BYD Mulai Bangun Pabrik Baterai Mobil Listrik di Vietnam
29 Januari 2026, 20:00 WIB
Volkswagen berencana tutup pabrik di Jerman karena kalah bersaing dalam perang harga melawan perusahaan Asia
Oleh Adi Hidayat
KatadataOTO – Volkswagen berencana tutup pabrik di Jerman karena tidak mampu lagi menghadapi perang harga yang dilakukan perusahaan otomotif Asia. Rencana tersebut pun diyakini akan mendapat banyak protes khususnya dari para serikat pekerja.
Namun penutupan pabrik dinilai sebagai upaya terbaik untuk menyelamatkan perusahaan di masa depan.
“Industri otomotif Eropa berada dalam situasi sangat sulit dan serius. Kondisi ekonomi yang berat ditambah adanya pesaing baru menyebabkan pabrikan semakin tertinggal,” ungkap Oliver Blume, CEO Volkswagen Group.
Sebenarnya Volkswagen telah melihat beberapa pabrik mereka sudah ketinggalan zaman. Namun upaya untuk melakukan perubahan secara besar-besaran selalu berhasil digagalkan.
Terlebih sebelum rencana penutupan pabrik mencuat, mereka telah mengambil beberapa tindakan lain. Salah satunya adalah mencoba mengakhiri program jaminan kerja yang sudah berlaku sejak 1994.
"Situasinya sangat tegang dan tidak dapat diatasi dengan tindakan pemotongan biaya sederhana," ungkap Thomas Schaefer, Chief Operating Officer Volkswagen.
Volkswagen sendiri merupakan merek pertama di dunia yang melakukan pengurangan biaya produksi secara besar-besaran. Tak tanggung-tanggung, mereka menargetkan penghematan hingga 10 miliar Euro atau setara Rp 172 triliun di 2026.
Langkah itu harus diambil agar bisa bersaing dengan perusahaan lain khususnya di segmen mobil listrik.
Namun upayanya terbilang berat karena pasar terbesar mereka yaitu China juga semakin menyusut. Pabrikan lokal telah bergerak cepat dengan meluncurkan beragam mobil listrik yang harganya jauh lebih terjangkau.
Produsen tersebut pun kini sudah mulai berekspansi ke Eropa sehingga menambah tekanan pada perusahaan. Mereka dipaksa untuk mengembangkan mobil listrik yang lebih murah, cepat atau berisiko kehilangan pelanggan di dalam negerinya sendiri.
Rencana Volkswagen tutup pabrik juga merupakan pukulan bagi pemerintah Jerman. Pasalnya hal tersebut akan menunjukkan bahwa ada potensi kesalahan dalam menentukan kebijakan.
“Jika perusahaan besar di bidang industri harus menutup fasilitas produksi maka ini adalah peringatan bahwa kebijakan ekonomi Jerman perlu ditingkatkan,” ungkap Carsten Brzeski, Global Head of Macro ING Research.
Sementara di Indonesia, Volkswagen dirasa belum terlalu agresif. Pasalnya sepanjang Januari hingga Juli 2024 mereka baru berhasil menjual sebanyak 65 unit ke perlanggan.
Angka itu hanya mampu membuat mereka duduk di posisi 32 pabrikan terlaris di Indonesia.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
29 Januari 2026, 20:00 WIB
24 Desember 2025, 21:08 WIB
18 Desember 2025, 21:00 WIB
18 Desember 2025, 18:00 WIB
16 Desember 2025, 08:00 WIB
Terkini
18 April 2026, 10:07 WIB
Toyota Calya mampu menjadi mobil LCGC terlaris pada bulan lalu setelah terdistribusi sebanyak 2.067 unit
18 April 2026, 08:42 WIB
Pameran BMW Festival of Joy dibuka untuk umum 17-19 April 2026 dan bisa dikunjungi tanpa dikenakan biaya
17 April 2026, 14:33 WIB
Ajang reli ini untuk pertama kalinya dihelat di Jakarta, sirkuit Ancol bakal disulap jadi trek Rallycross
17 April 2026, 09:00 WIB
Bos Ford menilai kehadiran mobil Cina di pasar otomotif Amerika Serikat bisa mengganggu bisnis mereka
17 April 2026, 07:42 WIB
Hyundai menyiapkan mobil pengganti untuk konsumen yang kendaraannya harus menginap di bengkel resmi mereka
17 April 2026, 06:00 WIB
Sebelum akhir pekan, SIM keliling Bandung hadir demi memfasilitasi kebutuhan para pengendara di Kota Kembang
17 April 2026, 06:00 WIB
Ganjil genap Jakarta masih diterapkan meski Aparatur Sipil Negara tengah menjalankan kebijakan Work From Home
17 April 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Jakarta masih menjadi salah satu alternatif jika masyarakat ingin mengurus dokumen berkendara