MG S6 EV Sudah Bisa Dipesan, Estimasi Harga Rp 500 Jutaan
14 Oktober 2026, 17:00 WIB
Salah satu strategi yang bisa diterapkan guna menggairahkan pasar motor listrik dengan menurunkan harga produk
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Kinerja pasar motor listrik Indonesia pada 2025 mengalami penurunan tajam. Hal tersebut merupakan imbas ketidakjelasan subsidi dari pemerintah.
Membuat masyarakat menunggu-nunggu bantuan dari pemerintah. Sehingga mereka menahan pembelian kendaraan roda dua setrum.
Pada 2026 pemberian subsidi motor listrik juga masih abu-abu. Berpotensi menghambat laju kinerja industri Electric Vehicle (EV).
“Namun tidak berarti satu-satunya jalan harus subsidi tunai terus-menerus. Ada ruang strategi lain yang dapat menahan penurunan dan perlahan membangun pasar,” ungkap Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank kepada KatadataOTO belum lama ini.
Menurut Josua ada beberapa strategi yang bisa diterapkan oleh para pelaku atau produsen motor listrik di dalam negeri.
Semisal Alva, Gesits sampai Polytron menggantikan sebagian fungsi subsidi dengan penurunan harga lebih agresif.
Selanjutnya menerapkan paket uang muka ringan dan tenor lebih panjang yang sehat. Lalu skema cicilan menempel pada penghematan biaya harian.
“Supaya konsumen merasa arus kasnya lebih aman. Ini penting karena adopsi motor listrik di Indonesia selama ini sangat dipacu insentif,” lanjut Josua.
Kemudian penurunan harga baterai baru motor listrik, diperkirakan makin terasa dalam beberapa waktu ke depan.
Sementara skema sewa baterai maupun jaminan purna jual, dapat menurunkan rasa takut konsumen terhadap biaya servis penampung daya serta nilai jual kembali.
“Ketiga, perluasan jaringan pengisian dan penukaran baterai yang benar-benar mudah dipakai akan memperbesar kelompok pembeli yang tadinya ragu,” tegas Josua.
Sedangkan pada tingkat pemerintahan, Josua menyarankan agar Presiden Prabowo Subianto bersama para menteri dapat menggeser fokus dari subsidi tunai ke insentif non-tunai.
Pemerintah juga bisa memberikan kepastian aturan mengenai motor listrik demi menstimulus masyarakat.
“Misalnya memberi kemudahan lalu lintas atau parkir untuk kendaraan listrik. Seperti pembebasan ganjil genap di DKI Jakarta,” pungkas Josua.
Tidak berhenti sampai di situ saja, pemerintah turut disarankan mendorong standar teknis dan infrastruktur.
Dengan begitu biaya kepemilikan motor listrik dapat turun secara alami. Sehingga lebih terjangkau bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.
Jika seluruh strategi di atas diterapkan, dipercaya dapat mendorong penjualan motor listrik pada 2026.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
14 Oktober 2026, 17:00 WIB
13 Oktober 2026, 20:46 WIB
06 Oktober 2026, 20:00 WIB
29 September 2026, 14:39 WIB
25 September 2026, 19:00 WIB
Terkini
15 Oktober 2026, 07:00 WIB
Sebelum menentukan pilihan, Mitsubishi Destinator bisa jadi bahan pertimbangan konsumen yang membutuhkan
14 Oktober 2026, 22:28 WIB
Itamotor baru saja meluncurkan handrip untuk skutik premium yang diklaim dapat memberikan kenyamanan lebih
14 Oktober 2026, 19:00 WIB
BYD Flash Charging bisa digunakan untuk lini mobil listrik Danza yang dipasarkan di Indonesia, seperti D9
14 Oktober 2026, 17:00 WIB
Mobil listrik MG S6 EV jadi opsi baru SUV keluarga di Indonesia, segera meluncur di pameran otomotif GAW 2026
14 Oktober 2026, 16:22 WIB
Shooting brake perdana dari BYD, Danza Z9GT resmi diluncurkan ke konsumen dengan harga Rp 2,25 miliar
14 Oktober 2026, 16:12 WIB
Pasar mobil listrik kembali kedatangan produk baru, kali ini new Danza D9 dan Z9 GT diluncurkan di Tanah Air
14 Oktober 2026, 11:00 WIB
Leapmotor B03 incar konsumen urban, mobil listrik berukuran kompak yang incar konsumen area perkotaan
14 Oktober 2026, 09:00 WIB
Federal Oil terus melakukan berbagai pendekatan untuk mengembangkan pasar dengan konsistensi inovasi