Merek Mobil Terlaris Juli 2026: Mitsubishi Kembali ke Tiga Besar
13 Agustus 2026, 18:54 WIB
Gaikindo buka peluang buat merevisi target penjualan mobil baru tahun ini karena kondisi yang terus memburuk
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Pasar mobil baru di Indonesia masih juga belum bergairah. Bahkan setelah digelar GIIAS 2025 di ICE BSD, Tangerang.
Dalam pameran yang berlangsung selama 11 hari tersebut, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memprediksi jumlah transaksi turun.
Gaikindo memang belum memberikan angka pastinya. Namun mereka sudah mengatakan kalau penjualan di GIIAS 2025 tidak sesuai harapan.
Di sisi lain lesunya penjualan mobil baru sudah dapat terlihat sejak awal tahun. Hal itu terbukti dari data milik Gaikindo.
Penjualan kendaraan roda empat anyar secara ritel atau dari diler ke konsumen sejak Januari sampai Juni 2025 hanya menyentuh angka 390.467 unit saja.
Bila diperhatikan secara rinci, angka di atas merosot sampai 9,7 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Sementara bila melihat data pengiriman dari pabrik ke diler (Wholesales) pada enam bulan pertama 2025, berada di level 374.740 unit. Melorot sekitar 8,6 persen dibandingkan dengan 2024.
Melihat fakta di atas, Gaikindo membuka peluang merevisi target penjualan mobil baru di Tanah Air. Rencananya hal itu bakal dilakukan dalam waktu dekat.
“Saya akan lihat bulan Juli (atau) Agustus, kita akan lakukan revisi atau tidak. Tetapi rasanya mungkin akan ada revisi,” ungkap Yohannes Nangoi, Ketua Umum Gaikindo di ICE BSD, Tangerang beberapa waktu lalu.
Sebagai informasi, Gaikindo telah menetapkan target penjualan mobil baru untuk 2025. Mereka ingin meniagakan 850 ribu kendaraan roda empat.
Dari jumlah di atas disertai dengan potensi koreksi sampai 750 unit. Lalu juga berpeluang naik ke 900 ribu unit.
Memang dalam beberapa waktu belakangan kondisi ekonomi di Tanah Air serta di luar negeri sedang tidak baik-baik saja.
Hal itu membuat pendapatan masyarakat semakin kecil. Lalu harga mobil baru kian mahal dari waktu ke waktu.
Otomatis daya beli masyarakat pun merosot tajam. Sehingga berdampak ke industri otomotif yang ada di dalam negeri.
“Kalau kita lihat memang kondisi ekonomi memang agak berat,” Nangoi menuturkan.
Jika situasi ini terus terjadi dalam waktu lama, tentu bakal mengancam keberlangsungan hidup para produsen kendaraan.
Apalagi jika terjadi kompetisi yang tidak sehat antar pabrikan. Seperti penerapan perang harga yang dilakukan para produsen mobil listrik.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
13 Agustus 2026, 18:54 WIB
12 Agustus 2026, 14:50 WIB
05 Agustus 2026, 19:00 WIB
05 Agustus 2026, 18:00 WIB
30 Juli 2026, 16:49 WIB
Terkini
13 Agustus 2026, 22:00 WIB
BMW iX3 Neue Klasse bakal menjadi lead car di acara Maybank Marathon Bali pada 21-23 Agustus mendatang
13 Agustus 2026, 21:34 WIB
Lamborghini Temerario hadir di Indonesia untuk menggoda para orang berkantong tebal dan pencinta kecepatan
13 Agustus 2026, 18:54 WIB
Penjualan mobil di Indonesia kembali pulih, Toyota masih memimpin sebagai merek mobil terlaris di Juli 2026
13 Agustus 2026, 09:00 WIB
Kontes modifikasi BlackAuto Battle 2026 memasuki seri kedua dan menyambangi kota Solo, Jawa Tengah pekan lalu
13 Agustus 2026, 07:00 WIB
AISI melaporkan pada Juli 2026 terjadi kenaikan hingga 23 persen untuk distribusi motor baru di pasar domestik
13 Agustus 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Jakarta melayani perpanjangan masa berlaku SIM A dan C dengan syarat belum lewat tenggat waktu
13 Agustus 2026, 06:00 WIB
Agar lebih mudah dalam pengurusan dokumen berkendara, Anda bisa mendatangi SIM keliling Bandung hari ini
13 Agustus 2026, 06:00 WIB
Ganjil genap Jakarta masih menjadi andalan dalam mencegah kebuntuan pada jalan protokol terutama jam sibuk