Penjualan Merek Mobil Mewah Juli 2026, Kompak Turun
14 Agustus 2026, 11:00 WIB
Mobil listrik impor tak lagi mendapatkan insentif di 2026, harganya berpeluang naik jika tidak dirakit lokal
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Insentif mobil listrik impor resmi akan diberhentikan oleh pemerintah mulai akhir 2025.
Seluruh merek yang menerima insentif perlu melakukan perakitan lokal mulai tahun depan dan memanfaatkan komponen lokal guna mempertahankan harga jual.
Perlu diingat sepanjang 2025 ada sejumlah merek penerima insentif mobil listrik impor, termasuk BYD dan GAC Aion.
Insentif tersebut memang terbukti mendongkrak angka penjualan mobil listrik BYD di dalam negeri.
Sebab meskipun berstatus Completely Built Up (CBU), potongan pajak membuat harga mobil semakin kompetitif.
Namun sampai saat ini, diketahui bahwa BYD belum mengikat perjanjian kerja sama dengan penyedia komponen lokal.
Menurut pihak Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo, deretan mobil listrik CBU yang tidak dirakit lokal per 2026 berpotensi mengalami lonjakan harga.
“Kalau tahun depan kan mereka sudah harus bikin (mobil listrik) di sini. Jika impor, pasti (harga) akan naik karena ada logistic cost,” kata Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo di Jakarta beberapa waktu lalu.
Sebagai gambaran, harga mobil listrik termurah BYD di dalam negeri adalah Atto 1 mulai dari Rp 195 jutaan.
Tanpa bantuan insentif, harganya diperkirakan naik 40 persen menjadi Rp 273 jutaan.
Hal serupa berpotensi dialami oleh model-model BYD lain jika tidak memenuhi persyaratan perakitan lokal dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 40 persen per 2026.
Hanya saja Gaikindo menegaskan keputusan akhir soal harga ada di tangan setiap pabrikan.
“Itu (soal perubahan harga) kebijakan masing-masing pabrikan yang memuat,” tegas Kukuh.
Dalam kesempatan terpisah, ekonom menilai perlu ada transisi kebijakan sebelum insentif mobil listrik impor benar-benar disetop.
Sehingga harganya meroket pesat dan kembali menurunkan angka penjualan.
Misalnya Tiered Incentives berbasis TKDN atau CO2. Lalu merek yang cepat produksi lokal bisa mempertahankan harga kompetitif.
“Pembebasan bea masuk komponen, bukan CBU. Super-deduction untuk investasi tooling atau pack baterai,” kata Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Namun yang jadi catatan, impor komponen justru dapat merugikan produsen lokal.
Mengingat industri komponen menanti lokalisasi pasca disetopnya insentif mobil listrik impor demi menghindari terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
14 Agustus 2026, 11:00 WIB
13 Agustus 2026, 18:54 WIB
12 Agustus 2026, 19:55 WIB
12 Agustus 2026, 14:50 WIB
12 Agustus 2026, 09:00 WIB
Terkini
14 Agustus 2026, 11:00 WIB
Merek mobil mewah memperlihatkan tren negatif di periode Juli 2026, BMW masih memimpin disusul Mercedes-Benz
14 Agustus 2026, 09:00 WIB
Penjualan BMW disebut positif selama perhelatan GIIAS 2026, tuai respons positif terhadap BMW iX3 Neue Klasse
14 Agustus 2026, 07:00 WIB
Motor listrik nasional baru saja diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto dengan menggandeng Indika
14 Agustus 2026, 06:00 WIB
Ganjil Genap Jakarta hari ini masih ada 26 titik yang membatasi mobil pribadi dengan pelat nomor sesuai tanggal
14 Agustus 2026, 06:00 WIB
Mendekati akhir pekan, SIM keliling Jakarta masih dapat dimanfaatkan dan tersedia di lima lokasi berbeda
14 Agustus 2026, 06:00 WIB
Sebelum akhir pekan SIM keliling Bandung hadir di dua lokasi berbeda agar lebih mudah ditemukan masyarakat
13 Agustus 2026, 22:00 WIB
BMW iX3 Neue Klasse bakal menjadi lead car di acara Maybank Marathon Bali pada 21-23 Agustus mendatang
13 Agustus 2026, 21:34 WIB
Lamborghini Temerario hadir di Indonesia untuk menggoda para orang berkantong tebal dan pencinta kecepatan