Gaikindo Minta Insentif Tidak Hanya untuk Mobil Listrik Saja
30 Juni 2026, 15:00 WIB
Ada beberapa faktor penyebab pabrik Jepang ragu beralih ke elektrifikasi, masih fokus di kendaraan hybrid
Oleh Serafina Ophelia
TRENOTO – Jika bicara mobil listrik saat ini pemain asal China bisa dibilang mulai mendominasi. Sebut saja Wuling, menawarkan mobil listrik ‘harga terjangkau’ yakni Air ev dibanderol mulai Rp180 jutaan.
Belum lama kembali datang juga Seres E1, harga tidak berbeda jauh di kisaran Rp180 jutaan sampai Rp200 jutaan. Berukuran mungil diharapkan cocok untuk mobilitas masyarakat di kawasan perkotaan.
Sementara pabrik Jepang lebih banyak melakukan transisi perlahan menghadirkan mobil hybrid. Misal Toyota dengan Innova Zenix Hybrid, RAV4, Alphard HEV atau Suzuki Grand Vitara Hybrid dan Ertiga Hybrid memakai teknologi MHEV (Mild Hybrid Electric Vehicle).
Sementara itu Honda baru menghadirkan lini elektrifikasi perdana pada gelaran GIIAS 2023 yakni CR-V Hybrid. Pabrikan berlambang H itu juga turut menghadirkan SUV e-Prototype yang sekilas berpostur serupa HR-V.
Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo memaparkan alasan mengapa tampaknya pabrik Jepang ragu beralih ke elektrifikasi dan mengambil langkah lebih hati-hati, yakni karena faktor kesiapan konsumen dan infrastruktur.
“Karena mereka sedikit berbeda cara pandang. Cenderung melihat ke habit ini juga sebuah proses perubahan budaya,” ucap Kukuh di acara Forum Diskusi Denpasar 12 beberapa waktu lalu.
Perubahan budaya yang dimaksud adalah metode pengisian daya. Ada transisi kebiasaan yang harus dihadapi masyarakat dari semula singgah di SPBU beberapa menit jadi mengisi daya dengan durasi lebih lama mulai dari 18 menit sampai 8 jam ke atas.
Selain ekosistem pihak diler juga harus senantiasa siap menyediakan wall charger untuk pengisian daya di rumah serta kesiapan teknisi menangani kendala mobil listrik.
“Kalau (pengisian bahan bakar) bensin 5 sampai 10 menit cukup, tapi kalau listrik harus lebih terencana. Harus bisa (mengisi daya) di rumah,” ujarnya.
Sebelumnya Kukuh mengungkap bahwa SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) adalah untuk kondisi darurat. Namun tetap perlu disebar merata agar calon konsumen bisa lebih yakin.
Selain infrastruktur faktor keamanan juga perlu jadi perhatian penting. Perlu diketahui dalam kasus kebakaran baterai mobil listrik harus ada pemadam api khusus yang belum tersedia baik di Indonesia maupun global.
“Perlu kita pikirkan. Informasi yang kami dapat baterai EV bisa sampai 24 untuk dipadamkan (jika terbakar) dan agar padam dengan baik harus direndam dalam kolam, ini jadi tantang bersama,” tegas Kukuh.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
30 Juni 2026, 15:00 WIB
29 Juni 2026, 07:00 WIB
28 Juni 2026, 07:15 WIB
25 Juni 2026, 20:58 WIB
25 Juni 2026, 20:56 WIB
Terkini
02 Juli 2026, 23:16 WIB
Gresini Racing mengusung Joan Mir dan Daniel Holgado untuk menghadapi persaingan era baru MotoGP 2027
02 Juli 2026, 20:00 WIB
Changan Deepal S05 REEV dan EV masih akan berstatus impor utuh dari Thailand, baru akan CKD apabila laris
02 Juli 2026, 19:03 WIB
Buat kaum urban, Hyundai New Creta diklaim cocok untuk menjawab kebutuhan mobilitas sehari-hari di perkotaan
02 Juli 2026, 16:19 WIB
All New TVS Callisto 110 menawarkan berbagai ubahan demi memanjakan para konsumen dan dijual Rp 19 jutaan
02 Juli 2026, 13:55 WIB
Mazda akan merilis 6e sedan ev terbaru yang dikembangkan bareng Changan Automobile dengan jarak tempuh 560 km
02 Juli 2026, 09:00 WIB
Mini Overland yang dilakukan Kagama 4X4 Adventure kali ini diikuti sekitar 70 mobil peserta di hari jadi kelima
02 Juli 2026, 07:01 WIB
Astra Daihatsu Motor mengusung empat pilar dalam menjalan komitmen mereka dala program CSR perusahaan
02 Juli 2026, 06:20 WIB
Aturan ganjil genap Jakarta hari ini 2 Juli 2026 kembali diberlakukan untuk bisa sedikit memecah kebuntuan