Jaecoo Komitmen Percepat Pengiriman J5 EV ke Konsumen
30 September 2026, 15:34 WIB
Ada beberapa faktor penyebab pabrik Jepang ragu beralih ke elektrifikasi, masih fokus di kendaraan hybrid
Oleh Serafina Ophelia
TRENOTO – Jika bicara mobil listrik saat ini pemain asal China bisa dibilang mulai mendominasi. Sebut saja Wuling, menawarkan mobil listrik ‘harga terjangkau’ yakni Air ev dibanderol mulai Rp180 jutaan.
Belum lama kembali datang juga Seres E1, harga tidak berbeda jauh di kisaran Rp180 jutaan sampai Rp200 jutaan. Berukuran mungil diharapkan cocok untuk mobilitas masyarakat di kawasan perkotaan.
Sementara pabrik Jepang lebih banyak melakukan transisi perlahan menghadirkan mobil hybrid. Misal Toyota dengan Innova Zenix Hybrid, RAV4, Alphard HEV atau Suzuki Grand Vitara Hybrid dan Ertiga Hybrid memakai teknologi MHEV (Mild Hybrid Electric Vehicle).
Sementara itu Honda baru menghadirkan lini elektrifikasi perdana pada gelaran GIIAS 2023 yakni CR-V Hybrid. Pabrikan berlambang H itu juga turut menghadirkan SUV e-Prototype yang sekilas berpostur serupa HR-V.
Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo memaparkan alasan mengapa tampaknya pabrik Jepang ragu beralih ke elektrifikasi dan mengambil langkah lebih hati-hati, yakni karena faktor kesiapan konsumen dan infrastruktur.
“Karena mereka sedikit berbeda cara pandang. Cenderung melihat ke habit ini juga sebuah proses perubahan budaya,” ucap Kukuh di acara Forum Diskusi Denpasar 12 beberapa waktu lalu.
Perubahan budaya yang dimaksud adalah metode pengisian daya. Ada transisi kebiasaan yang harus dihadapi masyarakat dari semula singgah di SPBU beberapa menit jadi mengisi daya dengan durasi lebih lama mulai dari 18 menit sampai 8 jam ke atas.
Selain ekosistem pihak diler juga harus senantiasa siap menyediakan wall charger untuk pengisian daya di rumah serta kesiapan teknisi menangani kendala mobil listrik.
“Kalau (pengisian bahan bakar) bensin 5 sampai 10 menit cukup, tapi kalau listrik harus lebih terencana. Harus bisa (mengisi daya) di rumah,” ujarnya.
Sebelumnya Kukuh mengungkap bahwa SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) adalah untuk kondisi darurat. Namun tetap perlu disebar merata agar calon konsumen bisa lebih yakin.
Selain infrastruktur faktor keamanan juga perlu jadi perhatian penting. Perlu diketahui dalam kasus kebakaran baterai mobil listrik harus ada pemadam api khusus yang belum tersedia baik di Indonesia maupun global.
“Perlu kita pikirkan. Informasi yang kami dapat baterai EV bisa sampai 24 untuk dipadamkan (jika terbakar) dan agar padam dengan baik harus direndam dalam kolam, ini jadi tantang bersama,” tegas Kukuh.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
30 September 2026, 15:34 WIB
29 September 2026, 14:39 WIB
28 September 2026, 17:49 WIB
25 September 2026, 17:23 WIB
22 September 2026, 07:00 WIB
Terkini
03 Oktober 2026, 15:50 WIB
Lepas Asco Fatmawati siap melayani kebutuhan masyarakat di Ibu Kota akan kendaraan yang ramah lingkungan
03 Oktober 2026, 13:59 WIB
Berlangsung sengit, Diogo Moreira perdana naik podium sprint race MotoGP Jepang 2026 bersama Marc Marquez
03 Oktober 2026, 07:00 WIB
Para pengunjung GIIAS Semarang 2026, bisa langsung mencoba motor dan mobil incaran selama pameran berlangsung
02 Oktober 2026, 17:22 WIB
Mazda masih akan menggunakan sejumlah model mobil listrik Changan sebagai basis, Deepal S05 jadi kandidat
02 Oktober 2026, 14:26 WIB
Diyakini kalah gugatan dari PT Worcas Nusantara Abadi, BYD mengumumkan pergantian nama Denza jadi Danza
02 Oktober 2026, 08:13 WIB
AHM baru saja memberikan opsi warna maupun grafis baru pada moge mereka, yakni Honda CRF1100L Africa Twin
02 Oktober 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Bandung merupakan salah satu fasilitas untuk memudahkan masyarakat mengurus dokumen berkendara
02 Oktober 2026, 06:00 WIB
Setelah dievaluasi, kebijakan Ganjil Genap Jakarta terbukti mampu mengatur arus lalu lintas di Ibu Kota