Bahaya Door Handle Elektrik Patut Jadi Perhatian Produsen EV
22 Januari 2026, 14:10 WIB
Berakhirnya insentif dari pemerintah membuat kinerja penjualan mobil listrik di Cina pada tahun depan turun
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Penjualan mobil listrik di Cina terbilang sangat positif pada 2025. Hal tersebut terjadi karena beberapa faktor.
Semisal harga ditawarkan sangat kompetitif. Kemudian ada insentif untuk masyarakat yang ingin memboyong electric vehicle (EV) melalui skema tukar tambah dengan mobil konvensional.
Selanjutnya pemerintah Tiongkok juga membebaskan pajak pembelian mobil listrik sebesar 10 persen. Kebijakan tersebut berlaku sampai Desember 2025.
Seluruh keuntungan di atas membuat masyarakat berbondong-bondong membeli kendaraan roda empat setrum.
Akan tetapi menurut laporan Economist Intelligence pada Senin (29/12), penjualan mobil listrik di Cina diprediksi melambat di 2026.
“Beberapa pemerintah provinsi telah menangguhkan skema tukar tambah pada tahun ini, karena ketersediaan pendanaan yang lebih rendah,” tulis media daring itu.
Lalu dijelaskan bahwa pada 2026 pasar mobil listrik menghadapi berbagai tekanan. Seperti ketegangan perdagangan, pergeseran tarif serta ketidakpastian regulasi pemerintah.
Kondisi di atas memaksa para produsen untuk memikirkan kembali produksi, penetapan harga maupun strategi pasar.
Hal senada turut dilaporkan oleh Techinasia. Media daring ini menuliskan bahwa para analis mengungkapkan puluhan produsen mobil listrik di Cina berada dalam ancaman serius pada 2026.
Mereka kemungkinan besar akan menutup atau mengurangi operasinya pada tahun depan. Hal itu karena pertumbuhan industri melambat dan insentif dari pemerintah berakhir.
“Sekitar 50 produsen mobil listrik yang merugi menghadapi tekanan untuk mengurangi skala produksi atau mengakhiri bisnis,” tutur mereka.
Jika benar terjadi penurunan penjualan pada 2026, tentu ini menjadi fenomena pertama sejak 2020 lalu.
“Deutsche dan JP Morgan memperkirakan penurunan penjualan kendaraan secara keseluruhan sebesar tiga persen hingga lima persen,” lanjut mereka.
Situasi tersebut diperkirakan bakal semakin parah ke depan. Mengingat pada Januari 2026 pajak pembelian mobil listrik naik menjadi lima persen.
Para analis pun menerangkan bahwa hanya ada segelintir pabrikan yang akan bertahan. Seperti contoh BYD dan Seres.
Sebab mereka mampu menghasilkan keuntungan. Sesuatu tidak bisa dilakukan oleh merek-merek lain.
“Akan terjadi lebih banyak konsolidasi dan dorongan yang lebih kuat untuk memasuki pasar luar negeri,” tegas mereka.
Tentu keputusan di atas bisa saja berdampak ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Mengingat di Tanah Air saat ini banyak pabrikan asal Tiongkok yang menjajakan produknya.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
22 Januari 2026, 14:10 WIB
22 Januari 2026, 09:00 WIB
22 Januari 2026, 08:00 WIB
22 Januari 2026, 08:00 WIB
22 Januari 2026, 07:00 WIB
Terkini
22 Januari 2026, 15:00 WIB
Astra Daihatsu Motor baru saja menggelar Fun Badminton bersama Forwot untuk terus menjalankan gaya hidup sehat
22 Januari 2026, 14:10 WIB
Gagang pintu atau door handle elektrik modern pada EV dapat mempersulit evakuasi penumpang saat kecelakaan
22 Januari 2026, 13:00 WIB
Mobil bekas yang berkualitas bisa didapatkan oleh konsumen dengan menerapkan cara yang terukur dan jelas
22 Januari 2026, 12:00 WIB
Hino menegaskan komitmennya untuk menjaga kualitas produk yang mereka produksi sesuai standar internasional
22 Januari 2026, 11:00 WIB
Hino mengakui truk Cina yang diimpor dengan beragam kemudahan membuat persaingan menjadi semakin sulit
22 Januari 2026, 10:00 WIB
Tes pramusim di Sirkuit Sepang bakal menjadi momen penting bagi Fabio Quartararo guna mememaksimalkan mesin V4
22 Januari 2026, 09:00 WIB
GWM Ora 07 Performance terdata di Gaikindo dengan jumlah wholesales 20 unit, berikut rangkuman spesifikasinya
22 Januari 2026, 08:00 WIB
Aletra jadi satu dari sekian merek Tiongkok yang bergabung sebagai anggota Gaikindo, berlaku tahun ini