Simpang Siur Insentif Motor Listrik, ESDM: Perlu Perpres
03 September 2026, 07:00 WIB
Airlangga mengaku tengah melakukan evaluasi insentif otomotif untuk di 2026 agar industri bisa tetap berjalan
Oleh Adi Hidayat
KatadataOTO – Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengungkap tengah mengkaji kebijakan insentif otomotif buat di 2026. Menurutnya, sektor ini sebenarnya sudah mendapat dukungan fiskal yang besar.
Menurutnya, dalam dua tahun terakhir pemerintah telah memberi insentif otomotif hingga Rp 7 triliun. Hasilnya pun terbilang baik karena adanya peningkatan penjualan kendaraan listrik yang cukup masif.
"Otomotif sudah diberikan insentif selama dua tahun terakhir dan nilainya Rp 7 triliun. Investasi di sektor otomotif terutama EV pun sudah meningkat," ungkap Airlangga dilansir Antara.
Ia pun menambahkan bahwa saat ini sejumlah produsen kendaraan listrik global telah masuk ke Indonesia. Mulai dari VinFast hingga BYD telah berinvestasi di Indonesia, mengikuti langkah Hyundai yang lebih dulu menanamkan modal.
Sehingga menurutnya diperlukan evaluasi kebijakan agar industri bisa terus tumbuh. Pemerintah ingin memastikan arah kebijakan berikutnya tidak sekadar melanjutkan insentif lama melainkan benar-benar mendukung penguatan industri otomotif nasional, termasuk pengembangan mobil nasional.
"Sehingga ke depannya ini akan didorong untuk (pengembangan) mobil nasional," tambah Airlangga.
Lebih lanjut, terkait usulan lanjutan dari Kementerian Perindustrian, Airlangga menyebut pembahasan masih difokuskan pada kajian yang lebih mendasar.
Evaluasi diperlukan secara lintas segmen, mulai dari kendaraan ramah lingkungan berbiaya rendah (LCGC) hingga kendaraan listrik dan teknologi hibrida.
"Karena yang lebih substantial kan berarti harus mulai dari evaluasi dari LCGC sampai kepada EV, Plug-in hybrid dan hybrid. Jadi sifatnya lebih menyeluruh,” tegasnya.
Sementara itu Bob Azam, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menyampaikan masukan untuk program berikutnya. Menurut dia, sektor otomotif butuh pemerintah agar lebih berani mengambil counter-cyclical atau memberikan stimulus saat ekonomi melambat.
“Kita butuh program bersifat stimulus bukan sekadar insentif sekali pakai atau disposable consumption. Dan yang paling besar daya ungkitnya adalah kelas menengah karena jika mereka diberikan stimulus, dampaknya akan ke mana-mana,” ungkapnya di Bandung beberapa waktu lalu.
Menurutnya bila kelas menengah diberikan ruang, mereka akan memiliki peran lebih strategis karena konsumsinya mampu menggerakkan ekonomi secara lebih luas, mulai dari sisi industri manufaktur, pembiayaan hingga rantai pasok konsumen.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
03 September 2026, 07:00 WIB
13 Agustus 2026, 18:54 WIB
12 Agustus 2026, 14:50 WIB
05 Agustus 2026, 18:00 WIB
28 Juli 2026, 22:44 WIB
Terkini
04 September 2026, 13:00 WIB
Daihatsu Kumpul Sahabat Batam terselenggara di pusat perbelanjaan atas beberapa masukan dari para konsumen
04 September 2026, 11:00 WIB
Para bikers wajib menyambangi IMHAX 2026 untuk melengkapi perlengkapan berkendara yang berkeselamatan
04 September 2026, 09:00 WIB
Pameran IEE Series 2026 memasuki Energy Week, ikut dukung ekosistem kendaraan energi terbarukan di Indonesia
04 September 2026, 07:00 WIB
AUKSI memanfaatkan momentum hari pelanggan nasional untuk memberikan persembahan istimewa bagi peserta lelang
04 September 2026, 06:00 WIB
Masih ada lima lokasi SIM keliling Jakarta tersedia hari ini, melayani prosedur perpanjangan masa berlaku
04 September 2026, 06:00 WIB
Salah satu lokasi SIM keliling Bandung yang melayani pada pengendara sejak pagi, ada di BPR KS Wastu Kencana
04 September 2026, 06:00 WIB
Ganjil Genap Jakarta masih menjadi andalan pemerintah Ibu Kota dalam mengendalikan jumlah kendaraan pribadi
03 September 2026, 16:46 WIB
Daihatsu Kumpul Sahabat menyambangi kota Batam dengan segala keunggulan masyarakat untuk bermobilitas