Xpeng Tanggapi Keputusan Menkeu Purbaya Beli X9
01 September 2026, 20:11 WIB
Jepang tantang Indonesia jadi penghasil nikel untuk baterai kendaraan listrik setelah menemukan sumber nikel
Oleh Adi Hidayat
KatadataOTO – Indonesia telah dikenal sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia karena jumlahnya diperkirakan mencapai 55 juta metrik ton. Angka ini bahkan lebih besar dibandingkan Australia yang duduk di posisi kedua dengan catatan sebesar 24 juta metrik ton.
Sementara untuk negara penghasil nikel terbesar di dunia saat ini masih dipegang Indonesia. Pada 2023, jumlah yang diproduksi adalah 1,8 juta metrik ton.
Jumlah itu mencapai 50 persen dari total produksi nikel dunia sebesar 3,6 juta metrik ton. Filipina berada di peringkat kedua angka 400.000 metrik ton dilanjutkan Kaledonia Baru sebanyak 230.000 metrik ton dan Rusia 200.000 metrik ton.
Namun Jepang tampaknya berpotensi menjadi penantang Indonesia untuk menjadi supplier nikel bagi baterai kendaraan listrik. Pasalnya mereka baru saja menemukan mineral yang diperkirakan mencapai 230 juta metrik ton di pulau Minamitorishima sekitar 1.931 km dari Tokyo.
Para peneliti menemukan adanya timbunan nodul mangan pada 5.000 meter di bawah permukaan laut dengan kandungan kobalt sangat besar. Jumlahnya bahkan diperkirakan cukup memenuhi kebutuhan Jepang selama 75 tahun.
Tak hanya itu, mereka juga menemukan kandungan nikel di dalamnya yang bisa untuk memenuhi kebutuhan negara selama lebih dari satu dekade. Kedua mineral tersebut merupakan komponen penting dalam produksi baterai kendaraan listrik.
Dilansir dari Business Insider, jumlah kobalt yang terkandung sekitar 610.000 metrik ton sementara untuk nikel adalah 740.000 metrik ton.
Meski Jepang merupakan negara dengan industri otomotif sangat kuat, mereka cukup tertinggal dalam perlombaan produksi kendaraan listrik khususnya China. Oleh sebab itu penemuan cadangan nikel, kobalt dan mangan dalam jumlah besar berpotensi mengubah peta persaingan.
Pemanenan material dalam skala komersial rencananya dimulai pada 2026 namun ada banyak tantangan di dalamnya. Pasalnya penambangan di laut dalam memerlukan biaya mahal, sulit secara teknis dan penuh kontroversi.
Namun imbalan dari semua itu cukup sepadan karena permintaan nikel dan kobalt diperkirakan bakal terus meroket beberapa dekade mendatang.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
01 September 2026, 20:11 WIB
16 Juni 2026, 10:00 WIB
29 Mei 2026, 07:00 WIB
28 April 2026, 15:00 WIB
16 April 2026, 07:56 WIB
Terkini
14 September 2026, 18:02 WIB
Berbekal kemenangan di Misano pada Minggu (13/09), Marquez sukses memuncaki klasemen sementara MotoGP 2026
14 September 2026, 18:01 WIB
BYD kembali berada di puncak daftar merek mobil Cina terlaris periode Agustus 2026 disusul Jaecoo dan Geely
14 September 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Bandung bisa menjadi opsi terbaik untuk Anda yang ingin mengurus dokumen berkendara hari ini
14 September 2026, 06:00 WIB
Untuk bisa mengurai kemacetan panjang di sejumlah jalan protokol Ibu Kota, Ganjil Genap Jakarta masih berlaku
14 September 2026, 05:48 WIB
Kembali beroperasi seperti biasa di lima lokasi, simak informasi lengkap SIM keliling Jakarta hari ini
13 September 2026, 19:55 WIB
Marc Marquez kembali mendominasi dan ada di puncak klasemen sementara setelah MotoGP San Marino 2026
13 September 2026, 18:11 WIB
Astra Financial menunjukkan komitmennya akan penguatan literasi keuangan di Indonesia mencetak Duta OJK Peduli
13 September 2026, 17:47 WIB
YIMM baru saja menggelar acara Yamaha Dirt Bike Experience chapter Skill Up berlokasi di Sirkuit Cibereum