BYD Dituntut Pemegang Merek Denza di RI Pasca Ganti Nama
23 Oktober 2026, 17:00 WIB
Terlepas dari tantangan dihadapi, riset ungkap mobil listrik China bakal dominasi sepertiga pasar BEV global
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Kehadiran beragam mobil listrik China semakin marak dan perlahan diterima masyarakat karena beberapa alasan. Misal banderol cenderung lebih murah, model bervariasi dan teknologinya mumpuni.
Riset yang dirilis IMD (The International Institute of Management and Development) memang menunjukkan, Tesla masih pegang gelar perusahaan otomotif paling inovatif. Riset tersebut adalah hasil survei Future Readiness Indikator atau Indikator Kesiapan Masa Depan 2024.
Untuk diketahui indikator tahunan FRI 2024 bermaksud mengukur ketahanan masa depan 24 perusahaan otomotif dunia, berurutan berdasarkan tingkat inovasi dilakukan guna memenuhi kebutuhan pelanggan.
Meski begitu posisinya mulai dikejar oleh sejumlah kompetitor Tiongkok. Di posisi kedua ada BYD (Build Your Dreams), saat ini dikenal sebagai salah satu rival terkuat Tesla.
Dijelaskan oleh Howard Yu, Direktur IMD Center for Future Readiness bahwa indikator tersebut selalu bergerak dinamis. Turunnya peringkat perusahaan berarti inovasi dilakukan tidak cukup pesat sehingga bisa disalip pesaing.
Pada 2023, raksasa otomotif asal Jepang yakni Toyota berada di posisi dua pada 2022. Namun turun ke peringkat 10 di 2023 hingga akhirnya tempati urutan ke-11 karena dibalap BYD, Neo dan Lee Auto yang merupakan merek China.
“Mengapa peringkat Toyota jatuh? Bukan karena mereka tidak membuat persiapan untuk kendaraan listrik, tapi inovasi mereka tidak bergerak secepat kompetitor asal China,” ucap Yu dalam siaran resmi, dikutip Rabu (22/5).
Yu mengungkapkan produsen mobil listrik China semakin kompetitif meski menghadapi beragam tantangan. Seperti wacana penerapan tarif 100 persen untuk impor BEV (Battery Electric Vehicle) Tiongkok di Amerika Serikat.
Namun menghadapi hal tersebut Yu mengatakan ada potensi manufaktur BEV Tiongkok menggunakan strategi White Label buat mengakali kebijakan AS.
Sederhananya, produsen menjual produk ke pengecer berbeda di mana pihak tersebut bisa memberikan merek sendiri sesuai keinginan. Dengan begitu pabrikan Tiongkok berpeluang kuasai sepertiga pasar BEV dunia pada 2030.
BYD melakukan hal serupa dengan memasok chipset dari pabrik semikonduktor untuk Fiat dan Toyota di China. Yu mengatakan cara ini juga mungkin diterapkan ke negara-negara lain, tidak terkecuali AS.
Ia mencontohkan manufaktur yang merakit PC. Penghasilan didapat lebih besar dari hasil menjual chipset dan perangkat lunak, bukan rakitannya.
“Jadi saya kira industri mobil bergerak ke arah yang sama,” kata Yu menutup perkataannya.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
23 Oktober 2026, 17:00 WIB
23 Oktober 2026, 15:00 WIB
22 Oktober 2026, 13:08 WIB
22 Oktober 2026, 11:00 WIB
22 Oktober 2026, 09:00 WIB
Terkini
24 Oktober 2026, 16:12 WIB
Marc Marquez menjadi yang terdepan di sprint race MotoGP Australia 2026 dan Jorge Martin mengalami kecelakaan
24 Oktober 2026, 15:00 WIB
Marc Marquez berpeluang untuk menjadi pemenang di MotoGP Australia 2026 dan menumbangkan Jorge Martin
24 Oktober 2026, 13:00 WIB
Honda Bikers Day 2026 akan digelar di Ambara, Jawa Tengah dan diikuti oleh peserta dari berbagai daerah
24 Oktober 2026, 10:15 WIB
Astra Motor Safety Riding Center Jawa Tengah, diharapkan bisa mendorong kesadaraan berkendara aman di jalan
24 Oktober 2026, 07:00 WIB
Chery bersiap ikut meramaikan pasar kendaraan roda dua, patenkan satu desain motor berteknologi REEV
23 Oktober 2026, 17:00 WIB
Sengketa kepemilikan merek Denza masih berlanjut, BYD kini dituntut PT Raden Reza Adi sebesar Rp 9 triliun
23 Oktober 2026, 15:00 WIB
PEVS 2026 akan diikuti oleh 38 brand motor dan mobil listrik dan tidak ketinggalan industri pendukung lain
23 Oktober 2026, 13:00 WIB
Chery Indonesia akan melakukan studi terkait kesesuaian SUV Omoda X untuk pasar Tanah Air di masa depan