Yamaha Luncurkan Y-On, Layanan Digital Praktis buat Pelanggan
15 April 2026, 18:00 WIB
Yamaha menilai demo yang masih berlangsung sampai hari ini bisa mempengaruhi daya beli masyarakat Indonesia
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Aksi demonstrasi masih berlangsung di sejumlah daerah sampai Minggu (31/08). Terutama di wilayah Jakarta dan sekitar.
Beberapa kantor polisi juga Mako Brimob di Ibu Kota, diserang serta dibakar oleh pendemo yang tidak diketahui identitasnya.
Lalu kediaman sejumlah pejabat negara turut diserang dan dijarah. Seperti rumah Uya Kuya, Ahmad Sahroni, Eko Patrio sampai Sri Mulyani.
Tentu kondisi ini sangat merugikan banyak pihak. Sebab membawa dampak sangat negatif, terkhusus para pelaku usaha.
Selain itu efek negatif berpotensi dialami oleh industri otomotif. Demo bisa mengganggu operasional produksi mereka.
"Namanya industri pasti berharap situasi tetap kondusif. Karena pasti berpengaruh ya, keamanan itu kan (faktor) paling penting," ungkap Rifki Maulana, Manager Publik Relation, YRA & Community Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) di Bandung, Jawa Barat.
Rifki berharap demo yang masih berlangsung sampai hari ini segera mereda. Mengingat kegiatan tersebut sudah berlangsung sejak beberapa hari lalu.
Ia menilai kalau situasi bisa kembali kondusif, maka roda perekonomian di Tanah Air dapat kembali berputar.
Pasalnya jika demo berlangsung lama, maka rasa aman masyarakat di Indonesia pasti akan terpengaruh.
"Namanya prinsip ekonomi, mereka lebih berhati-hati dalam membelanjakan sesuatu karena situasi yang tidak kondusif," Rifki melanjutkan.
Bila situasi seperti sekarang tak mereda, akibatnya mengancam operasional para pabrikan kendaraan di dalam negeri.
Memang jika dilihat tidak hanya berdampak ke daya beli masyarakat. Namun juga mengganggu rantai pasok bahan baku.
Selanjutnya berpotensi menurunkan kepercayaan investor asing. Jadi sangat merugikan pabrikan motor di dalam negeri.
Apalagi kinerja pasar kendaraan roda dua di Tanah Air sedang mengalami kelesuan, kondisi tersebut sudah berjalan sejak awal tahun.
Sehingga aksi demonstrasi yang berkepanjangan, menjadi batu sandungan bagi penjualan motor baru di Indonesia.
"Semoga situasi kondusif sehingga roda ekonomi tetap berjalan dengan semestinya," Rifki menegaskan.
Hal senada turut keluar dilontarkan oleh Yannes Martinus Pasaribu, pakar otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB).
Martinus meminta kepada pemerintah dan para pemegang kebijakan, bisa segera mengatasi aksi demonstrasi.
"Secara terpaksa pemerintah harus mendinginkan suasana yang berpotensi mengeskalasi ini, dengan segera menjawab berbagai tuntutan yang ada," kata Yannes kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Dengan begitu situasi yang memanas, diharapkan dapat berangsung-angsur kondusif. Lalu tidak semakin melebar ke berbagai sektor.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
15 April 2026, 18:00 WIB
12 April 2026, 07:00 WIB
03 April 2026, 18:43 WIB
01 April 2026, 08:14 WIB
16 Maret 2026, 19:00 WIB
Terkini
20 April 2026, 09:00 WIB
MPM Green Action 2026, fokus pada pelestarian lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat di sejumlah wilayah
20 April 2026, 07:00 WIB
Mobil Cina segmen premium yang masuk pasar Indonesia menjadi perhatian BMW di tengah era elektrifikasi
20 April 2026, 06:00 WIB
Masyarakat Ibu Kota terkhusus para pengguna kendaraan roda empat harus memilih rute karena ada ganjil genap Jakarta
20 April 2026, 06:00 WIB
Mengawali pekan ini SIM keliling Jakarta kembali melayani masyarakat, berikut adalah jadwal dan lokasinya
20 April 2026, 06:00 WIB
Di awal pekan kepolisian menghadirkan SIM keliling Bandung untuk memudahkan para pengendara di Kota Kembang
19 April 2026, 21:01 WIB
Sebanyak sembilan unit iCar V23 Pro Plus Collector Series sudah diserahkan kepada konsumen di Indonesia
19 April 2026, 13:00 WIB
BYD kalah gugatan dari PT Worcas Nusantara Abadi, berpotensi ganti nama Denza khusus pasar Indonesia
19 April 2026, 11:05 WIB
Pertamina dan BP AKR menaikan harga BBM mereka pada Sabtu (18/04) hingga menyentuh Rp 25 ribu per liter