Ambisi Bos Chery Saingi Toyota dan Tesla Demi Kuasai Pasar Global
30 April 2026, 15:00 WIB
Tajamnya penurunan penjualan sepertinya menjadi salah satu alasan Elon Musk mengalihkan fokus Tesla ke robot
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Elon Musk, CEO Tesla baru-baru ini memutuskan untuk menghentikan produksi dua produk mobil listriknya, Model S dan X.
Hal itu menjadi keputusan yang mengejutkan, apalagi di tengah sengitnya persaingan mobil listrik dari Tiongkok.
Tesla sendiri sebelumnya merupakan salah satu rival kuat buat sejumlah merek mobil listrik Cina seperti BYD.
“Sudah waktunya untuk menghentikan produksi Model S dan X secara terhormat, karena kita sedang bergerak ke masa depan berbasis otonomi,” kata Elon Musk dikutip dari Tech Crunch, Minggu (01/02).
Ia mengungkapkan konsumen yang masih tertarik dengan Model S dan X agar segera melakukan pembelian dalam waktu dekat.
Perlu diketahui, produksi mobil listrik Model S dan X dilakukan di fasilitas Fremont, California.
Sebagai gantinya, akan dilakukan produksi robot Optimus di pabrik Fremont dan deretan fasilitas perakitan lainnya.
“Ini memang agak menyedihkan, tetapi sudah waktunya menghentikan program Model S dan X,” tegas Musk.
Meskipun begitu, produksi serta penjualan model lain seperti Cybertruck masih akan tetap dilanjutkan.
Tampaknya ada beberapa faktor yang membuat Elon Musk akhirnya menyelesaikan produksi Model S dan X, yaitu tajamnya penurunan penjualan.
Pihak Tesla justru menyebut turunnya penjualan mobil listrik Tesla sebagai bagian dari transisi menjadi perusahaan Artificial Intelligence (AI).
Menurut laporan The Guardian, sepanjang 2025 total keuntungan otomotif Tesla mengalami penurunan 11 persen dari periode sebelumnya.
Selain robot Optimus, Tesla juga disebut lebih fokus pada pengembangan self-driving Robotaxi. Keduanya masih belum diungkap ke publik.
Namun dalam waktu dekat tepatnya sebelum akhir 2026, produksi robot Optimus dilakukan. Sementara penjualan dimulai 2027.
Tidak dapat dipungkiri kehadiran merek mobil listrik Cina jadi sebuah tantangan bagi banyak manufaktur termasuk Tesla.
Di 2025, BYD menggantikan Tesla sebagai manufaktur mobil listrik terbesar di dunia. Total penjualannya tembus 2,26 juta, sementara Tesla hanya berhasil tembus 1,63 juta.
Di samping BYD, merek di bawah naungan SAIC dan Chery turut menorehkan hasil positif dan gencar melakukan ekspor kendaraan ke berbagai negara.
Popularitas merek mobil listrik Cina terlihat masih akan terus berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Penjualan merek mobil listrik Cina di sejumlah negara juga telah dimudahkan berkat pemberian insentif.
Sehingga harga mobil listrik Cina yang cenderung rendah, bisa ditekan lebih banyak lagi pasca dikucurkan subsidi.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
30 April 2026, 15:00 WIB
28 April 2026, 15:00 WIB
28 April 2026, 11:00 WIB
28 April 2026, 09:00 WIB
26 April 2026, 13:00 WIB
Terkini
02 Mei 2026, 17:04 WIB
KatadataOTO mendapatkan kesempatan untuk mencoba langsung SUV offroad premium Jetour G700 di trek terbatas
02 Mei 2026, 09:00 WIB
Dani Pedrosa memprediksi Marco Bezzecchi dan Marc Marquez, bakal bersaing ketat hingga akhir musim MotoGP 2026
02 Mei 2026, 07:00 WIB
Perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran memberikan pengaruh besar bagi para Motul salah satunya
01 Mei 2026, 16:20 WIB
Para buruh di Indonesia mendapatkan kado pada Mayday 2026, sebab harga BBM di seluruh SPBU tidak naik
01 Mei 2026, 16:17 WIB
Concept97 bakal diluncurkan sebagai Freelander 8, bakal tersedia dalam opsi EV maupun hybrid model PHEV
01 Mei 2026, 06:00 WIB
Kepolisian di Kota Kembang tetap menghadirkan SIM keliling Bandung di dua tempat berbeda pada Jumat (01/05)
30 April 2026, 19:00 WIB
Pameran modifikasi The Elite Showcase 2026 bakal digelar di ICE BSD, Tangerang pada 9-10 Mei mendatang
30 April 2026, 17:00 WIB
Chery OMODA C5 hadir dengan menawarkan kenyamanan lebih dan diharapkan bisa menggantikan E5 di masa mendatang