Modal Chery Q Gaet Konsumen RI, Hadirkan Fitur Lengkap Fungsional
07 September 2026, 21:43 WIB
Tajamnya penurunan penjualan sepertinya menjadi salah satu alasan Elon Musk mengalihkan fokus Tesla ke robot
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Elon Musk, CEO Tesla baru-baru ini memutuskan untuk menghentikan produksi dua produk mobil listriknya, Model S dan X.
Hal itu menjadi keputusan yang mengejutkan, apalagi di tengah sengitnya persaingan mobil listrik dari Tiongkok.
Tesla sendiri sebelumnya merupakan salah satu rival kuat buat sejumlah merek mobil listrik Cina seperti BYD.
“Sudah waktunya untuk menghentikan produksi Model S dan X secara terhormat, karena kita sedang bergerak ke masa depan berbasis otonomi,” kata Elon Musk dikutip dari Tech Crunch, Minggu (01/02).
Ia mengungkapkan konsumen yang masih tertarik dengan Model S dan X agar segera melakukan pembelian dalam waktu dekat.
Perlu diketahui, produksi mobil listrik Model S dan X dilakukan di fasilitas Fremont, California.
Sebagai gantinya, akan dilakukan produksi robot Optimus di pabrik Fremont dan deretan fasilitas perakitan lainnya.
“Ini memang agak menyedihkan, tetapi sudah waktunya menghentikan program Model S dan X,” tegas Musk.
Meskipun begitu, produksi serta penjualan model lain seperti Cybertruck masih akan tetap dilanjutkan.
Tampaknya ada beberapa faktor yang membuat Elon Musk akhirnya menyelesaikan produksi Model S dan X, yaitu tajamnya penurunan penjualan.
Pihak Tesla justru menyebut turunnya penjualan mobil listrik Tesla sebagai bagian dari transisi menjadi perusahaan Artificial Intelligence (AI).
Menurut laporan The Guardian, sepanjang 2025 total keuntungan otomotif Tesla mengalami penurunan 11 persen dari periode sebelumnya.
Selain robot Optimus, Tesla juga disebut lebih fokus pada pengembangan self-driving Robotaxi. Keduanya masih belum diungkap ke publik.
Namun dalam waktu dekat tepatnya sebelum akhir 2026, produksi robot Optimus dilakukan. Sementara penjualan dimulai 2027.
Tidak dapat dipungkiri kehadiran merek mobil listrik Cina jadi sebuah tantangan bagi banyak manufaktur termasuk Tesla.
Di 2025, BYD menggantikan Tesla sebagai manufaktur mobil listrik terbesar di dunia. Total penjualannya tembus 2,26 juta, sementara Tesla hanya berhasil tembus 1,63 juta.
Di samping BYD, merek di bawah naungan SAIC dan Chery turut menorehkan hasil positif dan gencar melakukan ekspor kendaraan ke berbagai negara.
Popularitas merek mobil listrik Cina terlihat masih akan terus berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Penjualan merek mobil listrik Cina di sejumlah negara juga telah dimudahkan berkat pemberian insentif.
Sehingga harga mobil listrik Cina yang cenderung rendah, bisa ditekan lebih banyak lagi pasca dikucurkan subsidi.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
07 September 2026, 21:43 WIB
06 September 2026, 01:22 WIB
30 Agustus 2026, 09:00 WIB
26 Agustus 2026, 19:38 WIB
20 Agustus 2026, 21:00 WIB
Terkini
12 September 2026, 22:30 WIB
Varian terendah GWM Wey G9 dibekali teknologi hybrid dengan harga Rp 1,15 miliar on the road Jakarta
12 September 2026, 21:41 WIB
Asuransi Astra memasuki usia 70 tahun dengan menjaga kepercayaan para pelanggan dengan sejumlah terobosan
12 September 2026, 21:09 WIB
Marquez melanjutkan tren positif, usai meraih kemenangan dengan mudah di sprint race MotoGP San Marino 2026
12 September 2026, 11:00 WIB
Menyitat data resmi AISI, wholesales motor baru pada Agustus 2026 hanya berada di angka 596.461 unit saja
12 September 2026, 09:00 WIB
Marquez berpotensi keluar sebagai pemenang di MotoGP San Marino 2026 di Sirkuit Misano pada akhir pekan nanti
12 September 2026, 08:14 WIB
Menurut data AISI pada Agustus 2026, Honda sampai Yamaha hanya mendistribusikan 596.461 motor baru saja
11 September 2026, 19:00 WIB
Daimler Commercial Vehicles Indonesia ramaikan IEE Series 2026 sekaligus memperkenalkan presiden direktur baru
11 September 2026, 18:03 WIB
Lepas resmi membuka diler baru di Semarang untuk mendekatkan diri dengan calon konsumen di Jawa Tengah