Penjelasan BYD soal Pergantian Nama Diler Denza
22 Agustus 2026, 12:34 WIB
Mobil listrik impor tak lagi mendapatkan insentif di 2026, harganya berpeluang naik jika tidak dirakit lokal
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Insentif mobil listrik impor resmi akan diberhentikan oleh pemerintah mulai akhir 2025.
Seluruh merek yang menerima insentif perlu melakukan perakitan lokal mulai tahun depan dan memanfaatkan komponen lokal guna mempertahankan harga jual.
Perlu diingat sepanjang 2025 ada sejumlah merek penerima insentif mobil listrik impor, termasuk BYD dan GAC Aion.
Insentif tersebut memang terbukti mendongkrak angka penjualan mobil listrik BYD di dalam negeri.
Sebab meskipun berstatus Completely Built Up (CBU), potongan pajak membuat harga mobil semakin kompetitif.
Namun sampai saat ini, diketahui bahwa BYD belum mengikat perjanjian kerja sama dengan penyedia komponen lokal.
Menurut pihak Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo, deretan mobil listrik CBU yang tidak dirakit lokal per 2026 berpotensi mengalami lonjakan harga.
“Kalau tahun depan kan mereka sudah harus bikin (mobil listrik) di sini. Jika impor, pasti (harga) akan naik karena ada logistic cost,” kata Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo di Jakarta beberapa waktu lalu.
Sebagai gambaran, harga mobil listrik termurah BYD di dalam negeri adalah Atto 1 mulai dari Rp 195 jutaan.
Tanpa bantuan insentif, harganya diperkirakan naik 40 persen menjadi Rp 273 jutaan.
Hal serupa berpotensi dialami oleh model-model BYD lain jika tidak memenuhi persyaratan perakitan lokal dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 40 persen per 2026.
Hanya saja Gaikindo menegaskan keputusan akhir soal harga ada di tangan setiap pabrikan.
“Itu (soal perubahan harga) kebijakan masing-masing pabrikan yang memuat,” tegas Kukuh.
Dalam kesempatan terpisah, ekonom menilai perlu ada transisi kebijakan sebelum insentif mobil listrik impor benar-benar disetop.
Sehingga harganya meroket pesat dan kembali menurunkan angka penjualan.
Misalnya Tiered Incentives berbasis TKDN atau CO2. Lalu merek yang cepat produksi lokal bisa mempertahankan harga kompetitif.
“Pembebasan bea masuk komponen, bukan CBU. Super-deduction untuk investasi tooling atau pack baterai,” kata Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Namun yang jadi catatan, impor komponen justru dapat merugikan produsen lokal.
Mengingat industri komponen menanti lokalisasi pasca disetopnya insentif mobil listrik impor demi menghindari terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
22 Agustus 2026, 12:34 WIB
20 Agustus 2026, 21:00 WIB
20 Agustus 2026, 15:00 WIB
20 Agustus 2026, 13:00 WIB
19 Agustus 2026, 09:00 WIB
Terkini
24 Agustus 2026, 09:00 WIB
Pergeseran minat pelaku usaha menuju kendaraan elektrifikasi, khususnya hybrid, sudah mulai terlihat
24 Agustus 2026, 06:20 WIB
Untuk bisa nyaman menggunakan kendaraan pribadi di Ibu Kota, Ikuti aturan Ganjil Genap Jakarta hari ini
24 Agustus 2026, 06:12 WIB
SIM keliling Bandung tetap beroperasi hari ini untuk melayani masyarakat di Kota Kembang dari dua lokasi
24 Agustus 2026, 06:11 WIB
Perpanjangan masa berlaku bisa di fasilitas SIM keliling Jakarta hari ini, simak lokasi dan syaratnya
23 Agustus 2026, 21:10 WIB
Motul boyong produk-produk unggulan yang memudahkan pembelian para pengunjung Indonesia Custom Show 2026
23 Agustus 2026, 20:38 WIB
Ipone tunjukkan komitmennya untuk mendekatkan diri dengan para pelanggan setia di Indonesia Custom Show 2026
23 Agustus 2026, 12:02 WIB
Chery J6T CSH memiliki tampilan yang sama dengan versi listrik namun mempunyai jarak tempuh lebih jauh
23 Agustus 2026, 09:47 WIB
Omoda & Jaecoo Trimegah Bogor bisa memberikan fasilitas body and paint bagi konsumen dengan jaringan