Mau Charge Mobil Listrik di Rumah, Jangan Sembarangan
20 Januari 2026, 09:00 WIB
Ada beberapa faktor yang disebut sebagai pemicu orang Indonesia mulai tertarik membeli mobil listrik
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Pertumbuhan mobil listrik di Indonesia terbilang baik, khususnya dengan kehadiran berbagai model baru asal Tiongkok. Harga EV (Electric Vehicle) semakin bervariasi dan ditawarkan kompetitif.
Meskipun banyak kekhawatiran masyarakat terhadap mobil listrik, hasil survey dari lembaga Populix mengungkapkan bahwa ada alasan tertentu orang akhirnya memutuskan beli kendaraan ramah lingkungan.
“Ada beberapa temuan, pertama yang paling dasar terkait aspek lingkungan. Orang Indonesia mulai melek soal lingkungan,” kata Susan Adi Putra, Populix Associate Head of Research for Automotive di Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.
Di samping itu, mobil listrik disebut memiliki berbagai keunggulan yang tidak bisa didapatkan dari kendaraan konvensional.
Berdasarkan paparan data survey dari Populix, tiga poin utama dijadikan alasan masyarakat Indonesia akhirnya beli mobil listrik adalah efisiensi biaya,teknologi modern dan kepraktisan.
Dari segi biaya, disebutkan bahwa mobil listrik tak dibebankan pajak tahunan yang sama dengan kendaraan bermesin bensin. Biaya servis pun diklaim lebih ringan.
Kemudian banyak teknologi baru yang sebelumnya tidak pernah disematkan pada lini kendaraan dalam negeri.
Adi menyorot adanya insentif pemerintah juga dapat menjadi daya tarik tersendiri buat masyarakat Indonesia. Sehingga mereka semakin tertarik beralih dari mobil konvensional.
Bicara soal kondisi saat ini, Adi mengungkapkan hasil survey Populix menunjukkan mobil listrik masih digunakan untuk kebutuhan sehari-hari saja, bukan perjalanan jauh.
“Kami melibatkan usia bervariasi terutama 17 tahun sampai 45 tahun, areanya kebanyakkan di Jawa kemudian Sumatera. Penggunanya punya satu EV kemudian untuk harian,” kata Adi.
Tampaknya penggunaan buat perjalanan jarak jauh masih jarang karena beberapa alasan, seperti SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) yang belum tersebar merata di berbagai daerah.
“Ketersediaan SPKLU menjadi kekhawatiran utama. Lalu terkait diler atau bengkel resmi, karena jarak antar diler masih terlalu jauh,” kata Adi.
Sekadar informasi, model mobil listrik dengan pencapaian wholesales (penyaluran dari pabrik ke diler) tinggi adalah BYD (Built Your Dreams).
Banderolnya cukup kompetitif. Meskipun masih diimpor, BYD sudah berkomitmen melakukan produksi lokal sehingga dapat menikmati insentif impor.
Berkat adanya insentif tersebut, harga mobil listrik BYD bisa ditekan walaupun berstatus CBU (Completely Built Up) alias impor. Banderol inilah yang kemudian diyakini jadi salah satu daya tarik lini kendaraan BYD.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
20 Januari 2026, 09:00 WIB
19 Januari 2026, 18:00 WIB
19 Januari 2026, 16:00 WIB
19 Januari 2026, 15:00 WIB
19 Januari 2026, 14:00 WIB
Terkini
20 Januari 2026, 14:31 WIB
Ducati MX Team Indonesia akan dibekali motor pabrikan Desmo450 MX, siap debut di ajang motorcross Thailand
20 Januari 2026, 13:00 WIB
Penyegaraan pada Yamaha Lexi LX 155 diharapkan bisa menggairahkan pasar motor matic Indonesia pada 2026
20 Januari 2026, 12:00 WIB
Lepas jadikan Indonesia sebagai negara pertama yang memiliki diler resmi untuk memberi layanan pada pelanggan
20 Januari 2026, 11:00 WIB
Meski pemesanan sudah dibuka sejak tahun lalu, produksi Lepas L8 baru akan dilakukan mulai bulan depan
20 Januari 2026, 10:00 WIB
Sejumlah motor matic 150 cc yang ditawarkan Yamaha kepada para konsumen mengalami kenaikan di awal 2026
20 Januari 2026, 09:00 WIB
Kebakaran mobil listrik sering berawal dari human error, salah satunya proses pengisian daya yang tidak tepat
20 Januari 2026, 08:00 WIB
Ada berbagai upaya yang bisa dipilih pemerintah Indonesia untuk mengantisipasi kenaikan harga BBM di Tanah Air
20 Januari 2026, 07:00 WIB
Honda UC3 jadi salah satu kandidat motor listrik baru di Indonesia, saat ini baru ditawarkan di Thailand