Aletra Pamerkan L7 di GIIAS 2026, Bidik Segmen MPV EV Keluarga
03 Agustus 2026, 12:00 WIB
Krisis cip semikonduktor masih menghantui produksi mobil listrik di dunia tidak terkecuali pasar Indonesia
Oleh Satrio Adhy
TRENOTO– Krisis cip semikonduktor masih menghantui industri otomotif di Indonesia. Hal itu diungkapkan oleh Yohannes Nangoi selaku Ketua Umum Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia).
Menurutnya terjadi karena banyak faktor, salah satunya disebabkan kebakaran pabrik cip semikonduktor di China. Diperparah dengan berlangsungnya perang senjata antara Ukraina dan Rusia hingga sekarang. Selain itu masih panasnya kondisi di timur tengah.
Dengan begitu para pabrikan sulit mendapatkan barang satu ini. Terlebih sektor otomotif menjadi pemain baru untuk cip semikonduktor di dunia.
“Saat ini yang kita perlukan alokasi, sebab kami membutuhkan barangnya banyak sekali. Namun konsumen terbesarnya adalah bidang elektronik seperti komputer dan lain-lain, jadi kita pemakai baru,” ujar Yohanes saat ditemui di Jakarta Selatan, Kamis (26/1),
Dia mengungkapkan kalau sebelumnya semua kendaraan bermotor menggunakan sistem mekanis. Mulai dari membuka jendela hingga mengunci pintu.
Akan tetapi semuanya berubah semenjak hadirnya kendaraan listrik. Sebab cip semikonduktor berperan besar dalam beroperasinya mobil serta motor setrum tersebut.
“Mobil listrik pakai part ini cukup banyak. Sebabnya kita mendekatkan diri ke para pengusaha cip semikonduktor agar mendapatkan kuota lebih lagi,” tegasnya.
Memang sebelumnya penjualan kendaraan listrik juga konvensional di Tanah Air terganggu karena kelangkaan komponen tersebut. Bahkan Yohannes belum bisa memberikan target penjualan akibat isu krisis semikonduktor kembali mencuat.
Yohannes Nangoi menjelaskan bahwa Indonesia belum memiliki kemampuan untuk melakukan produksi cip semikonduktor. Sebab prosesnya sangat rumit dan membutuhkan investasi besar.
“Saya dengar kabar kurang bagus bahwa semikonduktor akan mengalami kelangkaan lagi. Bahkan kemarin ada kebakaran besar (pabrik) di China tak tahu bagaimana dampaknya untuk Indonesia,” ungkapnya.
Kendati demikian dia berharap kejadian tersebut tidak terlalu berdampak bagi suplai ke Tanah Air. Pasalnya beberapa negara yang membuat cip semikonduktor saling berhubungan menyalurkan hasil produksinya ke seluruh dunia.
“Kalau Asia banyak (pabrik) dari China dan Taiwan. Kemudian ada di Eropa juga Amerika, tapi biasanya suplai dunia dipegang beberapa negara ini, jadi kalau di Taiwan berhenti bukan berarti kawasan Asia benar-benar mati,” Yohannes menutup perkataanya.
Sebagai informasi benda ini berfungsi sebagai isolator listrik (tidak dapat dilalui arus listrik). Namun pada temperatur serta keadaan tertentu, semikonduktor dapat berfungsi sebagai konduktor (dapat dilalui arus listrik).
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
03 Agustus 2026, 12:00 WIB
02 Agustus 2026, 07:00 WIB
31 Juli 2026, 12:48 WIB
30 Juli 2026, 16:49 WIB
30 Juli 2026, 16:00 WIB
Terkini
03 Agustus 2026, 18:00 WIB
Inovasi yang ditawarkan oleh Accelera Omikron Rugged Tyre tidak hanya cocok untuk harian tetapi juga offrod
03 Agustus 2026, 17:35 WIB
Quad Lock Indonesia resmi meluncur diGIIAS dengan menghadirkan ragam produk phone holder untuk berbagai kendaraan
03 Agustus 2026, 16:00 WIB
Lepas akhirnya resmi menyerahkan unit L8 PHEV ke para konsumennya, manfaatkan perhelatan otomotif GIIAS 2026
03 Agustus 2026, 15:00 WIB
Perkuat kehadirannya di RI, Wincos hadirkan tiga produk baru dan lanjutkan kolaborasi dengan Garasi Drift dan HRI
03 Agustus 2026, 14:00 WIB
Ajang pameran otomotif GIIAS 2026 menjadi waktu yang tepat untuk para pemilik mobil-mobil bermerek Suzuki
03 Agustus 2026, 13:00 WIB
Tekiro memamerkan pencapaian terbarunya dengan berhasil memecahkan rekor dunia dalam hal kompetisi mekanik
03 Agustus 2026, 12:00 WIB
Aletra akhirnya membuka selubung produk terbarunya di pasar otomotif Indonesia dan dipasarkan Oktober 2026
03 Agustus 2026, 11:00 WIB
Ford RMA Indonesia merilis model-model terbarunya untuk pasar otomotif Tanah Air, termahal Rp 1,2 miliar