GWM Gandeng BMW Bikin Mobil Listrik Ora 7
17 Juni 2026, 07:00 WIB
Saling sindir antara pihak China dan Uni Eropa terus terjadi sehingga membuat kedua belah pihak bertemu
Oleh Denny Basudewa
KatadataOTO – Hubungan Uni Eropa (UE) dan China terus bergejolak setelah adanya wacana beberapa aturan baru. Kedua belah pihak bahkan saling mengancam karena merasa dirugikan.
Perkara tersebut di atas bermula ketika Uni Eropa berencana guna menaikkan bea masuk mobil listrik asal Tiongkok. Bahkan diklaim tarif kendaraan listrik China bakal diberlakukan 38.1 persen.
Uni Eropa menganggap pemerintahan China memberikan subsidi secara tidak adil. Sehingga produk-produk yang dihasilkan bisa memiliki banderol murah.
Menanggapi rencana kenaikan bea masuk, China menuding UE melakukan pelanggaran aturan perdagangan. Lalu mereka berniat melakukan upaya serupa.
Beberapa produsen mobil asal negeri tirai bambu menyarankan kendaraan asal Eropa dibebankan tarif sebesar 25 persen. Terutama unit dengan mesin bakar berkapasitas besar.
Dilansir Carscoops bahwa juru bicara UE telah melakukan pertemuan dengan perwakilan China. Dalam beberapa pekan mendatang mereka akan melakukan diskusi mengenai urusan bea masuk mobil baru.
“Saya akan terus terlibat pada seluruh tingkatan dalam beberapa waktu mendatang,” ujar Valdis Dombrovskis, Komisi Perdagangan Uni Eropa dikutip Carscoops (25/06).
Berbeda dengan sikap UE, pihak Jerman justru menolak diberlakukannya bea masuk mobil baru asal China. Adapun pihak negeri Panzer diketahui sudah menjalin komunikasi dengan Wang Wentao, Kementerian Perdagangan Tiongkok.
Robert Habeck, Wakil Kanselir dan Kementerian Federal Urusan Ekonomi dan Aksi Iklim menyatakan menentang diberlakukan tarif tersebut di atas.
“Habeck mengatakan bahwa Jerman dan Tiongkok sama-sama pendukung dan penerima manfaat dari globalisasi,” ungkap Wentao.
Lebih lanjut diyakini pihak Jerman menyayangkan ada gejolak akibat wacana kenaikan tarif pajak. Karena diyakini bisa menghambat transisi hijau Eropa dan merugikan kepentingan konsumen.
Kemudian jika aturan di atas mulai berlaku, dirinya cemas akan nasib beberapa produsen mobil asal Jerman di China. Karena kedua belah pihak bisa saja melakukan hal serupa.
Sengkarut mobil listrik China di beberapa wilayah seperti Amerika Serikat hingga Uni Eropa, berbanding terbalik dengan kondisi di Indonesia.
Pasar mobil di Tanah Air saat ini tengah kebanjiran mobil asal Tiongkok. Bahkan ajang GIIAS 2024 harus menambah kapasitas ruang pamer.
“Jumlah kendaraan di GIIAS juga dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir, sekarang terbanyak. Saya laporkan di sini sudah 55 brand memastikan diri ikut dalam pameran ini,” kata Rizwan Alamsjah, Ketua III Gaikindo beberapa waktu lalu.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
17 Juni 2026, 07:00 WIB
16 Juni 2026, 08:02 WIB
12 Juni 2026, 13:00 WIB
06 Juni 2026, 08:54 WIB
05 Juni 2026, 17:00 WIB
Terkini
17 Juni 2026, 18:37 WIB
Pada Juni 2026 beberapa pabrikan melakukan penyesuaian harga motor matic murah, seperti dialami oleh Yamaha
17 Juni 2026, 11:00 WIB
Jaecoo menjadi merek mobil Cina dengan penjualan retail terlaris sepanjang Mei 2026, berada di atas BYD
17 Juni 2026, 09:00 WIB
E5 Plus jadi SUV PHEV perdana DFSK di pasar Indonesia, klaim daya jelajah komprehensifnya 1.300 kilometer
17 Juni 2026, 07:00 WIB
GWM Ora 7 merupakan mobil listrik hasil kolaborasi dengan BMW, ubah arah desain seri Ora di masa mendatang
17 Juni 2026, 06:00 WIB
Ganjil genap Jakarta hari ini akan mengincar mobil dengan pelat nomor berakhiran genap terutama di jam sibuk
17 Juni 2026, 06:00 WIB
Setelah libur Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, SIM keliling Jakarta kembali melayani masyarakat hari ini
16 Juni 2026, 19:00 WIB
Kiandra Ramadhipa mengaku sering berdiskusi, demi bisa mendapatkan ilmu balapan dari Veda Ega dan Mario Aji
16 Juni 2026, 18:11 WIB
Rencana penyesuaian tarif Transjakarta, pemerintah hanya menyasar rute jauh seperti Blok M - Bandara Soetta