TAF Optimis Momen Lebaran Bisa Gairahkan Penjualan Mobil
26 Februari 2026, 13:00 WIB
Guna mendorong penjualan mobil terkhusus di luar pulau Jawa, pengamat ungkit kembali wacana mobil pedesaan
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Selain pemberian insentif dari pemerintah, ada beberapa langkah lain bisa dilakukan produsen otomotif guna mendongkrak penjualan domestik. Salah satunya adalah memperkenalkan mobil murah, kelasnya ada di bawah LCGC (Low Cost Green Car).
Mundur ke 2017 sempat ada wacana pengembangan mobil pedesaan disesuaikan kebutuhan konsumen luar pulau Jawa. Beberapa unitnya dipamerkan di gelaran IIMS 2017 (Indonesia International Motor Show).
Mobil pedesaan harus merupakan buatan Indonesia, dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan transportasi masyarakat khususnya konsumen di sektor pertanian dan perkebunan.
Prototipe yang dikembangkan oleh Kemenperin (Kementerian Perindustrian) beberapa tahun silam juga menjadi wadah tenaga kerja dalam negeri ikut ambil bagian membangun mobil pedesaan.
Bicara soal harga saat itu nilainya sekitar Rp 50 juta sampai Rp 70 juta, diklaim relatif terjangkau buat konsumen sasaran di kawasan pedesaan.
Hanya saja saat ini yang sukses terealisasikan adalah program insentif LCGC (Low Cost Green Car). Kebijakan itu dinilai berhasil mendorong penjualan karena tawarkan lini mobil dengan banderol di bawah Rp 200 jutaan.
Namun keberadaan mobil murah yang harganya jauh lebih terjangkau masih tetap dibutuhkan, jika pemerintah ingin mendongkrak angka penjualan mobil domestik.
Apalagi melihat animo di daerah cukup tinggi, terlihat dari rasio kepemilikan berdasarkan hasil riset LPEM UI (Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia).
Riyanto, Pengamat Otomotif LPEM UI menjelaskan mobil murah bisa jadi satu inovasi produsen untuk tawarkan lebih banyak lini kendaraan pembeli di luar pulau Jawa.
Menurut dia fitur-fitur pada mobil keluaran teranyar sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan oleh masyarakat daerah, mayoritas pergerakannya di area pedesaan ataupun perkebunan seperti di kawasan Sumatera.
"Kira-kira kalau masyarakat di desa kita pakai atau tidak? Jadi di pedesaan itu paling sederhana misal perkebunan, sepertinya tidak perlu fitur sedikit-sedikit berbunyi," kata Riyanto saat ditemui di kantor Kemenperin beberapa waktu lalu.
Riyanto menegaskan pentingnya penting buat produsen otomotif menyediakan suatu lini kendaraan didesain untuk kebutuhan masyarakat daerah yang masih perlu mobil untuk mobilitas sehari-hari.
Konsumen kelompok atau kelas menengah ke atas dinilai masih mampu untuk membeli. Namun model tersebut tidak dapat menjangkau kelas di bawahnya.
"Sinyal, peringatan atau alarm tabrakan menambah (harga jual) mobil lumayan. Kalau tidak salah seperti Honda BR-V itu Rp 25 juta nilainya," ungkap Riyanto menutup perkataannya.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
26 Februari 2026, 13:00 WIB
23 Februari 2026, 09:00 WIB
20 Februari 2026, 08:00 WIB
19 Februari 2026, 12:00 WIB
19 Februari 2026, 10:00 WIB
Terkini
26 Februari 2026, 17:00 WIB
Pakai bahasa desain yang berbeda di area gril, Toyota Fortuner versi penyegaran tampil elegan dan tangguh
26 Februari 2026, 16:00 WIB
Mitsubishi Xpander memiliki banyak keunggulan yang membuat kendaraan ini diterima oleh keluarga modern RI
26 Februari 2026, 13:00 WIB
Lebaran jadi momentum tepat untuk konsumen melakukan pembelian mobil baru, TAF tawarkan sejumlah kemudahan
26 Februari 2026, 12:59 WIB
GIAMM sebut industri komponen otomotif berpotensi dirugikan oleh keputusan impor ratusan ribu pikap dari India
26 Februari 2026, 12:00 WIB
Jaecoo terus meningkatkan kapasitas produksi kendaraan agar pemesanan di 2025 bisa selesai sebelum libur Lebaran
26 Februari 2026, 11:00 WIB
Jaecoo resmikan diler terbaru mereka yang ke 25 dengan beragam fasilitas menarik termasuk layanan home service
26 Februari 2026, 10:39 WIB
Bagnaia bertekad membuktikan kalau dia masih bisa kompetitif dalam menjelani seri MotoGP Thailand 2026
26 Februari 2026, 09:00 WIB
Rangkaian program cicilan dari TAF siap mudahkan konsumen untuk beli mobil baru sebelum musim mudik lebaran