DFSK Menjamin Keamanan dan Daya Tahan Baterai PHEV
10 Agustus 2026, 20:00 WIB
Jadi teknologi elektrifikasi yang populer di China, KatadataOTO rangkum perbedaan mobil EREV dan hybrid
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Ada satu teknologi di kendaraan elektrifikasi cukup populer digunakan di China yakni EREV (Extended Range Electric Vehicle). Sekilas EREV mirip seperti PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle).
Pasalnya kedua jenis mobil itu dapat di-charge lewat Charging Station tetapi juga dibekali mesin konvensional dan bisa diisi bensin. Sementara jenis yang umum digunakan termasuk di Indonesia adalah HEV (Hybrid Electric Vehicle).
HEV sendiri terbagi lagi jadi dua yakni Mild Hybrid dan Strong Hybrid. Perbedaan utamanya terletak di kapasitas baterai disematkan dan efisiensi penggunaan bahan bakarnya.
Dirangkum dari berbagai sumber, ada beberapa perbedaan mobil EREV dan hybrid. EREV secara sederhana merupakan mobil listrik yang mendapat bantuan daya dari mesin bensin.
Bedanya dengan mobil hybrid maupun PHEV, mesin konvensional di EREV tidak terhubung penggerak mobil sama sekali dan hanya berfungsi sebagai generator buat baterai.
Sehingga ketika baterai mobil EREV dalam kondisi Low, mesin konvensional dapat membantu mengisi dayanya.
Umumnya kapasitas baterai mobil EREV adalah sekitar 45 kWh, menawarkan jarak tempuh lebih tinggi dibandingkan PHEV. Beberapa model diklaim bisa menjelajah sampai 200 km dalam kondisi baterai penuh.
Bahkan terbarunya pabrikan asal Korea Selatan, Hyundai Motor mengklaim tengah mengembangkan teknologi EREV yang memungkinkan mobil memiliki jarak tempuh 900 km.
Bicara kelebihan, di China harga mobil EREV masih lebih rendah dibandingkan mobil listrik murni atau BEV. Sehingga bisa jadi pilihan atau alternatif mobil hybrid, memiliki sensasi berkendara nyaris seperti mobil listrik.
Namun belum bisa dipastikan bagaimana kisarannya apabila dipasarkan di Indonesia. Teknologi tersebut tergolong baru, kemudian versi serupanya yaitu PHEV seperti Toyota RAV4 GR Sport ditawarkan seharga Rp 1,150 miliar.
Angkanya terpaut jauh dari kebanyakan mobil listrik di dalam negeri saat ini. Apalagi sudah ada MPV setrum mulai Rp 300 jutaan, BYD M6 dan BEV produksi lokal mulai Rp 500 jutaan yakni Hyundai Kona.
Sementara kekurangannya adalah mesin konvensional di EREV menambah bobot kendaraan, bisa mencapai 300 kilogram. Ukurannya yang cukup besar ditambah baterai juga menyita ruang bagasi.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
10 Agustus 2026, 20:00 WIB
10 Agustus 2026, 10:00 WIB
08 Agustus 2026, 07:12 WIB
02 Agustus 2026, 16:47 WIB
02 Agustus 2026, 16:44 WIB
Terkini
15 Agustus 2026, 20:53 WIB
Mobil listrik masih menunjukkan tren positif, model anyar seperti Wuling Aira ev catatkan wholesales tinggi
15 Agustus 2026, 18:57 WIB
Suzuki XL7 Facelift yang baru diluncurkan beberapa pekan lalu, sudah mendapat ribuan pemesanan dari konsumen
15 Agustus 2026, 07:21 WIB
Presiden Prabowo berambisi agar Indonesia memiliki mobil listrik nasional serta memajukan industri otomotif
14 Agustus 2026, 20:50 WIB
Fabio Quartararo mengatakan bahwa ia berniat meninggalkan Yamaha saat melakoni pengujian di Sirkuit Valencia
14 Agustus 2026, 20:48 WIB
Farizon V8E resmi diproduksi di pabrik Handal Indonesia Motor (HIM), kemudian disusul dengan model F3E
14 Agustus 2026, 11:00 WIB
Merek mobil mewah memperlihatkan tren negatif di periode Juli 2026, BMW masih memimpin disusul Mercedes-Benz
14 Agustus 2026, 09:00 WIB
Penjualan BMW disebut positif selama perhelatan GIIAS 2026, tuai respons positif terhadap BMW iX3 Neue Klasse
14 Agustus 2026, 07:00 WIB
Motor listrik nasional baru saja diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto dengan menggandeng Indika