Indonesia Wajib Impor 1 Juta Ton Etanol dari AS, Ini Aturannya
23 Februari 2026, 15:00 WIB
Perluasan mandatori etanol 10 persen menjadi 15 persen tuai protes di Amerika Serikat, ini alasannya
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Penerapan bensin campuran etanol akan diberlakukan di Indonesia sebagai bagian dari upaya menekan emisi gas buang.
Keputusan tersebut tentu menuai pro dan kontra dari berbagai pihak. Sebab butuh persiapan matang dari segi ekosistem maupun kendaraan yang dijual di dalam negeri.
Baru-baru ini Amerika Serikat juga mengalami masalah serupa. American Petroleum Institute (API) tidak setuju dengan perluasan mandatori bensin campuran etanol 15 persen atau E15.
Sebelumnya bensin etanol yang berlaku di sana adalah E10. API menyorot adanya beberapa kendala perlu jadi perhatian apabila persentase etanol dinaikkan menjadi 15 persen.
Menurut perwakilan API, mereka tidak sepenuhnya menentang bensin E15. Tetapi kebijakan itu harus diimbangi regulasi lain di tengah perubahan bahan bakar tersebut.
Misalnya, kilang kecil seharusnya tidak mendapatkan pengecualian terhadap regulasi bahan bakar beretanol. Karena berimbas merugikan mereka yang telah berinvestasi agar mematuhi aturan.
API turut menyarankan adanya insentif impor untuk bahan bakar terbarukan termasuk etanol, apabila pemerintah ingin tetap mengimplementasikan E15.
Dari sudut pandang kilang, kebijakan E15 dapat meningkatkan biaya kepatuhan serta mengganggu operasi penyulingan bahan bakar.
Di sisi lain, produsen tradisional jagung dan etanol justru mendorong penjualan E15 karena memberikan keuntungan.
Kewajiban menjual bahan bakar campuran etanol dalam waktu dekat turut menuai reaksi dari manufaktur.
Merek asal Jepang seperti Toyota mengklaim lini kendaraannya terkhusus produki terkini sudah siap menghadapi kebijakan etanol tersebut.
Namun menyorot perlu ada regulasi transisi sebelum implementasi secara massal. Apalagi banyak kendaraan beredar di jalan raya tak kompatibel mencerna etanol.
Toyota juga menyatakan impor etanol sebagai tahapan awal wajar dilakukan, sambil menunggu kesiapan industri dalam negeri untuk memasok material tersebut.
“Negara tetangga kita sudah mulai semua (menggunakan bensin campuran etanol). Jadi kita ketinggalan,” kata Bob Azam, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut dia mengungkapkan lini mobil dari Toyota sudah bisa menampung bahan bakar campuran etanol sampai 20 persen alias E20.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
23 Februari 2026, 15:00 WIB
20 November 2025, 14:00 WIB
11 November 2025, 15:00 WIB
10 November 2025, 13:00 WIB
09 November 2025, 07:00 WIB
Terkini
15 Oktober 2026, 15:00 WIB
Stasiun pengisian daya BYD Flash Charging bisa dimanfaatkan untuk mobil BYD dengan baterai generasi pertama
15 Oktober 2026, 13:00 WIB
Asuransi Astra masuk usia 70 tahun, memperkuat layanan digital melalui myGarda, gardaoto.com, dan Garda Siaga
15 Oktober 2026, 11:00 WIB
Seri GIIAS kembali dilanjutkan, GIIAS Makassar 2026 bakal hadirkan 14 merek kendaraan penumpang ke konsumen
15 Oktober 2026, 09:06 WIB
Setelah menjadi perbincangan, BYD Atto 2 akhirnya dipajang dan dipamerkan kepada konsumen di Indonesia
15 Oktober 2026, 07:00 WIB
Sebelum menentukan pilihan, Mitsubishi Destinator bisa jadi bahan pertimbangan konsumen yang membutuhkan
14 Oktober 2026, 22:28 WIB
Itamotor baru saja meluncurkan handrip untuk skutik premium yang diklaim dapat memberikan kenyamanan lebih
14 Oktober 2026, 19:00 WIB
BYD Flash Charging bisa digunakan untuk lini mobil listrik Danza yang dipasarkan di Indonesia, seperti D9
14 Oktober 2026, 17:00 WIB
Mobil listrik MG S6 EV jadi opsi baru SUV keluarga di Indonesia, segera meluncur di pameran otomotif GAW 2026