Tanpa Insentif, Pabrikan Cina Bakal Fokus Jualan Mobil Hybrid
23 Februari 2026, 09:00 WIB
Pengunjung GJAW 2025 wajib memperhitungkan beberapa hal sebelum memutuskan membeli mobil listrik di sana
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – GJAW 2025 bakal menyuguhkan banyak produk baru. Mulai dari mobil listrik serta kendaraan bermesin bensin bisa dimiliki para pengunjung.
Apalagi banyak pabrikan yang menawarkan Electric Vehicle (EV) mereka dengan harga sangat kompetitif, paling murah mulai Rp 100 jutaan
Tentu kondisi seperti itu sangat menguntungkan masyarakat yang datang langsung ke GJAW 2025. Sebab bisa membawa pulang mobil listrik murah.
Meski begitu pengunjung diimbau agar tidak tergoda, dengan harga kendaraan roda empat setrum terjangkau. Ada beberapa hal yang harus diperhitungkan.
“Pahami teknologi baterainya, karena ini memengaruhi harga, jarak tempuh dan biaya jangka panjang,” ungkap Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Josua menjelaskan bahwa, mobil listrik dengan penampung daya LFP cenderung ditawarkan dengan harga lebih terjangkau. Lalu cenderung mendominasi pasar EV di Tanah Air.
Kemudian untuk kendaraan roda empat setrum berbaterai NMC, umumnya menawarkan kinerja lebih tinggi juga biaya cukup mahal.
“Pilih sesuai pola pakai harian dan ketersediaan pengisian di rumah atau kantor. Pastikan juga syarat garansi baterai, cakupan komponen bertegangan tinggi serta biaya penggantian di luar garansi,” lanjut Josua.
Sementara dari sisi anggaran bulanan, siapkan pula pengaman untuk misalnya naik biaya hidup, kebutuhan keluarga baru atau peralihan pekerjaan bisa tiba-tiba memperkuat arus kas.
Simulasikan tiga kondisi, mulai dari penghasilan turun 10 persen, pengeluaran rutin naik 10 persen dan biaya kepemilikan mobil meningkat lima persen.
“Cicilan tetap harus lolos ketiga skenario ini. Bila tidak lolos, turunkan spesifikasi atau tunda keputusan sampai cadangan kas lebih kuat,” ia menambahkan.
Selanjutnya bila Anda tetap ingin membeli mobil listrik di GJAW 2025, disarankan manfaatkan peta persaingan dan jaringan layanan dalam memilih merek.
Menurut Josua, persaingan antar pabrikan sekarang lebih ramai dengan pendatang baru. Sebagian menawarkan fitur maupun harga agresif.
Namun di tengah persaingan tersebut, tidak diimbangi dengan jaringan bengkel resmi serta suku cadang yang belum tentu merata.
“Merek yang pangsa pasarnya stabil dan jaringan layanan luas, umumnya lebih aman untuk nilai jual kembali serta waktu henti yang lebih singkat bila terjadi perbaikan,” kata Josua.
Ia mengatakan kalau selama di GJAW 2025 konsumen bisa menilai kesiapan purna jual dari ketersediaan suku cadang, kejelasan garansi sampai transparansi biaya servis berkala.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
23 Februari 2026, 09:00 WIB
20 Februari 2026, 08:00 WIB
19 Februari 2026, 16:27 WIB
19 Februari 2026, 15:00 WIB
19 Februari 2026, 09:00 WIB
Terkini
27 Februari 2026, 20:00 WIB
Meskipun peminatnya terbilang lebih sedikit, Vios Hybrid hadir buat memperluas jangkauan pasar Toyota
27 Februari 2026, 18:00 WIB
Zeekr kembali ke RI di bawah naungan Geely Auto Indonesia dan bakal segera dirakit lokal di masa mendatang
27 Februari 2026, 16:06 WIB
Isuzu berhasil mempertahankan kinerja mereka sepanjang tahun lalu meski banyak rintangan yang menghadang
27 Februari 2026, 14:00 WIB
Ganjil genap Puncak kembali diterapkan untuk memastikan kelancaran arus kendaraan khususnya di jalur utama
27 Februari 2026, 12:00 WIB
Dishub DIY memperkirakan ada 8 juta mobilitas saat arus mudik Lebaran 2026 sehingga mereka siapkan rekayasa lalu lintas
27 Februari 2026, 11:00 WIB
Jaecoo siapkan 14 bengkel siaga saat arus mudik Lebaran 2026 yang bakal segera berlangsung di Tanah Air
27 Februari 2026, 09:00 WIB
SUV Ladder Frame seperti Mitsubishi Pajero Sport bisa diandalkan untuk menempuh berbagai medan menanatang
27 Februari 2026, 08:00 WIB
AHM bersedia memenuhi permintaan atau kebutuhan motor baru jika ada permintaan dari Agrinas Pangan Nusantara