Suzuki Periksa Dua Komponen Penting pada Satria Pro dan F150
17 Oktober 2026, 07:47 WIB
Menurut Suzuki melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika membawa dua sisi berbeda bagi mereka
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah. Pada Selasa (22/04) sore menyentuh angka Rp 16.859 per dolar.
Angka tersebut turun 53 poin atau minus 0,32 persen jika dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
SIS (Suzuki Indomobil Sales) melihat kondisi ini seperti pedang bermata dua. Pertama mereka merasa hal tersebut menyulitkan.
“Kalau berlangsung lama tentu akan ada dampak-dampak setelahnya yang kami perlu pelajari lebih lanjut,” ungkap Dony Saputra, Deputy Managing Director 4W SIS ketika ditemui di Karawang, Selasa (22/04).
Dony menjelaskan bahwa meski Suzuki 80 persen penjualan mereka produk lokal. Namun masih ada sejumlah komponen yang dibawa dari luar negeri.
Oleh sebab itu melemahnya rupiah terhadap dolar yang sudah berlangsung sejak awal bulan tentu akan menyulitkan pabrikan asal Jepang tersebut.
“Apakah ini berdampak terhadap biaya produksi atau tidak? Apakah nanti juga akan mengerek biaya distribusi atau tidak? Nanti kami harus liat,” lanjut Dony.
Kendati demikian melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga disebut-sebut membawa keuntungan bagi Suzuki Indomobil Sales.
“Di sisi lain kami juga pelaku ekspor, dengan kondisi seperti ini justru mendorong revenue Suzuki untuk tumbuh dan lebih tinggi,” tutur dia.
Dengan begitu kondisi yang sedang berlangsung sekarang ini, malah memberikan berkah tersendiri. Jadi dapat menghadirkan angin segar untuk mereka.
Sebagai informasi, Suzuki mengapalkan beberapa produk ke sejumlah negara. Ambil contoh ke Meksiko dan sekitarnya untuk XL7, Ertiga sampai Carry.
Jadi melemahnya rupiah terhadap dollar Amerika Serikat justru membuat pendapatan mereka bertambah beberapa waktu belakangan.
“Ini juga mendorong pertumbuhan penerimaan atau revenue kami berkaitan dengan ekspor yang kita lakukan,” Dony menegaskan.
Sekadar mengingatkan jika nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melemah bakal membawa banyak dampak bagi industri otomotif nasional.
Seperti contoh kenaikan harga mobil maupun motor baru. Sebab para manufaktur harus menyesuaikan dengan biaya produksi.
Jika hal tersebut terus terjadi maka daya beli masyarakat dapat menurun juga. Sehingga penjualan kendaraan roda empat maupun dua bisa kurang maksimal di 2025.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
17 Oktober 2026, 07:47 WIB
11 Oktober 2026, 09:00 WIB
03 Oktober 2026, 07:00 WIB
01 Oktober 2026, 19:00 WIB
27 September 2026, 23:38 WIB
Terkini
19 Oktober 2026, 21:00 WIB
Persaingan Marquez dan Martin dalam perebutan gelar juara dunia kembali tersaji di MotoGP Australia 2026
19 Oktober 2026, 20:56 WIB
AiMOGA bertekad untuk menggabungkan teknologi otomotif dengan robotika agar bisa semakin dikenal orang banyak
19 Oktober 2026, 13:00 WIB
Jelang satu tahun Changan berbisnis di Indonesia, merek asal Cina satu ini berfokus pada lini produk dan jumlah diler
19 Oktober 2026, 10:11 WIB
Tuai respons positif, pemesanan MG ZS Hybrid+ 400 unit dan sudah mulai terkirim ke konsumen sebanyak 100 unit
19 Oktober 2026, 08:24 WIB
Setelah menghadirkan banyak produk hingga merek di Indonesia, Chery Group percaya diri bakal terus raih hasil positif
19 Oktober 2026, 07:02 WIB
Meskipun jadi pemain baru di pasar mobil Indonesia, BYD mampu menorehkan sejumlah capian cukup positif
18 Oktober 2026, 17:00 WIB
Sri Lanka menjadi pasar setir kanan pertama di luar Jepang yang dipilih BYD dalam memasarkan kei car Racco
18 Oktober 2026, 16:28 WIB
BMW Astra baru saja meresmikan DSA di Cibuntu, Kab Kuningan dengan memberikan sejumlah bantuan ke masyarakat