Penjualan Mobil Mei 2026 Turun, Konsumen Tunda Pembelian
10 Juni 2026, 13:00 WIB
Demo di sejumlah lokasi masih berlangsung hari ini Selasa (02/09), aksi tersebut berpeluang merugikan
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Industri otomotif tengah menghadapi tantangan sangat serius akhir-akhir ini. Apalagi setelah digelarnya demo di berbagai wilayah di Indonesia.
Dimulai sejak Senin (25/08), aksi demostrasi terus meluas serta melebar. Bahkan terjadi penjarahan di beberapa rumah pejabat negara.
Seperti Contoh Ahmad Sahroni, Uya Kuya, Eko Patrio sampai Sri Mulyani, Menteri Keuangan (Menkeu) Republik Indonesia.
Meski demo di Jakarta sudah sedikit mereda, namun di sejumlah daerah masih memanas. Misal di Kota Bandung yang berlangsung sampai Selasa (02/09) dini hari.
Situasi mencekam pecah di kawasan Universitas Islam bandung (Unisba) dan Universitas Pasundan (Unpas). Dua kampus tersebut ditembaki gas air mata oleh kepolisian.
Di sisi lain beberapa aksi demo dikabarkan masih akan digelar di Jakarta pada pekan ini. Aktivitas perkantoran maupun bisnis kian terganggu.
“Demonstrasi meningkatkan persepsi ketidakpastian pendapatan. Membuat rumah tangga menunda pembelian barang tahan lama,” ungkap Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank kepada KatadataOTO belum lama ini.
Lebih jauh Josua mengungkapkan para perusahaan pembiayaan menunjukan gejala down trading. Ia menjelaskan bahwa kredit mobil bekas tumbuh sampai dua digit.
Sementara kredit mobil baru justru menyusut. Para kreditur cenderung memperketat seleksi konsumen yang akan memboyong kendaraan.
Lalu uang muka untuk mencicil kendaraan roda empat turut dinaikan. Situasi tersebut otomatis menekan penjualan unit baru.
“Pada puncak aksi banyak kantor beralih Work From Home (WFH) dan ruas utama ditutup. Ini mengganggu traffic showroom serta distribusi harian di Jakarta,” lanjut Josua.
Aksi penyampaian pendapat yang tidak kunjung selesai turut membuat rupiah terdepresiasi. Berpotensi mengerek biaya produksi atau pengiriman mobil Completely Built Up (CBU).
Jika hal tersebut terjadi, maka harga On The Road (OTR) mobil-mobil CBU bakal melambung tinggi serta margin para pabrikan tergerus.
“Guncangan demo (juga) memperburuk ‘wait-and-see” konsumen. Sehingga risiko penjualan kuartal (tiga) berjalan makin lemah, terutama di mass-market seperti LCGC dan low MPV,” tegas Josua.
Melihat berbagai dampak buruk di atas, pemerintah diminta segera membuat kondisi di sejumlah daerah kembali kondusif.
Jika tidak maka industri otomotif terutama penjualan mobil baru akan semakin berdarah-darah ke depan.
Tentu dalam jangka panjang ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal, kian menghantui para pabrikan dan pelaku industri komponen.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
10 Juni 2026, 13:00 WIB
05 Juni 2026, 14:06 WIB
26 Mei 2026, 20:30 WIB
18 Mei 2026, 19:17 WIB
30 Maret 2026, 20:43 WIB
Terkini
11 Juni 2026, 21:52 WIB
Kawasaki memboyong dua motor baru di PRJ 2026, yakni Brusky 125 sampai KLX 150 XLP guna menggoda para konsumen
11 Juni 2026, 11:50 WIB
Veda Ega Pratama kerap menghabiskan waktu luang, meskipun dirinya menjalani profesi pembalap profesional
11 Juni 2026, 09:30 WIB
IDRS hadir sebagai salah satu inisiator keselamatan deretan produk kendaraan roda dua di dalam negeri
11 Juni 2026, 06:00 WIB
Ganjil Genap Jakarta masih menjadi andalan untuk memecah kebuntuan arus lalu lintas di jalanan Ibu Kota
11 Juni 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Bandung bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengurus dokumen berkendara pada hari ini
11 Juni 2026, 06:00 WIB
Jangan sampai terlambat, SIM keliling Jakarta tidak melayani prosedur perpanjangan SIM yang kedaluwarsa
10 Juni 2026, 17:00 WIB
Yamaha Classy Modifest 2026 perdana di Surabaya sukses diikuti oleh puluhan modifikator di Jawa Timur
10 Juni 2026, 15:00 WIB
Honda menghadapi tantangan, terdepak dari lima besar merek mobil terlaris Mei 2026 secara wholesales