BYD Bakal Produksi Blade Baterai Generasi Kedua di Subang
15 Oktober 2026, 19:00 WIB
Haka Auto menilai bahwa insentif sudah bukan sesuatu yang dibutuhkan untuk mengembangkan pasar Ev di Tanah Air
Oleh Adi Hidayat
KatadataOTO – Haka Auto selaku mitra diler BYD mengungkap bahwa pasar EV Tanah Air tidak terlalu membutuhkan insentif. Menurut mereka pasar EV masih bisa terus berkembang meski program tersebut dihentikan.
Namun bukan berarti pasar bisa dilepas begitu saja. Pasalnya segmen ini masih terbilang rentan terhadap beberapa gejolak yang ada.
"Kalau saya sih insentif sebaiknyan tidak ada sekalian. Karena ini menyebabkan timbulnua ketidakpastian terhadap pasar kendaraan listrik di Indonesia," ungkap Hariyadi Kaimuddin, CEO Haka Auto, kepada media (02/03).
Menurutnya isu ada tidaknya insentif justru membuat pelanggan menunda melakukan pembelian kendaraan. Situasi itu justru membuat pasar menjadi tertekan dan sukit berkembang.
"Pasar EV lebih baik yang pasti-pasti saja. Jangan digantung karrna pelanggan justru menunda melakukan pembelian kendaraan," tegasnya kemudian.
Ia pun berpendapat bahwa penjualan harga kendaraan listrik belakangan ini sudah semakin terjangkau. Bahkan ada model yang sudah menjadi pilihan untuk mobil utama.
“Teknologi itu semakin lama makin canggih dan harganya pun semakin murah. Jadi sudah bisa bersaing harganya dibandingkan dengan mobil konvensional,” tambah Hariyadi kemudian.
Sebelumnya diberitakan bahwa pemerintah melalui kemeenggan memperpanjang insentif kendaraan listrik.
Sebelumnnya diberitakan bahwa pemerintah melalui Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian akan menghentikan program insentif kendaraan listrik.
Hal ini karena program sudah berjalan selama dua tahun dan memberi hasil cukup menggembirakan. Airlangga menyatakan, para produsen mobil yang masuk melalui skema insentif impor EV disebut sudah mulai melakukan perakitan secara lokal.
Lebih jauh dikatakan, pemerintah telah mengalokasikan insentif dengan anggaran cukup besar selama dua tahun terakhir.
Angkanya mencapai Rp 7 triliun hanya untuk sektor otomotif. Ia menilai jumlah tersebut sudah lebih dari cukup. Dengan progress yang dianggap memadai, pemerintah kini ingin mengalihkan fokus pada pembuatan fasilitas produksi nasional.
Beberapa pabrikan pun sudah mulai melakukan pembangunan fasilitas produksi seperti VinFast dan BYD.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
15 Oktober 2026, 19:00 WIB
15 Oktober 2026, 17:30 WIB
15 Oktober 2026, 15:00 WIB
15 Oktober 2026, 09:06 WIB
14 Oktober 2026, 19:00 WIB
Terkini
15 Oktober 2026, 21:00 WIB
Marc Marquez harus merelakan podium tertinggi MotoGP Mandalika 2026 kemarin direbut oleh Marco Bezzecchi
15 Oktober 2026, 19:00 WIB
Blade baterai generasi kedua milik BYD akan mulai digunakan di sejumlah mobil-mobil listrik yang baru dipasarkan
15 Oktober 2026, 17:30 WIB
BYD, Jaecoo dan Wuling berhasil mengisi tiga besar merek mobil Cina terlaris di RI periode September 2026
15 Oktober 2026, 15:00 WIB
Stasiun pengisian daya BYD Flash Charging bisa dimanfaatkan untuk mobil BYD dengan baterai generasi pertama
15 Oktober 2026, 13:00 WIB
Asuransi Astra masuk usia 70 tahun, memperkuat layanan digital melalui myGarda, gardaoto.com, dan Garda Siaga
15 Oktober 2026, 11:00 WIB
Seri GIIAS kembali dilanjutkan, GIIAS Makassar 2026 bakal hadirkan 14 merek kendaraan penumpang ke konsumen
15 Oktober 2026, 09:06 WIB
Setelah menjadi perbincangan, BYD Atto 2 akhirnya dipajang dan dipamerkan kepada konsumen di Indonesia
15 Oktober 2026, 07:00 WIB
Sebelum menentukan pilihan, Mitsubishi Destinator bisa jadi bahan pertimbangan konsumen yang membutuhkan