Maxi Tour Boemi Nusantara Icip Jalur Menantang Yogyakarta ke Solo
26 Mei 2026, 19:45 WIB
Yamaha menilai demo yang masih berlangsung sampai hari ini bisa mempengaruhi daya beli masyarakat Indonesia
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Aksi demonstrasi masih berlangsung di sejumlah daerah sampai Minggu (31/08). Terutama di wilayah Jakarta dan sekitar.
Beberapa kantor polisi juga Mako Brimob di Ibu Kota, diserang serta dibakar oleh pendemo yang tidak diketahui identitasnya.
Lalu kediaman sejumlah pejabat negara turut diserang dan dijarah. Seperti rumah Uya Kuya, Ahmad Sahroni, Eko Patrio sampai Sri Mulyani.
Tentu kondisi ini sangat merugikan banyak pihak. Sebab membawa dampak sangat negatif, terkhusus para pelaku usaha.
Selain itu efek negatif berpotensi dialami oleh industri otomotif. Demo bisa mengganggu operasional produksi mereka.
"Namanya industri pasti berharap situasi tetap kondusif. Karena pasti berpengaruh ya, keamanan itu kan (faktor) paling penting," ungkap Rifki Maulana, Manager Publik Relation, YRA & Community Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) di Bandung, Jawa Barat.
Rifki berharap demo yang masih berlangsung sampai hari ini segera mereda. Mengingat kegiatan tersebut sudah berlangsung sejak beberapa hari lalu.
Ia menilai kalau situasi bisa kembali kondusif, maka roda perekonomian di Tanah Air dapat kembali berputar.
Pasalnya jika demo berlangsung lama, maka rasa aman masyarakat di Indonesia pasti akan terpengaruh.
"Namanya prinsip ekonomi, mereka lebih berhati-hati dalam membelanjakan sesuatu karena situasi yang tidak kondusif," Rifki melanjutkan.
Bila situasi seperti sekarang tak mereda, akibatnya mengancam operasional para pabrikan kendaraan di dalam negeri.
Memang jika dilihat tidak hanya berdampak ke daya beli masyarakat. Namun juga mengganggu rantai pasok bahan baku.
Selanjutnya berpotensi menurunkan kepercayaan investor asing. Jadi sangat merugikan pabrikan motor di dalam negeri.
Apalagi kinerja pasar kendaraan roda dua di Tanah Air sedang mengalami kelesuan, kondisi tersebut sudah berjalan sejak awal tahun.
Sehingga aksi demonstrasi yang berkepanjangan, menjadi batu sandungan bagi penjualan motor baru di Indonesia.
"Semoga situasi kondusif sehingga roda ekonomi tetap berjalan dengan semestinya," Rifki menegaskan.
Hal senada turut keluar dilontarkan oleh Yannes Martinus Pasaribu, pakar otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB).
Martinus meminta kepada pemerintah dan para pemegang kebijakan, bisa segera mengatasi aksi demonstrasi.
"Secara terpaksa pemerintah harus mendinginkan suasana yang berpotensi mengeskalasi ini, dengan segera menjawab berbagai tuntutan yang ada," kata Yannes kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Dengan begitu situasi yang memanas, diharapkan dapat berangsung-angsur kondusif. Lalu tidak semakin melebar ke berbagai sektor.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
26 Mei 2026, 19:45 WIB
26 Mei 2026, 18:56 WIB
26 Mei 2026, 15:38 WIB
26 Mei 2026, 15:37 WIB
16 Mei 2026, 17:00 WIB
Terkini
06 Juni 2026, 19:00 WIB
Ranggy menjelaskan bahwa Jetour T2 i-DM akan dipasarkan kepada konsumen di Tanah Air pada semester kedua 2026
06 Juni 2026, 18:08 WIB
PT Pertamina Lubricants bagikan 2.500 oli gratis untuk guru di DKI Jakarta, lengkap dengan servis tanpa biaya
06 Juni 2026, 08:54 WIB
Tampilan desain eksterior Hyundai Ioniq yang dirancang untuk pasar Tiongkok terlihat unik dan futuristik
05 Juni 2026, 19:00 WIB
Martin menuturkan bahwa Marc Marquez menjadi salah satu pembalap yang harus dikalahkan di MotoGP Hungaria 2026
05 Juni 2026, 17:00 WIB
Harga Honda Super One di Jepang adalah Rp 300 jutaan, di Indonesia banderolnya diyakini tidak berbeda jauh
05 Juni 2026, 14:06 WIB
Harga mobil baru berpotensi meningkat dalam waktu dekat jika terus menerus tertekan karena rupiah melemah
05 Juni 2026, 09:00 WIB
GR Garage Auto2000 perkenalkan skuad untuk ambil bagian dalam ajang Kejurnas Mandalika Festival of Speed 2026
05 Juni 2026, 08:05 WIB
Aturan Ganjil Genap Jakarta kembali menjadi andalan untuk memecah kebuntuan di sejumlah jalanan protokol