Ford Dukung Larangan Mobil Cina Mengaspal di Amerika Serikat
17 April 2026, 09:00 WIB
Haka Auto menilai bahwa insentif sudah bukan sesuatu yang dibutuhkan untuk mengembangkan pasar Ev di Tanah Air
Oleh Adi Hidayat
KatadataOTO – Haka Auto selaku mitra diler BYD mengungkap bahwa pasar EV Tanah Air tidak terlalu membutuhkan insentif. Menurut mereka pasar EV masih bisa terus berkembang meski program tersebut dihentikan.
Namun bukan berarti pasar bisa dilepas begitu saja. Pasalnya segmen ini masih terbilang rentan terhadap beberapa gejolak yang ada.
"Kalau saya sih insentif sebaiknyan tidak ada sekalian. Karena ini menyebabkan timbulnua ketidakpastian terhadap pasar kendaraan listrik di Indonesia," ungkap Hariyadi Kaimuddin, CEO Haka Auto, kepada media (02/03).
Menurutnya isu ada tidaknya insentif justru membuat pelanggan menunda melakukan pembelian kendaraan. Situasi itu justru membuat pasar menjadi tertekan dan sukit berkembang.
"Pasar EV lebih baik yang pasti-pasti saja. Jangan digantung karrna pelanggan justru menunda melakukan pembelian kendaraan," tegasnya kemudian.
Ia pun berpendapat bahwa penjualan harga kendaraan listrik belakangan ini sudah semakin terjangkau. Bahkan ada model yang sudah menjadi pilihan untuk mobil utama.
“Teknologi itu semakin lama makin canggih dan harganya pun semakin murah. Jadi sudah bisa bersaing harganya dibandingkan dengan mobil konvensional,” tambah Hariyadi kemudian.
Sebelumnya diberitakan bahwa pemerintah melalui kemeenggan memperpanjang insentif kendaraan listrik.
Sebelumnnya diberitakan bahwa pemerintah melalui Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian akan menghentikan program insentif kendaraan listrik.
Hal ini karena program sudah berjalan selama dua tahun dan memberi hasil cukup menggembirakan. Airlangga menyatakan, para produsen mobil yang masuk melalui skema insentif impor EV disebut sudah mulai melakukan perakitan secara lokal.
Lebih jauh dikatakan, pemerintah telah mengalokasikan insentif dengan anggaran cukup besar selama dua tahun terakhir.
Angkanya mencapai Rp 7 triliun hanya untuk sektor otomotif. Ia menilai jumlah tersebut sudah lebih dari cukup. Dengan progress yang dianggap memadai, pemerintah kini ingin mengalihkan fokus pada pembuatan fasilitas produksi nasional.
Beberapa pabrikan pun sudah mulai melakukan pembangunan fasilitas produksi seperti VinFast dan BYD.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
17 April 2026, 09:00 WIB
16 April 2026, 16:15 WIB
15 April 2026, 07:55 WIB
14 April 2026, 19:30 WIB
14 April 2026, 16:40 WIB
Terkini
18 April 2026, 12:00 WIB
Harga Wuling Eksion digadang-gadang akan lebih murah dari versi MPV yakni Darion, dan sama-sama ada EV dan PHEV
18 April 2026, 10:07 WIB
Toyota Calya mampu menjadi mobil LCGC terlaris pada bulan lalu setelah terdistribusi sebanyak 2.067 unit
18 April 2026, 08:42 WIB
Pameran BMW Festival of Joy dibuka untuk umum 17-19 April 2026 dan bisa dikunjungi tanpa dikenakan biaya
17 April 2026, 14:33 WIB
Ajang reli ini untuk pertama kalinya dihelat di Jakarta, sirkuit Ancol bakal disulap jadi trek Rallycross
17 April 2026, 09:00 WIB
Bos Ford menilai kehadiran mobil Cina di pasar otomotif Amerika Serikat bisa mengganggu bisnis mereka
17 April 2026, 07:42 WIB
Hyundai menyiapkan mobil pengganti untuk konsumen yang kendaraannya harus menginap di bengkel resmi mereka
17 April 2026, 06:00 WIB
Sebelum akhir pekan, SIM keliling Bandung hadir demi memfasilitasi kebutuhan para pengendara di Kota Kembang
17 April 2026, 06:00 WIB
Ganjil genap Jakarta masih diterapkan meski Aparatur Sipil Negara tengah menjalankan kebijakan Work From Home