Peluang LCGC Bangkit Setelah Insentif Mobil Listrik Berakhir
05 Februari 2026, 08:00 WIB
Airlangga mengaku tengah melakukan evaluasi insentif otomotif untuk di 2026 agar industri bisa tetap berjalan
Oleh Adi Hidayat
KatadataOTO – Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengungkap tengah mengkaji kebijakan insentif otomotif buat di 2026. Menurutnya, sektor ini sebenarnya sudah mendapat dukungan fiskal yang besar.
Menurutnya, dalam dua tahun terakhir pemerintah telah memberi insentif otomotif hingga Rp 7 triliun. Hasilnya pun terbilang baik karena adanya peningkatan penjualan kendaraan listrik yang cukup masif.
"Otomotif sudah diberikan insentif selama dua tahun terakhir dan nilainya Rp 7 triliun. Investasi di sektor otomotif terutama EV pun sudah meningkat," ungkap Airlangga dilansir Antara.
Ia pun menambahkan bahwa saat ini sejumlah produsen kendaraan listrik global telah masuk ke Indonesia. Mulai dari VinFast hingga BYD telah berinvestasi di Indonesia, mengikuti langkah Hyundai yang lebih dulu menanamkan modal.
Sehingga menurutnya diperlukan evaluasi kebijakan agar industri bisa terus tumbuh. Pemerintah ingin memastikan arah kebijakan berikutnya tidak sekadar melanjutkan insentif lama melainkan benar-benar mendukung penguatan industri otomotif nasional, termasuk pengembangan mobil nasional.
"Sehingga ke depannya ini akan didorong untuk (pengembangan) mobil nasional," tambah Airlangga.
Lebih lanjut, terkait usulan lanjutan dari Kementerian Perindustrian, Airlangga menyebut pembahasan masih difokuskan pada kajian yang lebih mendasar.
Evaluasi diperlukan secara lintas segmen, mulai dari kendaraan ramah lingkungan berbiaya rendah (LCGC) hingga kendaraan listrik dan teknologi hibrida.
"Karena yang lebih substantial kan berarti harus mulai dari evaluasi dari LCGC sampai kepada EV, Plug-in hybrid dan hybrid. Jadi sifatnya lebih menyeluruh,” tegasnya.
Sementara itu Bob Azam, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menyampaikan masukan untuk program berikutnya. Menurut dia, sektor otomotif butuh pemerintah agar lebih berani mengambil counter-cyclical atau memberikan stimulus saat ekonomi melambat.
“Kita butuh program bersifat stimulus bukan sekadar insentif sekali pakai atau disposable consumption. Dan yang paling besar daya ungkitnya adalah kelas menengah karena jika mereka diberikan stimulus, dampaknya akan ke mana-mana,” ungkapnya di Bandung beberapa waktu lalu.
Menurutnya bila kelas menengah diberikan ruang, mereka akan memiliki peran lebih strategis karena konsumsinya mampu menggerakkan ekonomi secara lebih luas, mulai dari sisi industri manufaktur, pembiayaan hingga rantai pasok konsumen.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
05 Februari 2026, 08:00 WIB
03 Februari 2026, 21:00 WIB
02 Februari 2026, 12:00 WIB
30 Januari 2026, 19:00 WIB
29 Januari 2026, 11:00 WIB
Terkini
10 Februari 2026, 21:00 WIB
Kemenhub terus melakukan sosialisasi seritifkasi untuk bengkel-bengkel modifikasi yang ada di Indonesia
10 Februari 2026, 20:30 WIB
Suzuki Jimny 5 Door yang merupakan pemenang kontes modifikasi berskala nasional tampil memukau di IIMS 2026
10 Februari 2026, 20:00 WIB
SUV PHEV Denza B5 sebatas dipamerkan di BCA Expoversary, namun sejumlah konsumen berniat melakukan pemesanan
10 Februari 2026, 19:01 WIB
Jaecoo J5 EV punya versi hybrid-nya, dibawa ke Indonesia apabila konsumen tertarik dengan model hybrid anyar
10 Februari 2026, 18:30 WIB
Bridgestone Tire Indonesia telah berkoordinasi dengan supplier lokal untuk bisa terus meningkatkan TKDN
10 Februari 2026, 18:00 WIB
BYD jadi merek mobil Cina dengan penjualan terbanyak di Januari 2026 disusul sub merek Chery Group, Jaecoo
10 Februari 2026, 17:46 WIB
Selama IIMS 2026 berlangsung, ada diskon Suzuki S-Presso yang bisa dimannfaatkan para pengunjung pameran
10 Februari 2026, 15:00 WIB
GWM Tank 500 diesel yang baru saja diluncurkan, disebutkan telah mengumpulkan puluhan pemesanan di IIMS 2026