Penjualan Mobil Cina Anjlok 13 Persen, Insentif Jadi Biang Kerok
08 Juli 2026, 09:00 WIB
BYD membantah secara keras tudingan Pentagon kalau mereka merupakan perusahaan yang terafiliasi militer Cina
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Baru-baru ini Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengeluarkan daftar hitam, mengenai perusahaan yang dituduh memberikan dukungan kepada militer Cina.
Dokumen tersebut diberi nama ‘Entitas yang Diidentifikasi Sebagai Perusahaan Militer Cina yang Beroperasi di Amerika Serikat’ oleh Pentagon.
Menariknya, BYD masuk menjadi perusahaan diwaspadai oleh Departemen Pertahanan di Negeri Paman Sam tersebut.
Selain itu masih ada beberapa perusahaan yang dituduh memberi dukungan kepada pemerintah Tiongkok, seperti Alibaba, Baidu, EVE Energy, Hesai sampai Robosense.
Pentagon menilai bahwa seluruh perusahaan di atas, merupakan ancaman terhadap keamanan nasional Amerika Serikat.
Lebih jauh disebutkan bahwa BYD berafiliasi dengan SASAC (Komisi Pengawasan dan Administrasi Aset Milik Negara Cina).
“BYD merupakan kontributor militer-sipil terhadap basis industri pertahanan Cina karena berafiliasi dengan MIIT dan berlokasi atau berafiliasi dengan zona perusahaan fusi militer-sipil,” tulis laporan Carnewschina, Kamis (11/06).
Tentu dokumen Pentagon ini membuat sebagian pihak terkejut. Sebab hal tersebut dapat mendorong hubungan Amerika dan Cina semakin memanas.
Sedangkan sejumlah pihak menilai tudingan tersebut tidak memiliki dasar seperti yang dilontarkan oleh BYD.
Jenama asal Cina itu membantah dokumen dari Pentagon. Mereka langsung memberikan klarifikasi.
Dalam dokumen terbaru yang diajukan ke Bursa Efek Hong Kong, BYD menegaskan mereka bukanlah perusahaan militer Cina.
Produsen mobil listrik ini juga tidak mengamini tuduhan, bahwa mereka merupakan perusahaan militer-sipil yang berkontribusi terhadap basis industri pertahanan di sana.
“Perusahaan menganggap bahwa tidak ada pembenaran untuk dimasukkannya perusahaan ke dalam daftar CMC (Perusahaan Militer Cina),” tutur BYD.
Menurut BYD, dokumen dibuat oleh Pentagon bukanlah daftar sanksi. Oleh sebab itu, tidak bakal memengaruhi operasi bisnis mereka.
Situasi tersebut tidak akan melarang siapa pun, untuk melakukan transaksi bisnis serta memboyong mobil listrik BYD.
Hal berbeda justru ditunjukkan oleh Nio. Produsen Electric Vehicle (EV) ini menolak secara lantang tuduhan Pentagon.
Bahkan mereka mengklaim akan secara aktif berkomunikasi dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Hal ini untuk meminta koreksi atas tudingan itu.
Terakhir Nio juga tidak menutup kemungkinan menempuh upaya hukum, demi melindungi kepentingan pemegang saham.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
08 Juli 2026, 09:00 WIB
29 Juni 2026, 07:00 WIB
24 Juni 2026, 23:00 WIB
24 Juni 2026, 11:00 WIB
17 Juni 2026, 11:00 WIB
Terkini
19 Juli 2026, 14:00 WIB
Vinfast Indonesia secara resmi menawarkan motor listrik dengan pilihan kepemilikan baterai sewa atau beli putus
19 Juli 2026, 12:00 WIB
Chery Q sudah dipesan lebih dari 3.000 unit meskipun tanpa harga final dan baru akan meluncur di GIIAS 2026
19 Juli 2026, 10:38 WIB
MMKSI menilai kalau Mitsubishi Xforce Hybrid lebih memiliki prospek lebih bagus di pasar otomotif Indonesia
18 Juli 2026, 21:09 WIB
Stasiun pengisian kendaraan listrik Voltron Hub Puri Indah menawarkan opsi ultra fast charging ke konsumen
18 Juli 2026, 21:06 WIB
Pangsa pasar Daihatsu di Juni 2026 berhasil tembus 17,1 persen, naik dari capaian di tahun sebelumnya
17 Juli 2026, 18:00 WIB
Diler perdana Leapmotor dibuka di kawasan PIK, gabung deretan grup brand Stellantis lain seperti Citroen
17 Juli 2026, 16:23 WIB
PUBG Mobile menjalin kerja sama dengan Ferrari dan Scuderia Ferrari HP, tawarkan pengalaman baru buat pemain
17 Juli 2026, 09:00 WIB
Selama PRJ 2026 Wahana mencatatkan penjualan positif, sebab ada 6.500 motor Honda yang terpesan di sana