Sinyal Kuat BYD Gabung F1 Mencuat setelah GP Monako
10 Juni 2026, 11:00 WIB
BYD membantah secara keras tudingan Pentagon kalau mereka merupakan perusahaan yang terafiliasi militer Cina
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Baru-baru ini Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengeluarkan daftar hitam, mengenai perusahaan yang dituduh memberikan dukungan kepada militer Cina.
Dokumen tersebut diberi nama ‘Entitas yang Diidentifikasi Sebagai Perusahaan Militer Cina yang Beroperasi di Amerika Serikat’ oleh Pentagon.
Menariknya, BYD masuk menjadi perusahaan diwaspadai oleh Departemen Pertahanan di Negeri Paman Sam tersebut.
Selain itu masih ada beberapa perusahaan yang dituduh memberi dukungan kepada pemerintah Tiongkok, seperti Alibaba, Baidu, EVE Energy, Hesai sampai Robosense.
Pentagon menilai bahwa seluruh perusahaan di atas, merupakan ancaman terhadap keamanan nasional Amerika Serikat.
Lebih jauh disebutkan bahwa BYD berafiliasi dengan SASAC (Komisi Pengawasan dan Administrasi Aset Milik Negara Cina).
“BYD merupakan kontributor militer-sipil terhadap basis industri pertahanan Cina karena berafiliasi dengan MIIT dan berlokasi atau berafiliasi dengan zona perusahaan fusi militer-sipil,” tulis laporan Carnewschina, Kamis (11/06).
Tentu dokumen Pentagon ini membuat sebagian pihak terkejut. Sebab hal tersebut dapat mendorong hubungan Amerika dan Cina semakin memanas.
Sedangkan sejumlah pihak menilai tudingan tersebut tidak memiliki dasar seperti yang dilontarkan oleh BYD.
Jenama asal Cina itu membantah dokumen dari Pentagon. Mereka langsung memberikan klarifikasi.
Dalam dokumen terbaru yang diajukan ke Bursa Efek Hong Kong, BYD menegaskan mereka bukanlah perusahaan militer Cina.
Produsen mobil listrik ini juga tidak mengamini tuduhan, bahwa mereka merupakan perusahaan militer-sipil yang berkontribusi terhadap basis industri pertahanan di sana.
“Perusahaan menganggap bahwa tidak ada pembenaran untuk dimasukkannya perusahaan ke dalam daftar CMC (Perusahaan Militer Cina),” tutur BYD.
Menurut BYD, dokumen dibuat oleh Pentagon bukanlah daftar sanksi. Oleh sebab itu, tidak bakal memengaruhi operasi bisnis mereka.
Situasi tersebut tidak akan melarang siapa pun, untuk melakukan transaksi bisnis serta memboyong mobil listrik BYD.
Hal berbeda justru ditunjukkan oleh Nio. Produsen Electric Vehicle (EV) ini menolak secara lantang tuduhan Pentagon.
Bahkan mereka mengklaim akan secara aktif berkomunikasi dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Hal ini untuk meminta koreksi atas tudingan itu.
Terakhir Nio juga tidak menutup kemungkinan menempuh upaya hukum, demi melindungi kepentingan pemegang saham.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
10 Juni 2026, 11:00 WIB
02 Juni 2026, 07:00 WIB
31 Mei 2026, 07:00 WIB
27 Mei 2026, 14:46 WIB
24 Mei 2026, 17:10 WIB
Terkini
12 Juni 2026, 11:00 WIB
Pada pameran Pekan Raya Jakarta 2026, QJMotor merilis perluasan program yang telah sukses sebelumnya
12 Juni 2026, 09:00 WIB
Yamaha MX King 150 Prima Pramac livery hadir untuk memenuhi kebutuhan para penggemar Toprak di MotoGP
12 Juni 2026, 07:00 WIB
Penjualan mobil kembali mengalami penurunan di Mei 2026, lonjakan harga BBM bakal ikut memberikan tekanan
12 Juni 2026, 06:00 WIB
Kepolisian tidak mengendurkan layanan seperti SIM keliling Bandung, hal ini dilakukan demi melayani pengendara
12 Juni 2026, 06:00 WIB
Denda Ganjil Genap Jakarta cukup besar, sehingga para pengguna jalan protokol khususnya harus lebih waspada
12 Juni 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Jakarta masih beroperasi di lima lokasi berbeda hari ini 12 Juni 2026, jangan sampai terlewat
11 Juni 2026, 21:52 WIB
Kawasaki memboyong dua motor baru di PRJ 2026, yakni Brusky 125 sampai KLX 150 XLP guna menggoda para konsumen
11 Juni 2026, 11:50 WIB
Veda Ega Pratama kerap menghabiskan waktu luang, meskipun dirinya menjalani profesi pembalap profesional