Komitmen Leapmotor Penuhi TKDN 60 Persen, Potensi Harga Naik
21 Oktober 2026, 22:50 WIB
Airlangga mengaku tengah melakukan evaluasi insentif otomotif untuk di 2026 agar industri bisa tetap berjalan
Oleh Adi Hidayat
KatadataOTO – Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengungkap tengah mengkaji kebijakan insentif otomotif buat di 2026. Menurutnya, sektor ini sebenarnya sudah mendapat dukungan fiskal yang besar.
Menurutnya, dalam dua tahun terakhir pemerintah telah memberi insentif otomotif hingga Rp 7 triliun. Hasilnya pun terbilang baik karena adanya peningkatan penjualan kendaraan listrik yang cukup masif.
"Otomotif sudah diberikan insentif selama dua tahun terakhir dan nilainya Rp 7 triliun. Investasi di sektor otomotif terutama EV pun sudah meningkat," ungkap Airlangga dilansir Antara.
Ia pun menambahkan bahwa saat ini sejumlah produsen kendaraan listrik global telah masuk ke Indonesia. Mulai dari VinFast hingga BYD telah berinvestasi di Indonesia, mengikuti langkah Hyundai yang lebih dulu menanamkan modal.
Sehingga menurutnya diperlukan evaluasi kebijakan agar industri bisa terus tumbuh. Pemerintah ingin memastikan arah kebijakan berikutnya tidak sekadar melanjutkan insentif lama melainkan benar-benar mendukung penguatan industri otomotif nasional, termasuk pengembangan mobil nasional.
"Sehingga ke depannya ini akan didorong untuk (pengembangan) mobil nasional," tambah Airlangga.
Lebih lanjut, terkait usulan lanjutan dari Kementerian Perindustrian, Airlangga menyebut pembahasan masih difokuskan pada kajian yang lebih mendasar.
Evaluasi diperlukan secara lintas segmen, mulai dari kendaraan ramah lingkungan berbiaya rendah (LCGC) hingga kendaraan listrik dan teknologi hibrida.
"Karena yang lebih substantial kan berarti harus mulai dari evaluasi dari LCGC sampai kepada EV, Plug-in hybrid dan hybrid. Jadi sifatnya lebih menyeluruh,” tegasnya.
Sementara itu Bob Azam, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menyampaikan masukan untuk program berikutnya. Menurut dia, sektor otomotif butuh pemerintah agar lebih berani mengambil counter-cyclical atau memberikan stimulus saat ekonomi melambat.
“Kita butuh program bersifat stimulus bukan sekadar insentif sekali pakai atau disposable consumption. Dan yang paling besar daya ungkitnya adalah kelas menengah karena jika mereka diberikan stimulus, dampaknya akan ke mana-mana,” ungkapnya di Bandung beberapa waktu lalu.
Menurutnya bila kelas menengah diberikan ruang, mereka akan memiliki peran lebih strategis karena konsumsinya mampu menggerakkan ekonomi secara lebih luas, mulai dari sisi industri manufaktur, pembiayaan hingga rantai pasok konsumen.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
21 Oktober 2026, 22:50 WIB
13 Oktober 2026, 19:35 WIB
12 Oktober 2026, 21:50 WIB
12 Oktober 2026, 07:00 WIB
27 September 2026, 09:55 WIB
Terkini
22 Oktober 2026, 15:44 WIB
Debut di Chery Brand Night, Tiggo X7 dan all new Tiggo 7 jadi amunisi baru untuk penjualan di pasar global
22 Oktober 2026, 13:08 WIB
Toyota Innova Zenix Hybrid kini dilengkapi T Intouch terbaru, berbagai fungsi kendaraan dapat diakses dari HP
22 Oktober 2026, 11:00 WIB
Bing Bang Auto Festival 2026 akan menyuguhkan kejutan dan menjadi panggung untuk mobil serta motor listrik
22 Oktober 2026, 09:00 WIB
Usulan insentif mobil hybrid dinilai kurang tepat, seharusnya pemerintah lebih fokus pada bantuan untuk EV
22 Oktober 2026, 07:00 WIB
iCar Mod Fest menjadi tempat menampilkan karya kreatif konsumen dalam melakukan modifikasi pada kendaraan
21 Oktober 2026, 22:50 WIB
Leapmotor berusaha mematuhi mandatori TKDN 60 persen di 2027 yang telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia
21 Oktober 2026, 17:00 WIB
LCR Honda menunjuk David Alonso sebagai rekan Johann Zarco dan melengkapi susunan pembalap MotoGP 2027
21 Oktober 2026, 15:00 WIB
Bersamaan dengan acara Chery International User Summit 2026, iCar V25 resmi meluncur dan berpeluang masuk RI