Kendaraan Hybrid Mulai Diminati di Sektor Pertambangan
24 Agustus 2026, 09:00 WIB
Alternatif lain di samping mobil listrik yang juga ramah lingkungan, pemerintah lihat peluang EREV di RI
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – EREV (Extended Range Electric Vehicle) merupakan salah satu jenis kendaraan ramah lingkungan yang cara kerjanya mirip mobil hybrid, namun dibekali baterai lebih besar dan tawarkan efisiensi bahan bakar lebih baik.
Saat ini belum ada di Indonesia, namun pemerintah mulai lihat peluang EREV di RI karena dapat menawarkan beragam keuntungan, salah satunya adalah pengurangan impor bahan bakar minyak.
Menurut Putu Juli Ardika, Plt Dirjen ILMATE impor bahan bakar terkhusus bensin di Indonesia perlu jadi perhatian bersama. Mengingat sebenarnya RI punya potensi pengembangan alternatif lain seperti biofuel.
Biofuel yang lebih ramah lingkungan bisa dipasangkan dengan teknologi lain pada kendaraan, seperti hybrid dan EREV.
“Kita punya bahan bakar biofuel, sehingga migrasi dari gasoline ke biofuel. Kalau lihat di roadmap yang paling potensial itu Flexy Engine kita gabungkan yaitu EREV,” kata Putu di kantor Kemenperin, Rabu (10/7).
Apabila penggunaan EREV nanti sudah maksimal di Indonesia maka ada peluang negara tidak lagi memiliki ketergantungan impor bahan bakar fosil.
“Ini adalah kekayaan kita, menjadi gamechanger,” tegas Putu.
Merek di Indonesia seperti BYD (Build Your Dreams) sudah memiliki lini EREV di negara asalnya. Tetapi untuk menarik produsen menghadirkan model tersebut perlu ada kebijakan mendukung dari pemerintah.
Sementara pabrikan lain seperti PT TAM (Toyota Astra Motor) pernah menghadirkan inovasi Flex-Fuel Vehicle, dapat meminum bahan bakar alternatif bioetanol.
Saat itu model dihadirkan adalah konversi Toyota Fortuner 100 persen kompatibel dengan bioetanol .Kemudian ada Corolla Cross menggunakan bahan bakar hidrogen murni atau H2.
Menurut Putu kebijakan pendukung dari pemerintah dapat menarik produsen hadirkan lebih banyak kendaraan ramah lingkungan buat konsumen.
Ia mencontohkan Thailand yang menerapkan pajak rendah untuk kendaraan ramah lingkungan. Sementara Indonesia masih sebesar 23-33 persen.
“Kita sebenarnya cukup dibanjiri oleh Low Emission Vehicle, semestinya kita bisa mendorong ini jadi suatu inisiatif baru untuk meningkatkan produksi dan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi,” pungkas dia.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
24 Agustus 2026, 09:00 WIB
20 Agustus 2026, 19:19 WIB
19 Agustus 2026, 15:12 WIB
10 Agustus 2026, 20:00 WIB
08 Agustus 2026, 07:12 WIB
Terkini
28 Agustus 2026, 17:00 WIB
Jetour T2 Facelift hadir di Chengdu Auto Show dengan ubahan drastis di bagian depan, tampil mirip Defender
28 Agustus 2026, 15:00 WIB
Geely menemukan ada permasalahan pada LiDAR beberapa model mobil Lynk & Co yang diproduksi mulai awal 2025
28 Agustus 2026, 13:00 WIB
Ai Ogura harus masuk ke ruang operasi karena mengalami patah tulang pada tangan kiri usai kecelakaan di Jepang
28 Agustus 2026, 06:00 WIB
Demi memudahkan masyarakat mengurus dokumen berkendara, kepolisian menghadirkan SIM keliling Bandung hari ini
28 Agustus 2026, 06:00 WIB
Mendekati akhir pekan, SIM keliling Jakarta masih dapat dimanfaatkan di lima lokasi berbeda hari ini
28 Agustus 2026, 06:00 WIB
Aturan ganjil genap Jakarta masih menjadi andalan pihak aparat untuk membendung jumlah kendaraan di jam sibuk
27 Agustus 2026, 15:00 WIB
Changan memboyong sejumlah model andalan dari berbagai sub merek, tawarkan variasi produk buat konsumen
27 Agustus 2026, 11:00 WIB
Untuk pasar India, Honda ADV 160 kini pakai mesin bensin yang dapat menenggak bahan bakar campuran etanol