Babak Baru VinFast, Bawa Lini EV di GIIAS Makassar 2026
30 Oktober 2026, 22:25 WIB
BYD melaporkan mengalami penurunan penjualan sampai 30,1 persen atau hanya mencatatkan 210.051 di Januari 2026
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – BYD memulai 2026 dengan hasil kurang memuaskan. Perusahaan asal Cina ini gagal untuk mempertahankan kinerja positif di pasar kendaraan roda empat Tiongkok.
Melansir Reuters pada Senin (02/02), BYD melaporkan bahwa mereka mengalami penurunan penjualan sepanjang Januari 2026.
Jumlahnya pun terbilang cukup besar, sekitar 30,1 persen jika dibandingkan dengan pencapaian di Desember 2025. Membuat BYD harus gigit jari di awal tahun ini.
“Produsen kendaraan listrik Tiongkok tersebut menghadapi ketidakpastian eksternal dan persaingan ketat di dalam negeri,” tulis Reuters.
Secara global, BYD hanya mencatatkan penjualan 210.051 kendaraan roda empat sepanjang Januari 2026. Kemudian produksi mereka turun sebesar 29,1 persen.
Sedangkan untuk pasar ekspor, BYD hanya berhasil membukukan angka 100.482 unit saja pada bulan lalu.
Situasi di atas disebut-sebut semakin memperpanjang rekor penjualan BYD yang terus anjlok sejak Juli 2025.
Sementara itu menurut laporan Carnewschina, pasar New Energy Vehicle (NEV) di Tiongkok menunjukkan persaingan kian ketat.
Menurut data yang mereka miliki, para produsen saling berlomba-lomba untuk menyesuaikan harga mobil listrik hingga hybrid.
Membuat BYD dan perusahaan mobil Cina lain harus mencari strategi agar bisa terus kompetitif pada tahun ini.
Apalagi permintaan NEV diprediksi akan terus bergejolak pada kuartal pertama 2026. Kondisi tersebut didorong oleh pergeseran minat konsumen di Negeri Tirai Bambu.
Hal ini tentu harus menjadi perhatian serius. Apalagi bagi BYD yang baru saja mengumumkan target penjualan mereka.
Sepanjang 2026, produsen asal Cina tersebut ingin ada 1,3 juta kendaraan roda empat berhasil terniagakan.
Di sisi lain, kondisi yang saat ini dihadapi oleh BYD tidak terlalu mengejutkan. Sebab sebelumnya pasar kendaraan roda empat Tiongkok diprediksi bakal melambat.
Beberapa rintangan siap menghadang, semisal ketegangan perdagangan, pergeseran tarif serta ketidakpastian regulasi pemerintah.
Kondisi di atas memaksa para produsen untuk memikirkan kembali produksi, penetapan harga maupun strategi pasar.
Bahkan dikatakan bahwa puluhan produsen mobil listrik di Cina, berada dalam ancaman serius pada 2026.
Mereka kemungkinan besar akan menutup atau mengurangi operasinya pada tahun depan. Hal itu karena pertumbuhan industri melambat dan insentif dari pemerintah berakhir.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
30 Oktober 2026, 22:25 WIB
30 Oktober 2026, 11:00 WIB
29 Oktober 2026, 13:00 WIB
28 Oktober 2026, 11:00 WIB
26 Oktober 2026, 17:17 WIB
Terkini
01 November 2026, 20:29 WIB
iCar Indonesia membuka diler di dalam mal pertamanya di Jakarta untuk mendekatkan diri dengan konsumen
01 November 2026, 17:37 WIB
Di bulan ini sejumlah SPBU di Indonesia nampak menahan harga BBM mereka, mulai dari RON 92 sampai jenis diesel
01 November 2026, 15:07 WIB
Marc Marquez berhasil meraih kemenangan di MotoGP Malaysia 2026 dan mendapat poin untuk menjauh dari Martin
01 November 2026, 10:13 WIB
Bappenas menjelaskan pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia perlu kolaborasi berbagai pihak
01 November 2026, 07:00 WIB
Peluang kolaborasi dari AISI terbuka lebar untuk merek-merek sepeda motor Cina yang mulai masuk Indonesia
31 Oktober 2026, 22:37 WIB
Absennya Jorge Martin menjadi kesempatan berharga bagi Marquez untuk raih kemenangan di MotoGP Malaysia 2026
31 Oktober 2026, 18:12 WIB
Deus ex Machina kembali ikut serta dalam acara tahunan yang mengumpulkan berbagai hobi maupun kesenian
31 Oktober 2026, 14:38 WIB
Sprint race MotoGP Malaysia 2026 dimenangkan oleh Pedro Acosta, hadapi persaingan sengit dengan Marc Marquez