Praktisi Tanggapi Kecelakaan McLaren: Modal Nyetir Saja Tak Cukup
11 Juli 2026, 07:00 WIB
Kedewasaan mental memiliki peran besar untuk menjaga keselamatan dan antisipasi laka lantas selama berkendara
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Kecelakaan lalu lintas atau laka lantas seringkali terjadi karena kelalaian manusia alias Human Error. Bisa akibat kelelahan atau perselisihan dengan pengguna jalan lain.
Maka sejatinya sebelum mengemudikan kendaraan bermotor, bekal pengetahuan teknis dan cara berkendara tidaklah cukup. Perlu diimbangi kedewasaan mental dan pemahaman aturan lalu lintas.
Rifat Sungkar, Praktisi Keselamatan Berkendara sekaligus pereli nasional ungkap bahwa tahun ini prediksi jumlah kecelakaan bisa mencapai 50.000 kasus. Adapun nominal itu disebabkan oleh Human Error.
Padahal ini menyebabkan kerugian buat banyak pihak baik secara finansial maupun sosial. Guna mengantisipasi hal tersebut Rifat menegaskan pentingnya etika, pengetahuan dan kedewasaan mental saat berkendara.
Sering salah kaprah, menurut Rifat kebanyakkan orang merasa bahwa apabila sudah bisa mengemudikan kendaraan maka memiliki cukup bekal untuk antisipasi laka lantas.
“Ketika berkendara kita pikir sudah bisa. Satu contoh, semua orang tahu yang namanya rem ABS, tapi bagaimana cara kerjanya?” kata Rifat di sela acara Media Session Bosch Safety Driving Campaign, Jakarta Pusat, Kamis (6/6).
Menurut dia ketika dipraktikkan, sejumlah orang yang belum pernah merasakan ketika rem ABS justru mengangkat rem di saat sistem itu aktif. Hal ini juga bisa jadi salah satu pemicu kecelakaan.
Selanjutnya Rifat mengatakan pentingnya mengatur waktu ketika akan berpergian terkhusus ke area kota Jakarta yang padat.
“Semua kejadian disebabkan emosi, tapi kalau kita punya mental dewasa misal berangkat satu jam lebih cepat. Ada mobil mogok, diselak dan lainnya kita santai,” kata dia.
Sering terjadi ketika berangkat dalam waktu terbatas pengemudi jadi cepat emosi apalagi berhadapan dengan kemacetan di pusat kota.
Terakhir Rifat menekankan pentingnya menjaga waktu istirahat guna menjaga kondisi mental yang baik. Terkhusus untuk para pengemudi taksi online karena mobilitasnya terbilang tinggi.
“Kecelakaan sering terjadi 80 persen ketika sudah di titik Fatigue. Quick nap atau tidur sebentar, dua jam kerja 15 menit istirahat atau tiga jam kerja, lalu 30 menit istirahat,” ujar dia.
Meski pada akhirnya strategi dan kekuatan tubuh setiap orang berbeda, jeda dibutuhkan setiap pengemudi agar kondisi fisik dan mental prima ketika kembali berkendara.
“Defensive Driving itu kita ketika berkendara aman, apakah juga aman untuk orang lain? Ini hanya bisa didapatkan ketika kita prima,” kata Rifat menutup perkataannya.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
11 Juli 2026, 07:00 WIB
26 Mei 2026, 21:00 WIB
29 Maret 2026, 11:44 WIB
11 Maret 2026, 09:00 WIB
03 Februari 2026, 13:00 WIB
Terkini
16 Agustus 2026, 09:00 WIB
Prabowo mendorong para produsen mengembangkan dan memproduksi motor listrik secara mandiri di Indonesia
15 Agustus 2026, 20:53 WIB
Mobil listrik masih menunjukkan tren positif, model anyar seperti Wuling Aira ev catatkan wholesales tinggi
15 Agustus 2026, 18:57 WIB
Suzuki XL7 Facelift yang baru diluncurkan beberapa pekan lalu, sudah mendapat ribuan pemesanan dari konsumen
15 Agustus 2026, 07:21 WIB
Presiden Prabowo berambisi agar Indonesia memiliki mobil listrik nasional serta memajukan industri otomotif
14 Agustus 2026, 20:50 WIB
Fabio Quartararo mengatakan bahwa ia berniat meninggalkan Yamaha saat melakoni pengujian di Sirkuit Valencia
14 Agustus 2026, 20:48 WIB
Farizon V8E resmi diproduksi di pabrik Handal Indonesia Motor (HIM), kemudian disusul dengan model F3E
14 Agustus 2026, 11:00 WIB
Merek mobil mewah memperlihatkan tren negatif di periode Juli 2026, BMW masih memimpin disusul Mercedes-Benz
14 Agustus 2026, 09:00 WIB
Penjualan BMW disebut positif selama perhelatan GIIAS 2026, tuai respons positif terhadap BMW iX3 Neue Klasse