Chery Siapkan Kei Car Untuk Invasi Pasar Otomotif Jepang
29 Mei 2026, 07:00 WIB
Jepang tantang Indonesia jadi penghasil nikel untuk baterai kendaraan listrik setelah menemukan sumber nikel
Oleh Adi Hidayat
KatadataOTO – Indonesia telah dikenal sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia karena jumlahnya diperkirakan mencapai 55 juta metrik ton. Angka ini bahkan lebih besar dibandingkan Australia yang duduk di posisi kedua dengan catatan sebesar 24 juta metrik ton.
Sementara untuk negara penghasil nikel terbesar di dunia saat ini masih dipegang Indonesia. Pada 2023, jumlah yang diproduksi adalah 1,8 juta metrik ton.
Jumlah itu mencapai 50 persen dari total produksi nikel dunia sebesar 3,6 juta metrik ton. Filipina berada di peringkat kedua angka 400.000 metrik ton dilanjutkan Kaledonia Baru sebanyak 230.000 metrik ton dan Rusia 200.000 metrik ton.
Namun Jepang tampaknya berpotensi menjadi penantang Indonesia untuk menjadi supplier nikel bagi baterai kendaraan listrik. Pasalnya mereka baru saja menemukan mineral yang diperkirakan mencapai 230 juta metrik ton di pulau Minamitorishima sekitar 1.931 km dari Tokyo.
Para peneliti menemukan adanya timbunan nodul mangan pada 5.000 meter di bawah permukaan laut dengan kandungan kobalt sangat besar. Jumlahnya bahkan diperkirakan cukup memenuhi kebutuhan Jepang selama 75 tahun.
Tak hanya itu, mereka juga menemukan kandungan nikel di dalamnya yang bisa untuk memenuhi kebutuhan negara selama lebih dari satu dekade. Kedua mineral tersebut merupakan komponen penting dalam produksi baterai kendaraan listrik.
Dilansir dari Business Insider, jumlah kobalt yang terkandung sekitar 610.000 metrik ton sementara untuk nikel adalah 740.000 metrik ton.
Meski Jepang merupakan negara dengan industri otomotif sangat kuat, mereka cukup tertinggal dalam perlombaan produksi kendaraan listrik khususnya China. Oleh sebab itu penemuan cadangan nikel, kobalt dan mangan dalam jumlah besar berpotensi mengubah peta persaingan.
Pemanenan material dalam skala komersial rencananya dimulai pada 2026 namun ada banyak tantangan di dalamnya. Pasalnya penambangan di laut dalam memerlukan biaya mahal, sulit secara teknis dan penuh kontroversi.
Namun imbalan dari semua itu cukup sepadan karena permintaan nikel dan kobalt diperkirakan bakal terus meroket beberapa dekade mendatang.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
29 Mei 2026, 07:00 WIB
28 April 2026, 15:00 WIB
16 April 2026, 07:56 WIB
05 April 2026, 15:25 WIB
02 April 2026, 11:00 WIB
Terkini
10 Juni 2026, 11:00 WIB
BYD kembali memantik pembicaraan soal keterlibatannya di ajang balap bergengsi Formula 1 pasca GP Monako
10 Juni 2026, 09:00 WIB
Massimo Rivola menilai kalau Jorge Martin tidak seharusnya melakukan kesalahan yang membuat kecelakaan
10 Juni 2026, 07:00 WIB
Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga bbm non-subsidi, mulai dari Pertamax hingga Green 95
10 Juni 2026, 06:00 WIB
Ganjil Genap Jakarta hari ini akan dimulai pada pukul 06.00 WIB dan didukung oleh ETLE Statis maupun Mobile
10 Juni 2026, 06:00 WIB
Kepolisian hari ini menghadirkan SIM keliling Bandung di dua tempat, hal ini agar memaksimalkan pelayanan
10 Juni 2026, 06:00 WIB
Perpanjangan masa berlaku SIM bisa dilakukan dengan mudah di fasilitas SIM keliling Jakarta, simak lokasinya
09 Juni 2026, 22:58 WIB
Menurut data AISI pada Selasa (09/06), wholesales motor baru pada bulan lalu mengalami penurunan 7,9 persenan
09 Juni 2026, 21:30 WIB
Penjualan GWM kembali mengalami penurunan drastis di Mei 2026, secara retail hanya tembus 176 unit mobil