Toyota Produksi Baterai Mobil Hybrid di Indonesia, Gandeng CATL
20 April 2026, 21:19 WIB
Bahlil mengatakan kalau pemerintah berniat mengimpor lithium dari Australia buat bahan baku baterai EV
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Pemerintah Indonesia terus menggenjot elektrifikasi di dalam negeri. Salah satunya dengan mengimpor lithium dari luar negeri.
Hal itu dilakukan karena ekosistem baterai mobil serta motor listrik merupakan bagian dari hilirisasi yang merupakan program prioritas pemerintah.
“Salah satu negara yang kita akan melakukan kerja sama itu adalah Australia. Selama ini kan kita bawa dari beberapa negara di Afrika,” ungkap Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Antara, Selasa (05/08).
Menurut Bahlil, ada sejumlah pertimbangan mengapa pemerintah mau mengimpor lithium dari Negeri Kanguru. Ambil contoh biaya dibutuhkan lebih minim.
Bahlil Lahadalia menilai kalau membeli lithium di Australia biaya pengirimannya tidak sebesar dari negara-negara lain.
Ditambah sejumlah pengusaha di Tanah Air sudah menambang Lithium di Australia. Jadi lebih mudah mendapatkan barangnya.
“Saya belum tahu volumenya berapa, karena saya bukan pengusahanya,” ucap Menteri ESDM.
Di sisi lain Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional menyatakan Indonesia menargetkan untuk tidak hanya menjadi pasar dalam ekosistem Electric Vehicle (EV) saja.
Namun ingin turut membuat mobil listrik secara menyeluruh. Mulai dari komponen yang dibikin di dalam negeri.
Oleh sebab itu Indonesia dirasa perlu melakukan impor lithium dari Australia sebagai bahan baku baterai EV.
“Di tahap ini kita memastikan bahwa paling tidak ada mitra lokal Indonesia yang bisa menjadi mitra transfer teknologi,” kata Dimas Muhamad, Wakil Koordinator Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional.
Dengan begitu diharapkan Indonesia tidak hanya menjadi pasar mobil maupun motor listrik dari pabrikan negara-negara luar saja.
Sekadar mengingatkan sebelumnya pemerintah telah melakukan proses pembangunan pabrik baterai EV di Karawang, Jawa Barat.
Fasilitas produksi tersebut hasil kolaborasi antara Antam, IBC, CATL serta CBL. Nantinya pabrik baterai EV ini diklaim mampu memproduksi 5,9 gigawatt hour (GWh) baterai per tahun pada 2026.
Namun jumlah itu bakal naik menjadi 15 GWh saat beroperasi penuh di 2028 atau setara 300 ribu unit mobil listrik.
Besarnya jumlah tersebut diharapkan bisa memenuhi kebutuhan pasar EV baik domestik maupun internasional di masa depan.
Ada pun pabrik baterai di Karawang berdiri di atas lahan seluas 43 hektare yang dioperasikan PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB).
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
20 April 2026, 21:19 WIB
16 April 2026, 07:56 WIB
05 April 2026, 20:10 WIB
16 Maret 2026, 13:34 WIB
30 Januari 2026, 13:00 WIB
Terkini
13 Mei 2026, 21:00 WIB
Di negara asalnya, BYD Atto 1 mendapatkan tambahan sensor LiDAR, jarak tempuh lebih jauh dan dua warna baru
13 Mei 2026, 20:00 WIB
Mobil listrik Chery QQ 3 EV makin dekat ke Indonesia, konsumen cukup menyiapkan booking fee Rp 5 juta
13 Mei 2026, 19:15 WIB
Changan yakin mobil hybrid REEV atau Range Extender Electric Vehicle banyak peminatnya di luar Jakarta
13 Mei 2026, 14:45 WIB
Suzuki menggelar Burgman Fun Rally 2026 untuk mendekatkan diri kepada para konsumen kendaraan roda dua mereka
13 Mei 2026, 14:44 WIB
Maxi Tour Boemi Nusantara 2026 di Pulau Sumatera resmi berakhir setelah JMC diajak menjelajah ke Lampung
13 Mei 2026, 06:00 WIB
Sebelum libur kepolisian menghadirkan SIM keliling Bandung untuk memudahkan para pengendara motor dan mobil
13 Mei 2026, 06:00 WIB
Hari ini fasilitas SIM keliling Jakarta masih dibuka seperti biasa melayani prosedur perpanjangan masa berlaku
13 Mei 2026, 06:00 WIB
Ganjil genap Jakarta hari ini akan berlaku mulai pagi dan kembali aktif pada sore hari untuk mengurai kemacetan