BYD Berniat Punya Pabrik Baterai di Subang Demi Tingkatkan TKDN
06 September 2026, 01:22 WIB
Bahlil mengatakan kalau pemerintah berniat mengimpor lithium dari Australia buat bahan baku baterai EV
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Pemerintah Indonesia terus menggenjot elektrifikasi di dalam negeri. Salah satunya dengan mengimpor lithium dari luar negeri.
Hal itu dilakukan karena ekosistem baterai mobil serta motor listrik merupakan bagian dari hilirisasi yang merupakan program prioritas pemerintah.
“Salah satu negara yang kita akan melakukan kerja sama itu adalah Australia. Selama ini kan kita bawa dari beberapa negara di Afrika,” ungkap Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Antara, Selasa (05/08).
Menurut Bahlil, ada sejumlah pertimbangan mengapa pemerintah mau mengimpor lithium dari Negeri Kanguru. Ambil contoh biaya dibutuhkan lebih minim.
Bahlil Lahadalia menilai kalau membeli lithium di Australia biaya pengirimannya tidak sebesar dari negara-negara lain.
Ditambah sejumlah pengusaha di Tanah Air sudah menambang Lithium di Australia. Jadi lebih mudah mendapatkan barangnya.
“Saya belum tahu volumenya berapa, karena saya bukan pengusahanya,” ucap Menteri ESDM.
Di sisi lain Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional menyatakan Indonesia menargetkan untuk tidak hanya menjadi pasar dalam ekosistem Electric Vehicle (EV) saja.
Namun ingin turut membuat mobil listrik secara menyeluruh. Mulai dari komponen yang dibikin di dalam negeri.
Oleh sebab itu Indonesia dirasa perlu melakukan impor lithium dari Australia sebagai bahan baku baterai EV.
“Di tahap ini kita memastikan bahwa paling tidak ada mitra lokal Indonesia yang bisa menjadi mitra transfer teknologi,” kata Dimas Muhamad, Wakil Koordinator Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional.
Dengan begitu diharapkan Indonesia tidak hanya menjadi pasar mobil maupun motor listrik dari pabrikan negara-negara luar saja.
Sekadar mengingatkan sebelumnya pemerintah telah melakukan proses pembangunan pabrik baterai EV di Karawang, Jawa Barat.
Fasilitas produksi tersebut hasil kolaborasi antara Antam, IBC, CATL serta CBL. Nantinya pabrik baterai EV ini diklaim mampu memproduksi 5,9 gigawatt hour (GWh) baterai per tahun pada 2026.
Namun jumlah itu bakal naik menjadi 15 GWh saat beroperasi penuh di 2028 atau setara 300 ribu unit mobil listrik.
Besarnya jumlah tersebut diharapkan bisa memenuhi kebutuhan pasar EV baik domestik maupun internasional di masa depan.
Ada pun pabrik baterai di Karawang berdiri di atas lahan seluas 43 hektare yang dioperasikan PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB).
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
06 September 2026, 01:22 WIB
12 Agustus 2026, 09:00 WIB
14 Juli 2026, 22:00 WIB
25 Juni 2026, 20:58 WIB
18 Juni 2026, 07:00 WIB
Terkini
27 September 2026, 09:55 WIB
Fasilitas uji kelaikan kendaraan BPLJSKB Bekasi telah dikembangkan untuk berbagai jenis uji keselamatan mobil
26 September 2026, 19:04 WIB
Wujudkan keinginan konsumen Indonesia Jaecoo J5 EV kenalkan Genuine Body Kit berikan tampilan lebih sporty
26 September 2026, 16:52 WIB
Dorna mengumumkan jadwal MotoGP 2027, terdiri dari 22 seri dan terdapat dua sirkuit baru yang jadi tuan rumah
26 September 2026, 07:00 WIB
Motul Performance Solution hadir untuk melatih para mekanik maupun pemilik bengkel independen di Palembang
25 September 2026, 22:01 WIB
Prestone Racing Coolant baru saja diperkenalkan untuk para pemilik mobil balap di Automechanika Jakarta 2026
25 September 2026, 19:00 WIB
Pemerintah berencana untuk memberikan insentif motor listrik di tahun ini, tapi belum menemui titik terang
25 September 2026, 17:23 WIB
Suzuki e Sky punya peluang dihadirkan di RI, namun perlu memperhagikan strategi bersaing dengan para rivalnya
25 September 2026, 17:22 WIB
Motul Indonesia Energy (MIE) memberikan partner ambassador mereka perjalanan berharga ke benua Eropa