BYD Linghui Resmi Debut, Ada Empat Model Baru Khusus Taksi
02 Februari 2026, 19:00 WIB
Ada beberapa faktor yang disebut sebagai pemicu orang Indonesia mulai tertarik membeli mobil listrik
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Pertumbuhan mobil listrik di Indonesia terbilang baik, khususnya dengan kehadiran berbagai model baru asal Tiongkok. Harga EV (Electric Vehicle) semakin bervariasi dan ditawarkan kompetitif.
Meskipun banyak kekhawatiran masyarakat terhadap mobil listrik, hasil survey dari lembaga Populix mengungkapkan bahwa ada alasan tertentu orang akhirnya memutuskan beli kendaraan ramah lingkungan.
“Ada beberapa temuan, pertama yang paling dasar terkait aspek lingkungan. Orang Indonesia mulai melek soal lingkungan,” kata Susan Adi Putra, Populix Associate Head of Research for Automotive di Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.
Di samping itu, mobil listrik disebut memiliki berbagai keunggulan yang tidak bisa didapatkan dari kendaraan konvensional.
Berdasarkan paparan data survey dari Populix, tiga poin utama dijadikan alasan masyarakat Indonesia akhirnya beli mobil listrik adalah efisiensi biaya,teknologi modern dan kepraktisan.
Dari segi biaya, disebutkan bahwa mobil listrik tak dibebankan pajak tahunan yang sama dengan kendaraan bermesin bensin. Biaya servis pun diklaim lebih ringan.
Kemudian banyak teknologi baru yang sebelumnya tidak pernah disematkan pada lini kendaraan dalam negeri.
Adi menyorot adanya insentif pemerintah juga dapat menjadi daya tarik tersendiri buat masyarakat Indonesia. Sehingga mereka semakin tertarik beralih dari mobil konvensional.
Bicara soal kondisi saat ini, Adi mengungkapkan hasil survey Populix menunjukkan mobil listrik masih digunakan untuk kebutuhan sehari-hari saja, bukan perjalanan jauh.
“Kami melibatkan usia bervariasi terutama 17 tahun sampai 45 tahun, areanya kebanyakkan di Jawa kemudian Sumatera. Penggunanya punya satu EV kemudian untuk harian,” kata Adi.
Tampaknya penggunaan buat perjalanan jarak jauh masih jarang karena beberapa alasan, seperti SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) yang belum tersebar merata di berbagai daerah.
“Ketersediaan SPKLU menjadi kekhawatiran utama. Lalu terkait diler atau bengkel resmi, karena jarak antar diler masih terlalu jauh,” kata Adi.
Sekadar informasi, model mobil listrik dengan pencapaian wholesales (penyaluran dari pabrik ke diler) tinggi adalah BYD (Built Your Dreams).
Banderolnya cukup kompetitif. Meskipun masih diimpor, BYD sudah berkomitmen melakukan produksi lokal sehingga dapat menikmati insentif impor.
Berkat adanya insentif tersebut, harga mobil listrik BYD bisa ditekan walaupun berstatus CBU (Completely Built Up) alias impor. Banderol inilah yang kemudian diyakini jadi salah satu daya tarik lini kendaraan BYD.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
02 Februari 2026, 19:00 WIB
02 Februari 2026, 16:00 WIB
02 Februari 2026, 15:00 WIB
02 Februari 2026, 12:00 WIB
02 Februari 2026, 11:00 WIB
Terkini
02 Februari 2026, 21:00 WIB
Mobil hybrid MG VS HEV tampak kesulitan bersaing, masih CBU Thailand dan hanya catatkan wholesales 204 unit
02 Februari 2026, 20:00 WIB
Perluas jangkauan konsumen, Chery perkenalkan pikap bertenaga listrik Himla dengan banderol kompetitif
02 Februari 2026, 19:00 WIB
Merek Linghui yang baru dihadirkan BYD yang dikembangkan untuk kebutuhan khusus komersial termasuk taksi
02 Februari 2026, 18:00 WIB
Aprilia Racing kembali memberikan kontrak baru kepada Marco Bezzecchi selama dua tahun atau sampai akhir 2028
02 Februari 2026, 17:00 WIB
Menurut informasi di laman resmi Shell, mereka masih berkoordinasi dengan pemerintah terkait kuota impor BBM
02 Februari 2026, 16:00 WIB
BYD melaporkan mengalami penurunan penjualan sampai 30,1 persen atau hanya mencatatkan 210.051 di Januari 2026
02 Februari 2026, 15:00 WIB
Toyota bersama Subaru berkolaborasi kembangkan rekayasa transmisi manual buat mobil listrik, ini detailnya
02 Februari 2026, 14:16 WIB
Segera meluncur di IIMS 2026, KatadataOTO mendapatkan kesempatan langsung mencoba mobil hybrid Chery C5 CSH