Rapor Impor BYD Periode Januari-November, Tembus 60 Ribu Unit
10 Desember 2025, 20:00 WIB
Mobil listrik impor tak lagi mendapatkan insentif di 2026, harganya berpeluang naik jika tidak dirakit lokal
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Insentif mobil listrik impor resmi akan diberhentikan oleh pemerintah mulai akhir 2025.
Seluruh merek yang menerima insentif perlu melakukan perakitan lokal mulai tahun depan dan memanfaatkan komponen lokal guna mempertahankan harga jual.
Perlu diingat sepanjang 2025 ada sejumlah merek penerima insentif mobil listrik impor, termasuk BYD dan GAC Aion.
Insentif tersebut memang terbukti mendongkrak angka penjualan mobil listrik BYD di dalam negeri.
Sebab meskipun berstatus Completely Built Up (CBU), potongan pajak membuat harga mobil semakin kompetitif.
Namun sampai saat ini, diketahui bahwa BYD belum mengikat perjanjian kerja sama dengan penyedia komponen lokal.
Menurut pihak Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo, deretan mobil listrik CBU yang tidak dirakit lokal per 2026 berpotensi mengalami lonjakan harga.
“Kalau tahun depan kan mereka sudah harus bikin (mobil listrik) di sini. Jika impor, pasti (harga) akan naik karena ada logistic cost,” kata Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo di Jakarta beberapa waktu lalu.
Sebagai gambaran, harga mobil listrik termurah BYD di dalam negeri adalah Atto 1 mulai dari Rp 195 jutaan.
Tanpa bantuan insentif, harganya diperkirakan naik 40 persen menjadi Rp 273 jutaan.
Hal serupa berpotensi dialami oleh model-model BYD lain jika tidak memenuhi persyaratan perakitan lokal dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 40 persen per 2026.
Hanya saja Gaikindo menegaskan keputusan akhir soal harga ada di tangan setiap pabrikan.
“Itu (soal perubahan harga) kebijakan masing-masing pabrikan yang memuat,” tegas Kukuh.
Dalam kesempatan terpisah, ekonom menilai perlu ada transisi kebijakan sebelum insentif mobil listrik impor benar-benar disetop.
Sehingga harganya meroket pesat dan kembali menurunkan angka penjualan.
Misalnya Tiered Incentives berbasis TKDN atau CO2. Lalu merek yang cepat produksi lokal bisa mempertahankan harga kompetitif.
“Pembebasan bea masuk komponen, bukan CBU. Super-deduction untuk investasi tooling atau pack baterai,” kata Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Namun yang jadi catatan, impor komponen justru dapat merugikan produsen lokal.
Mengingat industri komponen menanti lokalisasi pasca disetopnya insentif mobil listrik impor demi menghindari terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
10 Desember 2025, 20:00 WIB
10 Desember 2025, 14:00 WIB
10 Desember 2025, 09:00 WIB
09 Desember 2025, 15:00 WIB
09 Desember 2025, 11:01 WIB
Terkini
10 Desember 2025, 21:00 WIB
Mitsubishi Fuso menyalurkan bantuan ke korban banjir Sumatera, seperti bahan makanan siap santap dan service
10 Desember 2025, 20:00 WIB
BYD harus merakit lokal setidaknya 60 ribu unit kendaraan di 2026 setelah insentif EV impor berakhir
10 Desember 2025, 19:00 WIB
Diler BMW Mini Bekasi berada di bawah naungan Tunas Group, turut sediakan area untuk perbaikan kendaraan
10 Desember 2025, 18:00 WIB
Piaggio Liberty S mendapat sentuhan baru jelang akhir 2025, motor ini mendapat banyak pembaruan selain desain
10 Desember 2025, 17:00 WIB
Max Verstappen berhasil memenangkan balapan di GP Abu Dhabi meskipun harus rela kehilangan gelar juara dunia
10 Desember 2025, 16:00 WIB
Isuzu Indonesia mengalami kenaikan pangsa pasar mereka sudah mencapai 28.6 persen hingga Oktober 2025
10 Desember 2025, 15:00 WIB
Seorang konsumen loyal Mitsubishi Fuso di Surabaya resmi menerima 10 unit Fighter X FM65F TH 4x2 hari ini
10 Desember 2025, 14:00 WIB
Di penghujung tahun harga mobil listrik masih terbilang stabil, ada Changan Lumin mulai Rp 100 jutaan