Wholesales Motor Baru September 2026 Kian Subur, Naik 9,7 Persen
11 Oktober 2026, 09:00 WIB
Yamaha menilai demo yang masih berlangsung sampai hari ini bisa mempengaruhi daya beli masyarakat Indonesia
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Aksi demonstrasi masih berlangsung di sejumlah daerah sampai Minggu (31/08). Terutama di wilayah Jakarta dan sekitar.
Beberapa kantor polisi juga Mako Brimob di Ibu Kota, diserang serta dibakar oleh pendemo yang tidak diketahui identitasnya.
Lalu kediaman sejumlah pejabat negara turut diserang dan dijarah. Seperti rumah Uya Kuya, Ahmad Sahroni, Eko Patrio sampai Sri Mulyani.
Tentu kondisi ini sangat merugikan banyak pihak. Sebab membawa dampak sangat negatif, terkhusus para pelaku usaha.
Selain itu efek negatif berpotensi dialami oleh industri otomotif. Demo bisa mengganggu operasional produksi mereka.
"Namanya industri pasti berharap situasi tetap kondusif. Karena pasti berpengaruh ya, keamanan itu kan (faktor) paling penting," ungkap Rifki Maulana, Manager Publik Relation, YRA & Community Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) di Bandung, Jawa Barat.
Rifki berharap demo yang masih berlangsung sampai hari ini segera mereda. Mengingat kegiatan tersebut sudah berlangsung sejak beberapa hari lalu.
Ia menilai kalau situasi bisa kembali kondusif, maka roda perekonomian di Tanah Air dapat kembali berputar.
Pasalnya jika demo berlangsung lama, maka rasa aman masyarakat di Indonesia pasti akan terpengaruh.
"Namanya prinsip ekonomi, mereka lebih berhati-hati dalam membelanjakan sesuatu karena situasi yang tidak kondusif," Rifki melanjutkan.
Bila situasi seperti sekarang tak mereda, akibatnya mengancam operasional para pabrikan kendaraan di dalam negeri.
Memang jika dilihat tidak hanya berdampak ke daya beli masyarakat. Namun juga mengganggu rantai pasok bahan baku.
Selanjutnya berpotensi menurunkan kepercayaan investor asing. Jadi sangat merugikan pabrikan motor di dalam negeri.
Apalagi kinerja pasar kendaraan roda dua di Tanah Air sedang mengalami kelesuan, kondisi tersebut sudah berjalan sejak awal tahun.
Sehingga aksi demonstrasi yang berkepanjangan, menjadi batu sandungan bagi penjualan motor baru di Indonesia.
"Semoga situasi kondusif sehingga roda ekonomi tetap berjalan dengan semestinya," Rifki menegaskan.
Hal senada turut keluar dilontarkan oleh Yannes Martinus Pasaribu, pakar otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB).
Martinus meminta kepada pemerintah dan para pemegang kebijakan, bisa segera mengatasi aksi demonstrasi.
"Secara terpaksa pemerintah harus mendinginkan suasana yang berpotensi mengeskalasi ini, dengan segera menjawab berbagai tuntutan yang ada," kata Yannes kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Dengan begitu situasi yang memanas, diharapkan dapat berangsung-angsur kondusif. Lalu tidak semakin melebar ke berbagai sektor.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
11 Oktober 2026, 09:00 WIB
24 September 2026, 11:00 WIB
13 September 2026, 17:47 WIB
12 September 2026, 11:00 WIB
12 September 2026, 08:14 WIB
Terkini
16 Oktober 2026, 09:00 WIB
BYD sebut saat ini sudah memenuhi kewajiban TKDN lebih dari 40 persen, siap ikuti regulasi baru tahun depan
16 Oktober 2026, 07:00 WIB
BYD M6 EV menjadi salah satu mobil listrik yang bisa melakukan pengisian daya super cepat hanya lima menit
15 Oktober 2026, 21:00 WIB
Marc Marquez harus merelakan podium tertinggi MotoGP Mandalika 2026 kemarin direbut oleh Marco Bezzecchi
15 Oktober 2026, 19:00 WIB
Blade baterai generasi kedua milik BYD akan mulai digunakan di sejumlah mobil-mobil listrik yang baru dipasarkan
15 Oktober 2026, 17:30 WIB
BYD, Jaecoo dan Wuling berhasil mengisi tiga besar merek mobil Cina terlaris di RI periode September 2026
15 Oktober 2026, 15:00 WIB
Stasiun pengisian daya BYD Flash Charging bisa dimanfaatkan untuk mobil BYD dengan baterai generasi pertama
15 Oktober 2026, 13:00 WIB
Asuransi Astra masuk usia 70 tahun, memperkuat layanan digital melalui myGarda, gardaoto.com, dan Garda Siaga
15 Oktober 2026, 11:00 WIB
Seri GIIAS kembali dilanjutkan, GIIAS Makassar 2026 bakal hadirkan 14 merek kendaraan penumpang ke konsumen