Otomotif Indonesia Butuh Stimulus, Bukan Sekadar Insentif

Insentif bersifat stimulus dipercaya lebih efektif dibandingkan kebijakan yang cenderung bersifat disposable consumption

Otomotif Indonesia Butuh Stimulus, Bukan Sekadar Insentif
Arie Prasetya

KatadataOTO – Penjualan mobil di Indonesia memang tidak baik-baik saja, meski melebihi target revisi Gaikindo pada 2025 dengan catatan retail sales 833.692 unit. Kondisi pelemahan daya beli dan minimnya ruang fiskal pemerintah saat ini membuat prediksi penjualan 2026 cenderung tidak mengalami pergerakan signifikan.

Kelas menengah sebagai potential buyers di industri otomotif, khususnya mobil, perlu dirangsang daya belinya. Bob Azam, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), menyebut bahwa ia berharap pemerintah ke depan berani mengambil kebijakan counter-cyclical, yang artinya memberikan stimulus saat ekonomi melambat.

“Kita butuh program bersifat stimulus, bukan sekadar insentif sekali pakai atau disposable consumption. Dan yang paling besar daya ungkitnya adalah kelas menengah. Kalau mereka diberikan stimulus, dampaknya akan ke mana-mana,” ungkapnya di Bandung beberapa waktu lalu.

Bob menambahkan bahwa kebijakan yang terlalu populis serta fokus ke kelas bawah memang populer saat ini, namun tidak terlalu efektif dalam menggerakkan ekonomi.

Menilai Efektivitas GJAW 2025 Dorong Penjualan Jelang Tutup Tahun
Photo: KatadataOTO

Sementara itu, jika kelas menengah diberikan ruang, mereka akan memiliki peran lebih strategis karena konsumsinya mampu menggerakkan ekonomi secara lebih luas, mulai dari sisi industri manufaktur, pembiayaan, hingga rantai pasok konsumen.

“Kita bisa mencontoh negara lain, Vietnam misalnya. Untuk menjaga konsumsi domestik, PPN diturunkan dari 10 persen ke 8 persen. Malaysia juga memberikan stimulus bagi pembeli kendaraan pertama. Ini lebih tepat sasaran karena mampu mendorong kepemilikan mobil tanpa menganggapnya sebagai barang mewah,” jelas Bob.

Ia menambahkan, jika ekonomi dalam posisi tertekan lalu pemerintah justru menaikkan pajak, itu bukan langkah tepat. Seharusnya dilakukan langkah sebaliknya, yakni terus mengangkat kembali konsumsi, salah satunya dari kelas menengah.

Gaikindo Masih Berharap Target Penjualan Mobil 2025 Bisa Tercapai
Photo: KatadataOTO

Intinya, saat ekonomi melambat, pemerintah Indonesia dapat memberikan stimulus, bukan justru menahan atau menaikkan beban fiskal. Langkah ini diperlukan guna menjaga daya beli dan mencegah kontraksi industri yang lebih dalam.


Terkini

mobil
BYD Haka Auto

Haka Auto Bakal Perbanyak Jaringan Diler BYD dan Denza di 2026

Haka Auto berkomitmen untuk membangun 10 diler BYD dan Denza di semester 1 2026 guna memperkuat posisi perusahaan

mobil
BYD

BYD Dikabarkan Bakal Luncurkan Mobil PHEV dengan Harga Terjangkau

BYD dikabarkan siap luncurkan mobil PHEV yang dijual dengan harga yang lebih murah ketimbang mobil listrik

mobil
Penjualan Denza D9 Agustus 2025 Naik 28 Persen, Tembus 500 Unit

D9 Buktikan EV Premium Cocok Untuk Perjalanan Jauh

Denza D9 jadi pertimbangan sejumlah konsumen di segmen premium, tawarkan berbagai fitur dan keunggulan

otosport
Marc Marquez

Michelin Buka Suara Usai Pelek Marc Marquez Pecah di Thailand

Tingginya suhu di Sirkuit Buriram menjadi salah satu penyebab pelek motor balap milik Marc Marquez pecah

motor
Yamaha Tmax

Yamaha Tmax Ludes Terjual, Pemesanan Batch Kedua Segera Dibuka

Yamaha Tmax baru yang diluncurkan pada awal 2026 di Indonesia, diklaim sudah terjual lebih dari 50 unit

news
Ganjil genap Jakarta

Ganjil Genap Jakarta 3 Maret 2026, Diawasi Ketat Oleh Kepolisian

Pembatasan ganjil genap Jakarta kembali diterapkan di Ibu Kota untuk mengatasi kemacetan lalu lintas

news
SIM Keliling Bandung

Jadwal 2 Lokasi SIM Keliling Bandung 3 Maret 2026, Ada di MCD

SIM keliling Bandung menjadi salah satu opsi terbaik bagi masyarakat untuk mengurus dokumen berkendara

news
SIM Keliling Jakarta

Cek Lokasi SIM Keliling Jakarta Hari Ini 3 Maret 2026

Fasilitas SIM keliling Jakarta bisa jadi alternatif bagi warga Ibu Kota yang ingin memperpanjang masa berlaku