BYD Flash Charging Diluncurkan, Ngecas EV Hanya Lima Menit
14 Oktober 2026, 19:00 WIB
Mobil hybrid dinilai menjadi salah satu produk yang paling rasional untuk dipasarkan kepada para konsumen
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Kejelasan insentif mobil listrik completely built up (CBU) masih belum ada kejelasan. Pemerintah tak kunjung memberikan informasi bagaimana kelanjutan bantuan tersebut.
Hal itu mendorong para pabrikan Cina untuk mengatur ulang strategi mereka. Termasuk dalam menghadirkan sebuah program.
Saat ini banyak produsen asal Tiongkok meniagakan mobil listrik buat konsumen di dalam negeri. Namun dengan tidak adanya insentif, mereka diprediksi akan mengalihkan fokus.
“Banyak pabrikan Cina cenderung lebih memasarkan mobil hybrid di 2026,” ungkap Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif dan akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Menurut Yannes, tanpa bantuan dari pemerintah harga mobil listrik entry level akan menjadi lebih mahal.
Hal tersebut telah tampak pada beberapa produk. Sehingga kendaraan roda empat setrum itu dianggap sudah tidak seksi lagi untuk dimiliki oleh masyarakat.
Ditambah infrastruktur seperti stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) belum merata. Masih terfokus di sebagian wilayah di Pulau Jawa.
“Sedangkan hybrid bisa pakai bensin biasa dengan harga jual lebih mudah ditekan,” Yannes melanjutkan.
Yannes mengungkapkan, ke depan akan banyak pabrikan Cina yang memasarkan mobil hybrid dengan harga terjangkau.
Jadi bisa menarik perhatian masyarakat maupun pencinta otomotif, saat insentif kendaraan roda empat setrum benar-benar dicabut.
“Namun strategi perang harga mobil hybrid ini diprediksi akan menahan kebangkitan LCGC bermesin bensin,” tutur dia.
Dengan begitu produsen asal Jepang yang biasa meniagakan produk di segmen LCGC juga harus bersiap.
Seperti menghadirkan kendaraan roda empat, dengan harga lebih kompetitif agar bisa berkompetisi bersama produk Cina.
“HEV dan PHEV dari Jepang juga bakal bersaing keras dengan Cina,” tegas Yannes.
Sebagai informasi, insentif mobil listrik CBU sudah berakhir sejak 31 Desember 2026. Sampai sekarang pemerintah belum memberikan kepastian apakah akan dilanjutkan atau tidak.
Kondisi yang ada membuat konsumen di Tanah Air diprediksi akan berpaling dari EV entry level.
“Sementara BEV impor entry level bakal kehilangan daya tariknya di mass market,” pungkas Yannes.
Ini terjadi karena beberapa aspek pendorong. Misalnya, brand, fitur maupun desain bakal jadi penentu.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
14 Oktober 2026, 19:00 WIB
14 Oktober 2026, 17:00 WIB
14 Oktober 2026, 16:22 WIB
14 Oktober 2026, 16:12 WIB
14 Oktober 2026, 11:00 WIB
Terkini
14 Oktober 2026, 22:28 WIB
Itamotor baru saja meluncurkan handrip untuk skutik premium yang diklaim dapat memberikan kenyamanan lebih
14 Oktober 2026, 19:00 WIB
BYD Flash Charging bisa digunakan untuk lini mobil listrik Danza yang dipasarkan di Indonesia, seperti D9
14 Oktober 2026, 17:00 WIB
Mobil listrik MG S6 EV jadi opsi baru SUV keluarga di Indonesia, segera meluncur di pameran otomotif GAW 2026
14 Oktober 2026, 16:22 WIB
Shooting brake perdana dari BYD, Danza Z9GT resmi diluncurkan ke konsumen dengan harga Rp 2,25 miliar
14 Oktober 2026, 16:12 WIB
Pasar mobil listrik kembali kedatangan produk baru, kali ini new Danza D9 dan Z9 GT diluncurkan di Tanah Air
14 Oktober 2026, 11:00 WIB
Leapmotor B03 incar konsumen urban, mobil listrik berukuran kompak yang incar konsumen area perkotaan
14 Oktober 2026, 09:00 WIB
Federal Oil terus melakukan berbagai pendekatan untuk mengembangkan pasar dengan konsistensi inovasi
14 Oktober 2026, 07:00 WIB
Aion UT Urban mengisi celah kosong tipe Standard dan Premium, jadi sesusai kebutuhan konsumen di Indonesia