MG S5 EV Diklaim Sudah Terpesan Lebih dari 1.000 Unit
07 Mei 2026, 21:00 WIB
Kesenjangan yang ada membuat para produsen baterai asal Cina menggempur pasar Eropa dalam beberapa waktu
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Persaingan antara pabrikan Eropa dan Cina dalam pengembangan mobil listrik sudah tidak bisa terhindarkan lagi. Namun Tiongkok diklaim melesat lebih jauh.
Seperti untuk urusan pengembangan baterai Electric Vehicle (EV). Benua Biru disebut tidak mampu mengejar ketertinggalan.
“Di sektor baterai, Eropa tertinggal 20 tahun dari Cina,” ungkap Ferdinand Dudenhoffer, pakar otomotif asal Jerman menyitat Carnewschina pada Jumat (30/01).
Pria yang dijuluki ‘Paus Otomotif’ ini menuturkan, kerja sama dengan para produsen penampung daya dari Cina menjadi opsi paling masuk akal.
Hal tersebut agar BMW, Mercedes-Benz sampai Porsche mampu kompetitif di pasar EV. Jadi tidak tertinggal dengan produk milik BYD, Chery, Geely dan kawan-kawan.
Lebih jauh disebutkan, kesenjangan teknologi menciptakan situasi 70 persen baterai EV yang dijual di Eropa pada 2025 akan dipasok oleh perusahaan Cina.
Ditambah para pabrikan baterai dari Negeri Tirai Bambu menawarkan banyak keuntungan. Termasuk untuk urusan biaya produksi, diklaim lebih rendah 30 persen.
Selain itu, siklus pengembangan penampung daya asal Cina menjadi lebih singkat sekitar 50 persen dibanding perusahaan Eropa.
Kemudian perusahaan raksasa baterai Tiongkok, yakni CATL dan Gotion High-Tech telah melangkah lebih jauh dari sekadar memasok komponen.
Mereka secara aktif membangun kemitraan dengan produsen Eropa. Ambil contoh usaha patungan CATL bersama BMW yang sudah mulai produksi di Jerman.
Lalu kemitraan BYD dengan Stellantis untuk mengembangkan baterai lithium iron phosphate berbiaya rendah, telah memasuki produksi massal.
Dudenhoffer menjelaskan bahwa, kesenjangan antara pabrikan Cina serta Eropa merembet ke beberapa bidang lain.
“Perusahaan Tiongkok di bidang seperti autonomous driving juga kokpit pintar, seperti QCraft, Horizon Robotics, Xiaomi hingga Huawei memimpin tren ini dan bukan didominasi oleh produsen Eropa serta Amerika,” tegas dia.
Sebagai informasi menurut data milik International Energy Agency, Cina mampu mengendalikan 75 persen kapasitas produksi baterai global.
“Jika produsen mobil Eropa terus bergantung pada rantai pasok lokal yang tidak efisien, mereka akan sepenuhnya kehilangan kesempatan transisi,” pungkas Dudenhoffer.
Dudenhoffer menyarankan agar kemitraan dengan perusahaan Cina dan Eropa harus terus dijaga. Sebab dapat membawa dampak positif.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
07 Mei 2026, 21:00 WIB
06 Mei 2026, 18:00 WIB
06 Mei 2026, 17:00 WIB
06 Mei 2026, 15:00 WIB
06 Mei 2026, 09:50 WIB
Terkini
07 Mei 2026, 21:00 WIB
MG S5 EV disebut mendapat sambutan positif dari masyarakat di Indonesia usai diluncurkan pada awal 2026
07 Mei 2026, 20:02 WIB
Martin dan Marquez diprediksi akan tampil maksimal dalam menjalani MotoGP Prancis 2026 di Sirkuit Le Mans
07 Mei 2026, 07:00 WIB
Sebelum melakukan touring seperti Tour Boemi Nusantara 2026, ada baiknya servis motor di bengkel resmi Yamaha
07 Mei 2026, 06:00 WIB
Ganjil Genap Jakarta hari ini berlaku sejak pagi pukul 06.00 WIB dan berlanjut sore hari mulai pukul 16.00 WIB
07 Mei 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Jakarta tersebar di lima lokasi yang berbeda hari ini dan beroperasi mulai pukul 08.00 WIB
07 Mei 2026, 06:00 WIB
Tidak harus ke kantor Satpas, SIM keliling Bandung bisa jadi alternatif yang berada di dua lokasi hari ini
06 Mei 2026, 18:00 WIB
Leap Motor siap untuk meramaikan ajang GIIAS 2026 dengan beberapa model andalan termasuk SUV elektrik B10
06 Mei 2026, 17:00 WIB
Indomobil Expo hadir untuk mendukung program pemerintah dalam meningkatkan populasi mobil listrik di RI