Pengamat Ungkap Alasan Audi Masih Kalah dari BMW dan Mercy di RI
24 Desember 2025, 17:03 WIB
Hadapi persaingan ketat dari Tiongkok, Uni Eropa mau terapkan tarif impor mobil listrik China seperti di AS
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Tidak hanya di Amerika Serikat, kini Uni Eropa memberlakukan tarif impor mobil listrik China guna menghadapi persaingan yang semakin ketat. Besarannya ada di kisaran 17,4 persen sampai 38,1 persen.
Dilansir dari South China Morning Post, Rabu (19/6) tarif impor mobil listrik direncakan berlaku mulai 4 Juli 2024. Keputusan itu diambil setelah melihat banyak manufaktur mobil listrik membalap kompetitor asal Eropa.
Namun hal ini turut menuai protes dari sejumlah pihak pabrikan terkhusus manufaktur Jerman. Mengingat banyak merek menjadikan China sebagai salah satu pasar terpenting mereka seperti Mercedes-Benz, BMW dan Volkswagen.
Maximilian Butek, Direktur Eksekutif Kamar Dagang Jerman di China Barat mengungkapkan pemberlakuan tarif tidak melindungi atau menjaga persaingan sehat bagi merek Jerman.
“Kita mengadvokasi pentingnya investasi pada persaingan di Uni Eropa ketimbang melindungi industri otomotif (dengan tarif impor),” ungkap dia di sela konferensi pers, dikutip Rabu.
Pihak China sendiri bakal merespon lewat pemberlakuan kebijakan serupa menghadapi hal tersebut. Sampai November mendatang, pihak Uni Eropa harus menetapkan apakah tarif impor mobil listrik berlaku permanen atau sementara.
Perwakilan dari Jerman disebut akan berkunjung ke China guna mendiskusikan tarif impor mobil listrik yang akan segera berlaku dalam waktu dekat. Maximilian berharap ada jalan tengah bisa diambil lewat negosiasi kedua pihak.
“Market Share mobil listrik China di Uni Eropa masih sangat kecil. Jadi saya pikir masih ada ruang untuk bernegosiasi daripada mengikuti eskalasi tarif impor,” tegas dia.
Clas Neumann, Ketua Dewan Kamar Dagang Jerman di China Barat mengatakan pemerintah Jerman harus mendorong persaingan sehat antar merek Eropa di Tiongkok.
Saat ini yang jadi tantangan utama buat manufaktur Jerman adalah perang harga terkhusus di industri otomotif.
“Ada tekanan harga yang signifikan di pasar karena banyaknya jumlah kompetitor atau hasil produksi dari para pesaing tersebut,” kata Neumann.
Sektor otomotif Tiongkok memang disebut memulai perang harga mobil listrik dalam selama dua tahun belakangan. Sehingga banyak manufaktur ikut berlomba menjual kendaraan dengan banderol paling kompetitif agar bisa bersaing di pasaran.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
24 Desember 2025, 17:03 WIB
23 Desember 2025, 13:00 WIB
15 Desember 2025, 19:00 WIB
10 Desember 2025, 19:00 WIB
09 Desember 2025, 17:00 WIB
Terkini
01 Januari 2026, 17:00 WIB
Sedan ramah lingkungan Xpeng P7+ mendapatkan pembaruan sebagai model global, akan dijual di 36 negara
01 Januari 2026, 15:00 WIB
Polda Metro Jaya ungkap setidaknya ada 227.6262 pelanggaran yang terjaring tilang ETLE Statis di Jakarta
01 Januari 2026, 13:00 WIB
MPV 7-seater Hyundai Stargazer Cartenz disulap jadi ambulans guna memudahkan proses evakuasi di Sumatera
01 Januari 2026, 11:12 WIB
Setelah tahun baru 2026 harga BBM di SPBU swasta, terkhusus RON 92 turun dengan besaran yang bervariasi
01 Januari 2026, 09:00 WIB
Kementerian Perindustrian ajukan insentif untuk otomotif pada Kementerian Keuangan dengan skema yang matang
01 Januari 2026, 07:00 WIB
Di awal tahun, Pertamina melakukan penyesuaian harga BBM terutama untuk Pertamax series di sejumlah wilayah
01 Januari 2026, 06:00 WIB
Agar memanjakan para pengendara di libur tahun baru, SIM keliling Bandung tetap dihadirkan pihak kepolisian
31 Desember 2025, 18:00 WIB
Mayoritasnya merupakan mobil baru asal Tiongkok, kemudian telah dibekali teknologi hybrid maupun EREV