Flash Charging BYD Hanya Ekstra Cepat Untuk Model Terbaru
15 Oktober 2026, 15:00 WIB
Saling sindir antara pihak China dan Uni Eropa terus terjadi sehingga membuat kedua belah pihak bertemu
Oleh Denny Basudewa
KatadataOTO – Hubungan Uni Eropa (UE) dan China terus bergejolak setelah adanya wacana beberapa aturan baru. Kedua belah pihak bahkan saling mengancam karena merasa dirugikan.
Perkara tersebut di atas bermula ketika Uni Eropa berencana guna menaikkan bea masuk mobil listrik asal Tiongkok. Bahkan diklaim tarif kendaraan listrik China bakal diberlakukan 38.1 persen.
Uni Eropa menganggap pemerintahan China memberikan subsidi secara tidak adil. Sehingga produk-produk yang dihasilkan bisa memiliki banderol murah.
Menanggapi rencana kenaikan bea masuk, China menuding UE melakukan pelanggaran aturan perdagangan. Lalu mereka berniat melakukan upaya serupa.
Beberapa produsen mobil asal negeri tirai bambu menyarankan kendaraan asal Eropa dibebankan tarif sebesar 25 persen. Terutama unit dengan mesin bakar berkapasitas besar.
Dilansir Carscoops bahwa juru bicara UE telah melakukan pertemuan dengan perwakilan China. Dalam beberapa pekan mendatang mereka akan melakukan diskusi mengenai urusan bea masuk mobil baru.
“Saya akan terus terlibat pada seluruh tingkatan dalam beberapa waktu mendatang,” ujar Valdis Dombrovskis, Komisi Perdagangan Uni Eropa dikutip Carscoops (25/06).
Berbeda dengan sikap UE, pihak Jerman justru menolak diberlakukannya bea masuk mobil baru asal China. Adapun pihak negeri Panzer diketahui sudah menjalin komunikasi dengan Wang Wentao, Kementerian Perdagangan Tiongkok.
Robert Habeck, Wakil Kanselir dan Kementerian Federal Urusan Ekonomi dan Aksi Iklim menyatakan menentang diberlakukan tarif tersebut di atas.
“Habeck mengatakan bahwa Jerman dan Tiongkok sama-sama pendukung dan penerima manfaat dari globalisasi,” ungkap Wentao.
Lebih lanjut diyakini pihak Jerman menyayangkan ada gejolak akibat wacana kenaikan tarif pajak. Karena diyakini bisa menghambat transisi hijau Eropa dan merugikan kepentingan konsumen.
Kemudian jika aturan di atas mulai berlaku, dirinya cemas akan nasib beberapa produsen mobil asal Jerman di China. Karena kedua belah pihak bisa saja melakukan hal serupa.
Sengkarut mobil listrik China di beberapa wilayah seperti Amerika Serikat hingga Uni Eropa, berbanding terbalik dengan kondisi di Indonesia.
Pasar mobil di Tanah Air saat ini tengah kebanjiran mobil asal Tiongkok. Bahkan ajang GIIAS 2024 harus menambah kapasitas ruang pamer.
“Jumlah kendaraan di GIIAS juga dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir, sekarang terbanyak. Saya laporkan di sini sudah 55 brand memastikan diri ikut dalam pameran ini,” kata Rizwan Alamsjah, Ketua III Gaikindo beberapa waktu lalu.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
15 Oktober 2026, 15:00 WIB
15 Oktober 2026, 09:06 WIB
14 Oktober 2026, 19:00 WIB
14 Oktober 2026, 17:00 WIB
14 Oktober 2026, 16:22 WIB
Terkini
15 Oktober 2026, 15:00 WIB
Stasiun pengisian daya BYD Flash Charging bisa dimanfaatkan untuk mobil BYD dengan baterai generasi pertama
15 Oktober 2026, 13:00 WIB
Asuransi Astra masuk usia 70 tahun, memperkuat layanan digital melalui myGarda, gardaoto.com, dan Garda Siaga
15 Oktober 2026, 11:00 WIB
Seri GIIAS kembali dilanjutkan, GIIAS Makassar 2026 bakal hadirkan 14 merek kendaraan penumpang ke konsumen
15 Oktober 2026, 09:06 WIB
Setelah menjadi perbincangan, BYD Atto 2 akhirnya dipajang dan dipamerkan kepada konsumen di Indonesia
15 Oktober 2026, 07:00 WIB
Sebelum menentukan pilihan, Mitsubishi Destinator bisa jadi bahan pertimbangan konsumen yang membutuhkan
14 Oktober 2026, 22:28 WIB
Itamotor baru saja meluncurkan handrip untuk skutik premium yang diklaim dapat memberikan kenyamanan lebih
14 Oktober 2026, 19:00 WIB
BYD Flash Charging bisa digunakan untuk lini mobil listrik Danza yang dipasarkan di Indonesia, seperti D9
14 Oktober 2026, 17:00 WIB
Mobil listrik MG S6 EV jadi opsi baru SUV keluarga di Indonesia, segera meluncur di pameran otomotif GAW 2026