10 Merek Mobil Terlaris September 2026: BYD Berjaya
13 Oktober 2026, 19:35 WIB
Jepang berencana melonggarkan aturan keselamatan kendaraan yang dinilai terlalu ketat oleh pemerintah Amerika Serikat
Oleh Adi Hidayat
KatadataOTO – Jepang mempertimbangkan meninjau ulang standar keselamatan mobil demi mencapai kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat. Wacana ini keluar setelah Ryosei Akazawa, Chief Negotiator Japan memulai diskusi terkait tarif impor yang diterapkan negeri Paman Sam.
Selama ini produsen mobil Amerika Serikat mengeluhkan betapa sulitnya masuk ke pasar mobil Jepang. Salah satunya adalah tingginya standar keselamatan kendaraan sehingga sulit untuk bisa dipenuhi.
Bahkan U.S. Trade Representative bulan lalu menerima penolakan Jepang terhadap sertifikasi standar keselamatan Amerika Serikat. Negeri Matahari Terbit itu meminta agar perlindungan yang diberikan bisa sesuai dengan aturan serta telah melawati pengujian unik.
Namun Shigeru Ishiba, Perdana Menteri Jepang mengungkap masih ada ada ruang untuk melonggarkan beberapa kriteria keselamatan. Termasuk peraturan yang berkaitan dengan pengujian crash test.
“Kami harus mengakui bahwa ada perbedaan dalam kondisi lalu lintas,” ungkapnya dilansir Japan Times (23/04).
Ia pun mengungkap bahwa saat ini Jepang sangat fokus pada keselamatan para pejalan kaki sementara Amerika Serikat menekankan perlindungan penumpang kendaraan dari tabrakan.
Jepang sendiri berupaya untuk mempersiapkan penawaran secara matang agar bisa mencabut tarif impor yang ditetapkan Amerika secara penuh. Terlebih sebelumnya mereka dikenai tarif 24 persen tapi berhasil turun jadi 10 persen.
Apa yang sudah dilakukan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat memang terbilang kontroversial. Bahkan keputusannya sudah membuat banyak perusahaan di bidang otomotif kelabakan.
Pasalnya Amerika Serikat selama ini sudah menjadi salah satu pasar terbesar otomotif Jepang. Adanya pembatasan tentu menjadi batu sandungan bagi industri mereka.
Katsunobu Kato, Menteri Keuangan Jepang pun telah dijadwalkan untuk melakukan pertemuan dengan Scott Bessent, Menteri Keuangan AS. Ada banyak hal kabarnya akan dibahas namun belum ada tanggapan resmi dari pemerintah.
“Apapun kesepakatannya harus menguntungkan kedua belah pihak. Jika hanya satu untung dan lain rugi itu tidak akan menjadi contoh bagi dunia sementara kami ingin menjadi contoh," katanya.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
13 Oktober 2026, 19:35 WIB
12 Oktober 2026, 21:50 WIB
12 Oktober 2026, 07:00 WIB
27 September 2026, 09:55 WIB
13 Agustus 2026, 18:54 WIB
Terkini
16 Oktober 2026, 09:00 WIB
BYD sebut saat ini sudah memenuhi kewajiban TKDN lebih dari 40 persen, siap ikuti regulasi baru tahun depan
16 Oktober 2026, 07:00 WIB
BYD M6 EV menjadi salah satu mobil listrik yang bisa melakukan pengisian daya super cepat hanya lima menit
15 Oktober 2026, 21:00 WIB
Marc Marquez harus merelakan podium tertinggi MotoGP Mandalika 2026 kemarin direbut oleh Marco Bezzecchi
15 Oktober 2026, 19:00 WIB
Blade baterai generasi kedua milik BYD akan mulai digunakan di sejumlah mobil-mobil listrik yang baru dipasarkan
15 Oktober 2026, 17:30 WIB
BYD, Jaecoo dan Wuling berhasil mengisi tiga besar merek mobil Cina terlaris di RI periode September 2026
15 Oktober 2026, 15:00 WIB
Stasiun pengisian daya BYD Flash Charging bisa dimanfaatkan untuk mobil BYD dengan baterai generasi pertama
15 Oktober 2026, 13:00 WIB
Asuransi Astra masuk usia 70 tahun, memperkuat layanan digital melalui myGarda, gardaoto.com, dan Garda Siaga
15 Oktober 2026, 11:00 WIB
Seri GIIAS kembali dilanjutkan, GIIAS Makassar 2026 bakal hadirkan 14 merek kendaraan penumpang ke konsumen