Ini Fungsi Sensor LiDAR yang Banyak Dipakai di Mobil Listrik Cina
06 Januari 2026, 16:00 WIB
Pemerintah Amerika Serikat menyetop insentif mobil listrik per 30 September 2025, manufaktur mulai kesulitan
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Era elektrifikasi saat ini banyak diramaikan produk-produk dari Tiongkok. Imbasnya banyak manufaktur lain harus berusaha lebih keras mengejar perkembangan teknologi tersebut.
Sayangnya tidak semua merek bisa bertahan. Banyak produsen tampak kesulitan mempertahankan penjualan khususnya setelah insentif di Amerika Serikat dihentikan.
Perlu diketahui sebelumnya ada subsidi diberikan pemerintah senilai 7.500 USD atau sekitar Rp 124,2 jutaan dalam kurs rupiah.
Sebagai gambaran, di Indonesia angkanya ada di kisaran Rp 70 jutaan buat model yang memenuhi persyaratan.
Di Negeri Paman Sam, harga mobil listrik disebut melonjak setelah pemerintah menghentikan insentif di 30 September 2025.
Imbasnya, beberapa produsen memutuskan buat memberikan ‘insentif mandiri’ dalam bentuk diskon ataupun varian yang lebih rendah dengan harga terjangkau.
Merek asal Korea Selatan, Hyundai memberikan subsidi 11.000 USD atau setara Rp 182,2 jutaan untuk Ioniq 5.
Kemudian Tesla memperkenalkan tipe baru dari Model 3 dan Model Y, tetapi harganya diturunkan.
Akan tetapi pengamat menilai kiat-kiat yang dilakukan para pabrikan itu belum tentu berhasil, meskipun bervariasi dan unik.
“Pabrikan hanya ingin mempertahankan angka penjualan berkelanjutan dan ini adalah rangkaian usaha mereka,” kata Ivan Dury, Director of Insights Edmunds dikutip dari Carscooops, Jumat (10/10).
Di lain sisi, beberapa merek justru menghentikan penjualan mobil listrik mereka secara bersamaan.
Di antaranya adalah Acura ZDX SUV. Kemudian Stellantis membatalkan rencana penjualan RAM 1500 REV.
Ditambah gempuran mobil listrik asal Cina yang semakin populer, merek lain harus memutar otak apabila ingin tetap memperkenalkan lini elektrifikasi di pasaran.
Sebab merek Tiongkok punya keunggulan fitur berlimpah dipadukan harga kompetitif, seringkali jauh berada di bawa rival di segmen serupa.
Sebagai gambaran, di Indonesia mobil listrik seperti BYD mendapatkan insentif impor dari pemerintah.
Hal ini membuat banderol mobil listrik BYD diklaim terjangkau mulai Rp 195 jutaan, mengancam keberadaan merek lain termasuk sesama brand Tiongkok.
Namun banderol tersebut berpotensi berubah tahun depan saat insentif mobil listrik impor disetop.
Apabila tak memenuhi kriteria Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) maka harga mobil listrik BYD bisa melonjak tajam.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
06 Januari 2026, 16:00 WIB
06 Januari 2026, 11:00 WIB
06 Januari 2026, 07:00 WIB
05 Januari 2026, 13:00 WIB
05 Januari 2026, 12:00 WIB
Terkini
07 Januari 2026, 13:00 WIB
Segera meluncur di Indonesia, mobil listrik iCar V23 telah diuji tingkat keamanannya oleh ASEAN NCAP
07 Januari 2026, 12:00 WIB
Ekspor mobil Toyota buatan Indonesia terancam turun akibat kebijakan sistem proteksi yang dilakukan pemerintah Meksiko
07 Januari 2026, 11:00 WIB
Honda optimis penghapusan pajak penghasilan buat sebagian masyarakat bisa membuat pasar otomotif tumbuh
07 Januari 2026, 10:00 WIB
Subsidi motor listrik terbukti tidak hanya pemanis saja, namun menjadi penggerak bagi pasar EV di Tanah Air
07 Januari 2026, 09:00 WIB
Beberapa harga motor matic murah Yamaha terpantau mengalami kenaikan dengan besaran bervariasi di Januari
07 Januari 2026, 08:00 WIB
Daihatsu Rocky Hybrid belum mengalami penyesuaian harga di Januari 2026, sudah mulai dikirim ke konsumen
07 Januari 2026, 07:00 WIB
Terlihat empat siluet mobil di laman resmi Omoda Indonesia, salah satunya diduga SUV hybrid Omoda O9
07 Januari 2026, 06:44 WIB
Untuk mengurus dokumen berkendara, masyarakat bisa memanfaatkan kehadiran SIM keliling Bandung hari ini