10 Merek Mobil Cina Terlaris Mei 2026, Jaecoo Memimpin
17 Juni 2026, 11:00 WIB
Tidak adanya insentif mobil listrik CBU, akan mendorong masyarakat beralih ke produk-produk di segmen LCGC
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Industri otomotif nasional menemui tantangan cukup berat pada 2026. Seperti contoh tidak adanya insentif untuk mobil listrik Completely Built Up (CBU).
Bantuan tersebut sudah berakhir sejak 31 Desember 2026. Sampai sekarang pemerintah belum memberikan kepastian apakah akan dilanjutkan atau tidak.
Situasi tersebut diprediksi membawa banyak dampak. Terutama di dalam pasar kendaraan roda empat nasional pada tahun ini.
“Peta kompetisi 2026 benar-benar berubah drastis, segmen ICE dan LCGC akan rebound,” ungkap Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif dan akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Menurut Yannes, konsumen di Tanah Air diprediksi akan berpaling dari Electric Vehicle (EV) entry level.
Mereka akan kembali menyasar mobil-mobil konvensional berbandrol terjangkau. Seperti Honda Brio Satya, Toyota Agya sampai Daihatsu Sigra.
“Sementara BEV impor entry level bakal kehilangan daya tariknya di mass market,” dia menuturkan.
Lebih jauh disebutkan, mobil Hybrid serta PHEV dari pabrikan Jepang juga akan bersaing dengan produk-produk jenama asal Cina.
Hal itu karena ada beberapa aspek yang mendorong. Seperti contoh brand, fitur maupun desain bakal jadi penentu.
“Karena kombinasi efisiensi operasional dan harga yang masih kompetitif tanpa bergantung pada insentif besar pemerintah,” tegas Yannes.
Sebagai informasi, BYD sampai Changan sudah mengantisipasi dampak negatif dari absennya insentif mobil listrik CBU pada 2026.
Seperti dengan berusaha menahan harga kendaraan roda empat setrum mereka. Semisal banderol BYD Atto 1 dipertahankan tetap Rp 199 juta.
Sedangkan Changan menerapkan hal serupa, harga Lumin EV dibuat menjadi Rp 183 juta dari sebelumnya Rp 199 juta.
Langkah di atas ditempuh, semata-mata untuk mempertahankan daya tarik mobil listrik murah tersebut di mata masyarakat.
Dengan begitu deretan EV di atas masih diminati. Mampu bersaing bersama produk-produk entry level dari pabrikan Jepang.
Terkhusus mobil LCGC yang diprediksi akan comeback. Mengingat masyarakat akan memilih produk dengan banderol lebih terjangkau.
Jadi patut ditunggu, sejauh mana para produsen asal Tiongkok ini mampu menggoda masyarakat di Tanah Air untuk membeli EV meski tanpa insentif dari pemerintah.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
17 Juni 2026, 11:00 WIB
17 Juni 2026, 07:00 WIB
16 Juni 2026, 08:02 WIB
15 Juni 2026, 15:49 WIB
14 Juni 2026, 20:00 WIB
Terkini
17 Juni 2026, 18:37 WIB
Pada Juni 2026 beberapa pabrikan melakukan penyesuaian harga motor matic murah, seperti dialami oleh Yamaha
17 Juni 2026, 11:00 WIB
Jaecoo menjadi merek mobil Cina dengan penjualan retail terlaris sepanjang Mei 2026, berada di atas BYD
17 Juni 2026, 09:00 WIB
E5 Plus jadi SUV PHEV perdana DFSK di pasar Indonesia, klaim daya jelajah komprehensifnya 1.300 kilometer
17 Juni 2026, 07:00 WIB
GWM Ora 7 merupakan mobil listrik hasil kolaborasi dengan BMW, ubah arah desain seri Ora di masa mendatang
17 Juni 2026, 06:00 WIB
Ganjil genap Jakarta hari ini akan mengincar mobil dengan pelat nomor berakhiran genap terutama di jam sibuk
17 Juni 2026, 06:00 WIB
Setelah libur Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, SIM keliling Jakarta kembali melayani masyarakat hari ini
16 Juni 2026, 19:00 WIB
Kiandra Ramadhipa mengaku sering berdiskusi, demi bisa mendapatkan ilmu balapan dari Veda Ega dan Mario Aji
16 Juni 2026, 18:11 WIB
Rencana penyesuaian tarif Transjakarta, pemerintah hanya menyasar rute jauh seperti Blok M - Bandara Soetta