Penjualan Mobil Cina Anjlok 13 Persen, Insentif Jadi Biang Kerok
08 Juli 2026, 09:00 WIB
Haka Auto menilai bahwa insentif sudah bukan sesuatu yang dibutuhkan untuk mengembangkan pasar Ev di Tanah Air
Oleh Adi Hidayat
KatadataOTO – Haka Auto selaku mitra diler BYD mengungkap bahwa pasar EV Tanah Air tidak terlalu membutuhkan insentif. Menurut mereka pasar EV masih bisa terus berkembang meski program tersebut dihentikan.
Namun bukan berarti pasar bisa dilepas begitu saja. Pasalnya segmen ini masih terbilang rentan terhadap beberapa gejolak yang ada.
"Kalau saya sih insentif sebaiknyan tidak ada sekalian. Karena ini menyebabkan timbulnua ketidakpastian terhadap pasar kendaraan listrik di Indonesia," ungkap Hariyadi Kaimuddin, CEO Haka Auto, kepada media (02/03).
Menurutnya isu ada tidaknya insentif justru membuat pelanggan menunda melakukan pembelian kendaraan. Situasi itu justru membuat pasar menjadi tertekan dan sukit berkembang.
"Pasar EV lebih baik yang pasti-pasti saja. Jangan digantung karrna pelanggan justru menunda melakukan pembelian kendaraan," tegasnya kemudian.
Ia pun berpendapat bahwa penjualan harga kendaraan listrik belakangan ini sudah semakin terjangkau. Bahkan ada model yang sudah menjadi pilihan untuk mobil utama.
“Teknologi itu semakin lama makin canggih dan harganya pun semakin murah. Jadi sudah bisa bersaing harganya dibandingkan dengan mobil konvensional,” tambah Hariyadi kemudian.
Sebelumnya diberitakan bahwa pemerintah melalui kemeenggan memperpanjang insentif kendaraan listrik.
Sebelumnnya diberitakan bahwa pemerintah melalui Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian akan menghentikan program insentif kendaraan listrik.
Hal ini karena program sudah berjalan selama dua tahun dan memberi hasil cukup menggembirakan. Airlangga menyatakan, para produsen mobil yang masuk melalui skema insentif impor EV disebut sudah mulai melakukan perakitan secara lokal.
Lebih jauh dikatakan, pemerintah telah mengalokasikan insentif dengan anggaran cukup besar selama dua tahun terakhir.
Angkanya mencapai Rp 7 triliun hanya untuk sektor otomotif. Ia menilai jumlah tersebut sudah lebih dari cukup. Dengan progress yang dianggap memadai, pemerintah kini ingin mengalihkan fokus pada pembuatan fasilitas produksi nasional.
Beberapa pabrikan pun sudah mulai melakukan pembangunan fasilitas produksi seperti VinFast dan BYD.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
08 Juli 2026, 09:00 WIB
29 Juni 2026, 07:00 WIB
24 Juni 2026, 23:00 WIB
24 Juni 2026, 11:00 WIB
20 Juni 2026, 11:00 WIB
Terkini
17 Juli 2026, 18:00 WIB
Diler perdana Leapmotor dibuka di kawasan PIK, gabung deretan grup brand Stellantis lain seperti Citroen
17 Juli 2026, 16:23 WIB
PUBG Mobile menjalin kerja sama dengan Ferrari dan Scuderia Ferrari HP, tawarkan pengalaman baru buat pemain
17 Juli 2026, 09:00 WIB
Selama PRJ 2026 Wahana mencatatkan penjualan positif, sebab ada 6.500 motor Honda yang terpesan di sana
17 Juli 2026, 06:00 WIB
Ganjil Genap Jakarta merupakan salah satu sistem andalan pemerintah Ibu Kota dalam mengurangi kemacetan
17 Juli 2026, 06:00 WIB
Sebelum akhir pekan, SIM keliling Bandung menjadi opsi terbaik untuk mengurus masa berlaku dokumen berkendara
17 Juli 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Jakarta masih tersedia di lima tempat berbeda hari ini sebelum akhir pekan, simak informasinya
16 Juli 2026, 22:00 WIB
MG ZS Hybrid+ hadir kembali di Indonesia dengan mengusung berbagai teknologi baru terutama keselamatan
16 Juli 2026, 21:00 WIB
KLHN 2026 menjadi wadah para tenaga kerja Honda untuk pengembangan diri dalam melayani para pelanggan