Adu Murah Harga BBM November 2026, Ada Shell dan Pertamina
01 November 2026, 17:37 WIB
Sejumlah persiapan perlu dilakukan sebelum penerapan BBM campuran etanol, banyak kendaraan belum kompatibel
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Kebijakan penerapan etanol 10 persen di bahan bakar minyak (BBM), terus mengundang banyak respons dari berbagai pihak.
Anggota Komisi XII DPR RI memberikan komentar mengenai wacana tersebut. Dia meminta implementasi etanol 10 persen dikaji lagi.
"Bagi banyak kendaraan, adanya kandungan etanol saat ini belum ramah bagi mesin meski secara lingkungan lebih ramah," ungkap Ateng Sutisna, Anggota Komisi XII DPR RI di laman resmi DPR pada Senin (13/10).
Ateng menilai masih banyak kendaraan roda dua maupun empat yang menggunakan sistem pembakaran konvesional.
Jadi belum sepenuhnya siap menerima kadar etanol tinggi dalam BBM. Berpotensi memengaruhi performa maupun daya tahan komponen tertentu.
"Diharapkan saat teknologi mesin mobil semakin canggih, etanol akan menjadi pilihan yang lebih baik," tutur Ateng.
Kendati demikian anggota DPR RI tersebut mengapresiasi rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Meski begitu ia memberi catatan agar implementasi etanol 10 persen tidak memaksa SPBU swasta. Lalu mengorbankan kualitas bahan bakar.
Oleh sebab itu Ateng menegaskan kebijakan energi harus menyesuaikan kesiapan pasar. Selain itu infrastruktur yang menjadi penunjang.
"Jadi untuk saat ini belum tepat jika langsung diterapkan tambahan etanol E10. Tetapi ketika teknologi mesin di Indonesia sudah lebih maju kebijakan ini akan lebih ideal untuk mendukung transisi energi bersih," pungkas Ateng.
Ateng menyarankan pemerintah untuk menggandeng para pakar otomotif. Lalu bekerja sama dengan pelaku industri kendaraan.
Jadi dapat berkonsultasi menentukan campuran etanol, agar dampak terhadap performa mesin dapat diantisipasi dengan baik.
"Kita ingin proses transisi energi yang sukses, bukan transisi dipaksakan. Jadi langkahnya harus bertahap, menyesuaikan kesiapan teknologi nasional," tegas Ateng.
Sekadar mengingatkan, anggota DPR yang lain turut memperingatkan Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM buat mempertimbangkan kapasitas produksi etanol dalam negeri.
Apakah benar-benar mampu memenuhi kebutuhan sebelum program dijalankan secara nasional.
"Saya mendukung E10 sebagai langkah menuju energi bersih. Tetapi jangan sampai kebijakan ini justru membuka keran impor baru," ungkap Ratna Juwita, anggota Komisi XII DPR RI dalam kesempatan terpisah.
Ratna mendorong percepatan pembangunan pabrik bioetanol berskala besar di Bojonegoro, Jawa Timur.
Ia menilai kapasitas pabrik yang sudah ada saat ini masih jauh dari kata cukup, untuk memenuhi kebutuhan etanol sebagai campuran BBM.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
01 November 2026, 17:37 WIB
28 Oktober 2026, 11:00 WIB
22 Oktober 2026, 09:00 WIB
01 Oktober 2026, 17:35 WIB
02 September 2026, 19:52 WIB
Terkini
03 November 2026, 07:00 WIB
MG Motor Indonesia menyatakan penjualan SUV 5-seater ZS Hybrid+ masih sesuai dengan perkiraan di peluncuran
02 November 2026, 21:03 WIB
Chery Group terus mengembangkan pasar robot humanoid dan sejenisnya untuk pasar luar Tiongkok yakni AiMOGA
02 November 2026, 20:23 WIB
IMX 2026 baru selesai di gelar beberapa waktu lalu, pameran otomotif ini diramaikan dengan berbagai kegiatan
02 November 2026, 15:54 WIB
Adopsi motor listrik di Indonesia masih belum semasif mobil listrik, AISI ungkap persentasenya masih kecil
02 November 2026, 11:00 WIB
Marc Marquez saat ini tengah memimpin klasemen sementara MotoGP 2026 usai memenangkan seri Malaysia di Sepang
02 November 2026, 09:00 WIB
Merek mobil Cina mulai menjamur dan mencatatkan penjualan positif di berbagai wilayah, terkininya di eropa
02 November 2026, 07:00 WIB
Yamaha Gear Ultima edisi Kicau Mania hadir perdana di gelaran Umi Kasum Cup VI, jadi inspirasi modifikasi
01 November 2026, 20:29 WIB
iCar Indonesia membuka diler di dalam mal pertamanya di Jakarta untuk mendekatkan diri dengan konsumen