BYD Atto 2 Terdaftar di Indonesia, Versi Terbarunya Debut
22 September 2026, 07:00 WIB
Berakhirnya insentif dari pemerintah membuat kinerja penjualan mobil listrik di Cina pada tahun depan turun
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Penjualan mobil listrik di Cina terbilang sangat positif pada 2025. Hal tersebut terjadi karena beberapa faktor.
Semisal harga ditawarkan sangat kompetitif. Kemudian ada insentif untuk masyarakat yang ingin memboyong electric vehicle (EV) melalui skema tukar tambah dengan mobil konvensional.
Selanjutnya pemerintah Tiongkok juga membebaskan pajak pembelian mobil listrik sebesar 10 persen. Kebijakan tersebut berlaku sampai Desember 2025.
Seluruh keuntungan di atas membuat masyarakat berbondong-bondong membeli kendaraan roda empat setrum.
Akan tetapi menurut laporan Economist Intelligence pada Senin (29/12), penjualan mobil listrik di Cina diprediksi melambat di 2026.
“Beberapa pemerintah provinsi telah menangguhkan skema tukar tambah pada tahun ini, karena ketersediaan pendanaan yang lebih rendah,” tulis media daring itu.
Lalu dijelaskan bahwa pada 2026 pasar mobil listrik menghadapi berbagai tekanan. Seperti ketegangan perdagangan, pergeseran tarif serta ketidakpastian regulasi pemerintah.
Kondisi di atas memaksa para produsen untuk memikirkan kembali produksi, penetapan harga maupun strategi pasar.
Hal senada turut dilaporkan oleh Techinasia. Media daring ini menuliskan bahwa para analis mengungkapkan puluhan produsen mobil listrik di Cina berada dalam ancaman serius pada 2026.
Mereka kemungkinan besar akan menutup atau mengurangi operasinya pada tahun depan. Hal itu karena pertumbuhan industri melambat dan insentif dari pemerintah berakhir.
“Sekitar 50 produsen mobil listrik yang merugi menghadapi tekanan untuk mengurangi skala produksi atau mengakhiri bisnis,” tutur mereka.
Jika benar terjadi penurunan penjualan pada 2026, tentu ini menjadi fenomena pertama sejak 2020 lalu.
“Deutsche dan JP Morgan memperkirakan penurunan penjualan kendaraan secara keseluruhan sebesar tiga persen hingga lima persen,” lanjut mereka.
Situasi tersebut diperkirakan bakal semakin parah ke depan. Mengingat pada Januari 2026 pajak pembelian mobil listrik naik menjadi lima persen.
Para analis pun menerangkan bahwa hanya ada segelintir pabrikan yang akan bertahan. Seperti contoh BYD dan Seres.
Sebab mereka mampu menghasilkan keuntungan. Sesuatu tidak bisa dilakukan oleh merek-merek lain.
“Akan terjadi lebih banyak konsolidasi dan dorongan yang lebih kuat untuk memasuki pasar luar negeri,” tegas mereka.
Tentu keputusan di atas bisa saja berdampak ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Mengingat di Tanah Air saat ini banyak pabrikan asal Tiongkok yang menjajakan produknya.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
22 September 2026, 07:00 WIB
21 September 2026, 11:16 WIB
20 September 2026, 21:41 WIB
19 September 2026, 21:00 WIB
17 September 2026, 13:00 WIB
Terkini
24 September 2026, 07:00 WIB
Bagi penggemar Vespa matic sekarang jadi waktu yang tepat untuk membeli kendaraan roda dua asal Italia itu
24 September 2026, 06:00 WIB
Ganjil Genap Jakarta kembali diandalkan untuk memecah kebuntuan di sejumlah jalanan protokol Ibu Kota
24 September 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Jakarta tersebar di lima tempat berbeda hari ini, berikut lokasi dan jam operasionalnya
24 September 2026, 06:00 WIB
Jika ingin mengurus dokumen berkendara, Anda bisa memilih salah satu lokasi SIM keliling Bandung hari ini
23 September 2026, 22:39 WIB
Pertamina Lubricants dan Telkomsel berkolaborasi untuk menghadirkan Promo Gokil untuk para ojek online
23 September 2026, 19:00 WIB
Daihatsu buktikan komitmennya menjaga efisiensi energi dan keberlanjutan dalam proses produksi kendaraan
23 September 2026, 17:49 WIB
Sistem Series-Parallel Hybrid dan Power Split Device di Toyota Veloz Hybrid punya konsumsi BBM tergolong hemat
23 September 2026, 09:00 WIB
Hyundai Stargazer Cartenz diklaim mendapat sambutan positif usai HMID menerapkan strategi baru di Indonesia