrikan asal Jepang tersebut menyesuaikan target jumlah produksinya. Mereka tetap yakin dapat menghasilkan sedikitnya 9.7 juta unit hingga Maret 2023.
Bulan lalu Toyota mengatakan bahwa pihaknya berencana untuk dapat memproduksi rata-rata 900.000 unit per bulan. Jumlah tersebut diharapkan berhasil tercapai sepanjang September hingga November 2022.
Namun kini mereka hanya mengharapkan untuk membuat rata-rata 850.000 unit per bulan dari Oktober hingga Desember 2022. Namun kegiatan 10 line pada 7 pabrik di Jepang akan ditangguhkan selama 12 hari di Oktober.
Sebagai catatan tambahan, sepanjang Oktober 2021, mereka hanya mampu memproduksi 627.452 unit kendaraan di seluruh dunia. Angka itu berhasil dicapai ketika pandemi Covid-19 tengah mengganggu pasokan suku cadang di Asia Tenggara.
Toyota sebenarnya pernah mengklaim sudah dapat mengatasi krisis cip semikonduktor melalui beragam cara. Tapi faktanya hingga kini masih terjadi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan di tengah perbaikan industri.
Tak hanya menghadapi tantangan dari kelangkaan cip semi konduktor, Toyota juga terpaksa menutup secara permanen pabrik di Rusia. Langkah ini dilakukan karena tidak dapat lagi mendapatkan bahan dan suku cadang utama dalam pembuatan mobil.
Kesulitan ini lebih disebabkan karena invasi Rusia kepada Ukraina sehingga sejumlah negara melakukan embargo perdagangan. Akibatnya membuat kendaraan pun menjadi semakin sulit.
Padahal sebelumnya Toyota hanya menutup sementara fasilitas produksi sejak Maret 2022. Sayangnya kondisi tidak juga membaik sehingga diputuskanlah untuk hengkang dari negara beruang merah.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
29 September 2025, 08:00 WIB
30 Oktober 2023, 20:47 WIB
28 April 2023, 15:53 WIB
30 September 2022, 19:08 WIB
31 Agustus 2022, 15:19 WIB
Terkini
17 Desember 2025, 14:00 WIB
Peristiwa dua matel yang tewas dalam kejadian di Kalibata beberapa waktu lalu turut menjadi sorotan OJK
17 Desember 2025, 12:00 WIB
QJMotor sampai memutus kerja sama dengan diler Superbiker Motor Solo buntut permasalahan dengan konsumen
17 Desember 2025, 11:00 WIB
Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat bakal beri kompensasi agar angkot di Puncak tidak beroperasi saat libur Nataru
17 Desember 2025, 10:00 WIB
Chery masih malu-malu membocorkan lebih jauh kapan waktu pelucuran brand Exeed untuk pasar Indoneisa
17 Desember 2025, 09:00 WIB
BYD masih terus memimpin sebagai merek mobil Cina terlaris di November 2025, berikut daftar lengkapnya
17 Desember 2025, 08:00 WIB
Mitsubishi Xforce memenuhi kebutuhan para pengendara yang ingin bisa menaklukkan berbagai medan jalan
17 Desember 2025, 07:00 WIB
VinFast mengaku telah menyiapkan beragam strategi khusus untuk mengembangkan pasar kendaraan di Indonesia
17 Desember 2025, 06:14 WIB
Ganjil genap Jakarta 17 Desember 2025 tetap menjadi andalan gunmengatasi kemacetan Ibu Kota yang tidak ada hentinya