GAC Aion Kejar TKDN 60 Persen Untuk 2027
16 Oktober 2026, 19:00 WIB
Aturan pengujian baterai motor listrik dinilai perlu dibuat pemerintah agar memberikan keamanan ke konsumen
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Penggunaan motor listrik semakin masif di Indonesia. Kemudian para pabrikan juga menawarkan beragam Electric Vehicle (EV) ke konsumen.
Namun disebut-sebut masih banyak produsen kendaraan roda dua setrum yang enggan melakukan pengetesan keamanan baterai di laboratorium khusus.
Padahal langkah tersebut sangat diperlukan. Mengingat keamanan penampung daya menjadi hal krusial.
Apalagi saat ini banyak pihak yang sudah mulai memproduksi baterai secara mandiri. Baik dari pabrikan maupun perorangan.
“Banyak orang Indonesia yang pintar bisa membuat sendiri (baterai). Tetapi membuat dalam arti bisa berfungsi, namun dalam aspek keamanan mungkin kurang diperhatikan,” ungkap Budi Setiyadi, Ketua Umum Asosiasi Motor Listrik Indonesia (Aismoli) kepada KatadataOTO belum lama ini.
Lebih jauh Budi mengaku kalau mereka selalu diminta untuk meningkatkan kualitas maupun keamanan baterai motor listrik.
Kemudian jangan terlalu banyak teknologi yang digunakan. Artinya harus ada standardisasi mengenai penampung daya tersebut.
Oleh sebab itu Aismoli ingin pemerintah menggandeng Badan Standardisasi Nasional (BSN) guna meningkatkan keamanan baterai.
“Kita mendorong supaya pemerintah mungkin mulai meregulasi ada kewajiban baterai itu harus standardisasi serta dilakukan pengujian terkait masalah safety,” Budi melanjutkan.
Budi pun berharap dengan pemerintah mau membuat peraturan pengujian atau pengetesan penampung daya, maka produk yang ditawarkan ke konsumen semakin aman.
“Kalau (baterai buatan) pabrik mungkin lebih bagus. Kalau UMKM ini yang kemudian barangkali kurang memperhatikan aspek safety,” tegas Budi.
Sebagai informasi memang sebelumnya dikabarkan masih banyak pabrikan motor listrik tidak mau melakukan pengujian komprehensif di laboratorium khusus.
“Saya tidak bisa sebut (nama) produk. Tetapi terus terang APM (Agen Pemegang Merek) penjual motor mostly bilang, kan tidak wajib (uji keamanan baterai EV),” kata Prov. Dr. rer. nat. Evvy Kartini, Founder National Battery Research Institute di Jakarta beberapa waktu lalu.
Dia melanjutkan, dahulu salah satu alasannya adalah tidak ada laboratorium pengujian baterai yang dapat digunakan.
Pihaknya menyebut seiring berjalannya waktu, laboratorium dimaksud akhirnya dibangun untuk mengakomodir kebutuhan pengujian baterai khusus motor listrik.
“Tetapi ketika kita endorse, mereka untuk mengetes alasannya mahal dan lain-lain. Kalau kita bicara nyawa, tidak ada mahal,” pungkas Prof. Evvy.
Ia turut menyorot pada motor listrik dengan baterai-baterai dari Cina tidak dapat menyuguhkan performa seperti seharusnya.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
16 Oktober 2026, 19:00 WIB
16 Oktober 2026, 13:00 WIB
16 Oktober 2026, 11:00 WIB
16 Oktober 2026, 07:00 WIB
15 Oktober 2026, 09:06 WIB
Terkini
20 Oktober 2026, 06:06 WIB
Wuling Eksion sebagai SUV 7 seater sudah dibekali fitur-fitur yang bisa menyesuaikan kebiasaan para pengemudi
19 Oktober 2026, 21:00 WIB
Persaingan Marquez dan Martin dalam perebutan gelar juara dunia kembali tersaji di MotoGP Australia 2026
19 Oktober 2026, 20:56 WIB
AiMOGA bertekad untuk menggabungkan teknologi otomotif dengan robotika agar bisa semakin dikenal orang banyak
19 Oktober 2026, 13:00 WIB
Jelang satu tahun Changan berbisnis di Indonesia, merek asal Cina satu ini berfokus pada lini produk dan jumlah diler
19 Oktober 2026, 10:11 WIB
Tuai respons positif, pemesanan MG ZS Hybrid+ 400 unit dan sudah mulai terkirim ke konsumen sebanyak 100 unit
19 Oktober 2026, 08:24 WIB
Setelah menghadirkan banyak produk hingga merek di Indonesia, Chery Group percaya diri bakal terus raih hasil positif
19 Oktober 2026, 07:02 WIB
Meskipun jadi pemain baru di pasar mobil Indonesia, BYD mampu menorehkan sejumlah capian cukup positif
18 Oktober 2026, 17:00 WIB
Sri Lanka menjadi pasar setir kanan pertama di luar Jepang yang dipilih BYD dalam memasarkan kei car Racco