Yamaha Luncurkan Apparel Resmi, Dijual Terbatas
30 Agustus 2025, 13:00 WIB
Yamaha menilai demo yang masih berlangsung sampai hari ini bisa mempengaruhi daya beli masyarakat Indonesia
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Aksi demonstrasi masih berlangsung di sejumlah daerah sampai Minggu (31/08). Terutama di wilayah Jakarta dan sekitar.
Beberapa kantor polisi juga Mako Brimob di Ibu Kota, diserang serta dibakar oleh pendemo yang tidak diketahui identitasnya.
Lalu kediaman sejumlah pejabat negara turut diserang dan dijarah. Seperti rumah Uya Kuya, Ahmad Sahroni, Eko Patrio sampai Sri Mulyani.
Tentu kondisi ini sangat merugikan banyak pihak. Sebab membawa dampak sangat negatif, terkhusus para pelaku usaha.
Selain itu efek negatif berpotensi dialami oleh industri otomotif. Demo bisa mengganggu operasional produksi mereka.
"Namanya industri pasti berharap situasi tetap kondusif. Karena pasti berpengaruh ya, keamanan itu kan (faktor) paling penting," ungkap Rifki Maulana, Manager Publik Relation, YRA & Community Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) di Bandung, Jawa Barat.
Rifki berharap demo yang masih berlangsung sampai hari ini segera mereda. Mengingat kegiatan tersebut sudah berlangsung sejak beberapa hari lalu.
Ia menilai kalau situasi bisa kembali kondusif, maka roda perekonomian di Tanah Air dapat kembali berputar.
Pasalnya jika demo berlangsung lama, maka rasa aman masyarakat di Indonesia pasti akan terpengaruh.
"Namanya prinsip ekonomi, mereka lebih berhati-hati dalam membelanjakan sesuatu karena situasi yang tidak kondusif," Rifki melanjutkan.
Bila situasi seperti sekarang tak mereda, akibatnya mengancam operasional para pabrikan kendaraan di dalam negeri.
Memang jika dilihat tidak hanya berdampak ke daya beli masyarakat. Namun juga mengganggu rantai pasok bahan baku.
Selanjutnya berpotensi menurunkan kepercayaan investor asing. Jadi sangat merugikan pabrikan motor di dalam negeri.
Apalagi kinerja pasar kendaraan roda dua di Tanah Air sedang mengalami kelesuan, kondisi tersebut sudah berjalan sejak awal tahun.
Sehingga aksi demonstrasi yang berkepanjangan, menjadi batu sandungan bagi penjualan motor baru di Indonesia.
"Semoga situasi kondusif sehingga roda ekonomi tetap berjalan dengan semestinya," Rifki menegaskan.
Hal senada turut keluar dilontarkan oleh Yannes Martinus Pasaribu, pakar otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB).
Martinus meminta kepada pemerintah dan para pemegang kebijakan, bisa segera mengatasi aksi demonstrasi.
"Secara terpaksa pemerintah harus mendinginkan suasana yang berpotensi mengeskalasi ini, dengan segera menjawab berbagai tuntutan yang ada," kata Yannes kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Dengan begitu situasi yang memanas, diharapkan dapat berangsung-angsur kondusif. Lalu tidak semakin melebar ke berbagai sektor.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
30 Agustus 2025, 13:00 WIB
30 Agustus 2025, 07:16 WIB
29 Agustus 2025, 13:00 WIB
29 Agustus 2025, 11:00 WIB
28 Agustus 2025, 13:00 WIB
Terkini
30 Agustus 2025, 22:00 WIB
Asuransi bisa tolak klaim mobil korban kerusuhan yang terjadi di sejumlah daerah beberapa hari terakhir
30 Agustus 2025, 21:00 WIB
BAIC menghadirkan jajaran produk unggulannya di ajang GIIAS Surabaya 2025 dan memberikan penawaran khusus
30 Agustus 2025, 19:16 WIB
Kecelakaan maut terjadi di Batam, melibat truk crane, mobil dan tiga motor menyebabkan satu orang meninggal
30 Agustus 2025, 17:00 WIB
Sepanjang Juli 2025 data Gaikindo menunjukkan angka impor mobil tembus 15.091 unit, tertinggi tahun ini
30 Agustus 2025, 16:32 WIB
Suzuki Fronx tipe GL hadir dengan beragam keunggulan tapi harga kompetitif, pas buat yang ingin naik kelas dari LCGC
30 Agustus 2025, 15:00 WIB
Bakal digelar 3-5 Oktober, MGPA bersama FIM gelar pelatihan marshal dan tenaga medis MotoGP Mandalika 2025
30 Agustus 2025, 13:00 WIB
Yamaha baru saja menjalin kerja sama dengan brand apparel asal Indonesia seperti Prostreet dan Rabbit & Wheels
30 Agustus 2025, 11:00 WIB
Suzuki Ignis bekas lansiran 2022 dijual dengan harga kompetitif dan beragam kemudahan termasuk TDP Rp 7 jutaan