BYD Sebut Insentif Masih Signifikan Dongkrak Penjualan EV
28 Februari 2026, 19:59 WIB
Airlangga mengaku tengah melakukan evaluasi insentif otomotif untuk di 2026 agar industri bisa tetap berjalan
Oleh Adi Hidayat
KatadataOTO – Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengungkap tengah mengkaji kebijakan insentif otomotif buat di 2026. Menurutnya, sektor ini sebenarnya sudah mendapat dukungan fiskal yang besar.
Menurutnya, dalam dua tahun terakhir pemerintah telah memberi insentif otomotif hingga Rp 7 triliun. Hasilnya pun terbilang baik karena adanya peningkatan penjualan kendaraan listrik yang cukup masif.
"Otomotif sudah diberikan insentif selama dua tahun terakhir dan nilainya Rp 7 triliun. Investasi di sektor otomotif terutama EV pun sudah meningkat," ungkap Airlangga dilansir Antara.
Ia pun menambahkan bahwa saat ini sejumlah produsen kendaraan listrik global telah masuk ke Indonesia. Mulai dari VinFast hingga BYD telah berinvestasi di Indonesia, mengikuti langkah Hyundai yang lebih dulu menanamkan modal.
Sehingga menurutnya diperlukan evaluasi kebijakan agar industri bisa terus tumbuh. Pemerintah ingin memastikan arah kebijakan berikutnya tidak sekadar melanjutkan insentif lama melainkan benar-benar mendukung penguatan industri otomotif nasional, termasuk pengembangan mobil nasional.
"Sehingga ke depannya ini akan didorong untuk (pengembangan) mobil nasional," tambah Airlangga.
Lebih lanjut, terkait usulan lanjutan dari Kementerian Perindustrian, Airlangga menyebut pembahasan masih difokuskan pada kajian yang lebih mendasar.
Evaluasi diperlukan secara lintas segmen, mulai dari kendaraan ramah lingkungan berbiaya rendah (LCGC) hingga kendaraan listrik dan teknologi hibrida.
"Karena yang lebih substantial kan berarti harus mulai dari evaluasi dari LCGC sampai kepada EV, Plug-in hybrid dan hybrid. Jadi sifatnya lebih menyeluruh,” tegasnya.
Sementara itu Bob Azam, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menyampaikan masukan untuk program berikutnya. Menurut dia, sektor otomotif butuh pemerintah agar lebih berani mengambil counter-cyclical atau memberikan stimulus saat ekonomi melambat.
“Kita butuh program bersifat stimulus bukan sekadar insentif sekali pakai atau disposable consumption. Dan yang paling besar daya ungkitnya adalah kelas menengah karena jika mereka diberikan stimulus, dampaknya akan ke mana-mana,” ungkapnya di Bandung beberapa waktu lalu.
Menurutnya bila kelas menengah diberikan ruang, mereka akan memiliki peran lebih strategis karena konsumsinya mampu menggerakkan ekonomi secara lebih luas, mulai dari sisi industri manufaktur, pembiayaan hingga rantai pasok konsumen.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
28 Februari 2026, 19:59 WIB
24 Februari 2026, 11:01 WIB
23 Februari 2026, 17:00 WIB
23 Februari 2026, 11:00 WIB
23 Februari 2026, 09:00 WIB
Terkini
01 Maret 2026, 16:00 WIB
Mitsubishi Indonesia memastikan peluncuran model hybrid pertamanya di Tanah Air dalam waktu dekat ini
01 Maret 2026, 15:59 WIB
Duo Aprilia, Marco Bezzecchi dan Raul Fernandez raup poin dan catatkan hasil brilian di MotoGP Thailand 2026
01 Maret 2026, 14:00 WIB
Geely EX2 akhirnya mulai dikirimkan ke pelanggan menjelang musim mudik Lebaran yang segera berlangsung
01 Maret 2026, 12:00 WIB
Gaikindo sebut produsen perlu diberi waktu rasional untuk produksi pikap sesuai kebutuhan Koperasi Merah Putih
01 Maret 2026, 10:00 WIB
Yamaha menghadirkan beragam promo perawatan sepeda motor, lalu mendirikan Pos Jaga selama Lebaran 2026
01 Maret 2026, 08:26 WIB
Di awal Maret 2026 atau jelang Lebaran 2026, Pertamina menerapkan kenaikan harga BBM untuk seluruh produk
28 Februari 2026, 19:59 WIB
Insentif memiliki peran penting mendongkrak angka penjualan berbagai produsen EV, tidak terkecuali BYD
28 Februari 2026, 15:54 WIB
Pedro Acosta meraih kemenangan dramatis atas Marc Marquez dalam ajang sprint race MotoGP Thailand 2026