PLN Ungkap Jumlah Pemakaian SPKLU Saat Libur Lebaran 2026 Naik
02 April 2026, 17:00 WIB
Ada beberapa faktor penyebab pabrik Jepang ragu beralih ke elektrifikasi, masih fokus di kendaraan hybrid
Oleh Serafina Ophelia
TRENOTO – Jika bicara mobil listrik saat ini pemain asal China bisa dibilang mulai mendominasi. Sebut saja Wuling, menawarkan mobil listrik ‘harga terjangkau’ yakni Air ev dibanderol mulai Rp180 jutaan.
Belum lama kembali datang juga Seres E1, harga tidak berbeda jauh di kisaran Rp180 jutaan sampai Rp200 jutaan. Berukuran mungil diharapkan cocok untuk mobilitas masyarakat di kawasan perkotaan.
Sementara pabrik Jepang lebih banyak melakukan transisi perlahan menghadirkan mobil hybrid. Misal Toyota dengan Innova Zenix Hybrid, RAV4, Alphard HEV atau Suzuki Grand Vitara Hybrid dan Ertiga Hybrid memakai teknologi MHEV (Mild Hybrid Electric Vehicle).
Sementara itu Honda baru menghadirkan lini elektrifikasi perdana pada gelaran GIIAS 2023 yakni CR-V Hybrid. Pabrikan berlambang H itu juga turut menghadirkan SUV e-Prototype yang sekilas berpostur serupa HR-V.
Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo memaparkan alasan mengapa tampaknya pabrik Jepang ragu beralih ke elektrifikasi dan mengambil langkah lebih hati-hati, yakni karena faktor kesiapan konsumen dan infrastruktur.
“Karena mereka sedikit berbeda cara pandang. Cenderung melihat ke habit ini juga sebuah proses perubahan budaya,” ucap Kukuh di acara Forum Diskusi Denpasar 12 beberapa waktu lalu.
Perubahan budaya yang dimaksud adalah metode pengisian daya. Ada transisi kebiasaan yang harus dihadapi masyarakat dari semula singgah di SPBU beberapa menit jadi mengisi daya dengan durasi lebih lama mulai dari 18 menit sampai 8 jam ke atas.
Selain ekosistem pihak diler juga harus senantiasa siap menyediakan wall charger untuk pengisian daya di rumah serta kesiapan teknisi menangani kendala mobil listrik.
“Kalau (pengisian bahan bakar) bensin 5 sampai 10 menit cukup, tapi kalau listrik harus lebih terencana. Harus bisa (mengisi daya) di rumah,” ujarnya.
Sebelumnya Kukuh mengungkap bahwa SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) adalah untuk kondisi darurat. Namun tetap perlu disebar merata agar calon konsumen bisa lebih yakin.
Selain infrastruktur faktor keamanan juga perlu jadi perhatian penting. Perlu diketahui dalam kasus kebakaran baterai mobil listrik harus ada pemadam api khusus yang belum tersedia baik di Indonesia maupun global.
“Perlu kita pikirkan. Informasi yang kami dapat baterai EV bisa sampai 24 untuk dipadamkan (jika terbakar) dan agar padam dengan baik harus direndam dalam kolam, ini jadi tantang bersama,” tegas Kukuh.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
02 April 2026, 17:00 WIB
02 April 2026, 13:00 WIB
31 Maret 2026, 17:00 WIB
31 Maret 2026, 11:00 WIB
31 Maret 2026, 09:47 WIB
Terkini
03 April 2026, 06:00 WIB
Sebelum akhir pekan, SIM keliling Jakarta masih dibuka di lima tempat berbeda tersebar di sekitar Ibu Kota
03 April 2026, 06:00 WIB
Meski menjelang akhir pekan, SIM keliling Bandung tetap dihadiri demi memudahkan pengendara di Kota Kembang
02 April 2026, 17:00 WIB
PLN ungkap jumlah pemakaian SPKLU saat libur Lebaran 2026 alami peningkatan dibanding periode serupa tahun lalu
02 April 2026, 16:47 WIB
Wuling Darion Plug-in Hybrid dilengkapi spesifikasi mumpuni dan irit, cocok dibawa berkendara jarak jauh
02 April 2026, 13:00 WIB
Desain mobil baru VinFast identik dengan VF 7, namun ada sejumlah perbedaan terlihat pada eksteriornya
02 April 2026, 11:00 WIB
Presiden Prabowo bertemu dengan petinggi Toyota dan Mitsubishi di Jepang demi membahas kelanjutan investasi
02 April 2026, 09:00 WIB
Yadea bakal meluncurkan motor listrik terbarunya di Indonesia dan kendaraan tersebut memiliki teknologi pintar
02 April 2026, 07:57 WIB
Pada awal April 2026, seluruh pabrikan nampak tidak menaikan harga mobil LCGC mereka di pasar Indonesia