Tianneng Resmikan Pangkalan Pangkalan Produksi Strategis di Jawa Timur
25 Juni 2026, 20:58 WIB
Ada beberapa faktor yang disebut sebagai pemicu orang Indonesia mulai tertarik membeli mobil listrik
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Pertumbuhan mobil listrik di Indonesia terbilang baik, khususnya dengan kehadiran berbagai model baru asal Tiongkok. Harga EV (Electric Vehicle) semakin bervariasi dan ditawarkan kompetitif.
Meskipun banyak kekhawatiran masyarakat terhadap mobil listrik, hasil survey dari lembaga Populix mengungkapkan bahwa ada alasan tertentu orang akhirnya memutuskan beli kendaraan ramah lingkungan.
“Ada beberapa temuan, pertama yang paling dasar terkait aspek lingkungan. Orang Indonesia mulai melek soal lingkungan,” kata Susan Adi Putra, Populix Associate Head of Research for Automotive di Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.
Di samping itu, mobil listrik disebut memiliki berbagai keunggulan yang tidak bisa didapatkan dari kendaraan konvensional.
Berdasarkan paparan data survey dari Populix, tiga poin utama dijadikan alasan masyarakat Indonesia akhirnya beli mobil listrik adalah efisiensi biaya,teknologi modern dan kepraktisan.
Dari segi biaya, disebutkan bahwa mobil listrik tak dibebankan pajak tahunan yang sama dengan kendaraan bermesin bensin. Biaya servis pun diklaim lebih ringan.
Kemudian banyak teknologi baru yang sebelumnya tidak pernah disematkan pada lini kendaraan dalam negeri.
Adi menyorot adanya insentif pemerintah juga dapat menjadi daya tarik tersendiri buat masyarakat Indonesia. Sehingga mereka semakin tertarik beralih dari mobil konvensional.
Bicara soal kondisi saat ini, Adi mengungkapkan hasil survey Populix menunjukkan mobil listrik masih digunakan untuk kebutuhan sehari-hari saja, bukan perjalanan jauh.
“Kami melibatkan usia bervariasi terutama 17 tahun sampai 45 tahun, areanya kebanyakkan di Jawa kemudian Sumatera. Penggunanya punya satu EV kemudian untuk harian,” kata Adi.
Tampaknya penggunaan buat perjalanan jarak jauh masih jarang karena beberapa alasan, seperti SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) yang belum tersebar merata di berbagai daerah.
“Ketersediaan SPKLU menjadi kekhawatiran utama. Lalu terkait diler atau bengkel resmi, karena jarak antar diler masih terlalu jauh,” kata Adi.
Sekadar informasi, model mobil listrik dengan pencapaian wholesales (penyaluran dari pabrik ke diler) tinggi adalah BYD (Built Your Dreams).
Banderolnya cukup kompetitif. Meskipun masih diimpor, BYD sudah berkomitmen melakukan produksi lokal sehingga dapat menikmati insentif impor.
Berkat adanya insentif tersebut, harga mobil listrik BYD bisa ditekan walaupun berstatus CBU (Completely Built Up) alias impor. Banderol inilah yang kemudian diyakini jadi salah satu daya tarik lini kendaraan BYD.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
25 Juni 2026, 20:58 WIB
25 Juni 2026, 20:56 WIB
20 Juni 2026, 11:00 WIB
19 Juni 2026, 19:00 WIB
19 Juni 2026, 13:00 WIB
Terkini
26 Juni 2026, 22:57 WIB
Mitsubishi Pajero Sport tawarkan keseimbangan performa mesin dan efisiensi bahan bakar untuk keluarga
26 Juni 2026, 09:00 WIB
AHM menjelaskan kalau mereka belum memutuskan bagaimana masa depan paten Honda Ryden 160 yang mereka daftarkan
26 Juni 2026, 07:00 WIB
Francesco Bagnaia mendapatkan kontrak selama empat tahun dari Aprilia dan akan berduet dengan Bezzecchi
26 Juni 2026, 06:23 WIB
Ganjil Genap Jakarta kembali diberlakukan hari ini untuk bisa mengurai kemacetan terutama pada jam sibuk
26 Juni 2026, 06:00 WIB
Jangan sampai terlewat, SIM keliling Jakarta masih beroperasi seperti biasa lima lokasi sebelum akhir pekan
26 Juni 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Bandung beroperasi sejak pagi dan melayani para pengendara motor maupun mobil sebelum akhir pekan
25 Juni 2026, 20:58 WIB
Grup Tianneng meresmikan basis produksi yang berlokasi di Surabaya, fokus pada baterai kendaraan listrik
25 Juni 2026, 20:56 WIB
Setelah E4 EV, Lepas masih punya rencana untuk memperkenalkan produk mobil listrik lain untuk pasar RI