Changan Hadapi Persaingan Elektrifikasi di RI Lewat Sub Merek
27 Agustus 2026, 15:00 WIB
Mayoritas pikap di Indonesia berpenggerak 4x2, beda dari 105.000 pikap impor yang pakai penggerak 4x4
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – PT Agrinas Pangan Nusantara belum lama ini menjadi sorotan karena keputusannya mengimpor 105.000 unit pikap dari India.
Diketahui bahwa alasannya adalah faktor harga dan kemampuan pengadaan dalam negeri yang masih terbatas.
Kemudian opsi pikap berpenggerak 4x4 tidak banyak dan ditawarkan dengan harga relatif mahal.
Impor pikap atau kendaraan niaga dinilai dapat berdampak buruk bagi industri otomotif, termasuk komponen.
Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) menjelaskan, 105.000 unit setara setengah penjualan kendaraan komersial selama satu tahun di Indonesia.
Ditambah lagi lokalisasi kendaraan komersial di dalam negeri cukup tinggi. Disebutkan bahwa rata-ratanya 60 persen.
Sehingga sebenarnya banyak peluang bisa dimanfaatkan apabila Agrinas memanfaatkan pikap buatan lokal.
“Kalau dari yang saya dengar masalah spesifikasi (penggerak) 4x4. Saya rasa kalau dilihat jalanan Indonesia mayoritas membutuhkan 4x2,” kata Rachmat Basuki, Sekretaris Jenderal GIAMM kepada KatadataOTO belum lama ini.
Namun dia tidak menampik, industri otomotif Tanah Air masih lebih berfokus pada pikap atau kendaraan komersial berpenggerak 4x2.
Sebab mobil yang punya spesifikasi 4x4 baik itu pikap ataupun truk, dijual dengan harga mahal karena pajak tinggi.
“Sehingga, orang Indonesia kebanyakan beli (penggerak) 4x2,” ungkap Rachmat.
Sebelumnya diberitakan, keputusan Agrinas mengimpor kendaraan niaga dari India ditentang sejumlah pihak seperti asosiasi.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo menegaskan, industri dalam negeri memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan operasional Koperasi Merah Putih.
Dari 61 anggota Gaikindo, tujuh di antaranya telah memproduksi kendaraan komersial yakni Suzuki, Isuzu, Mitsubishi, Wuling, DFSK, Toyota dan Daihatsu.
Beberapa produk yang umum digunakan adalah Suzuki Carry, Mitsubishi L300, Daihatsu Gran Max Pick Up sampai Toyota Hilux Rangga.
Ketujuh anggota itu diklaim mampu memproduksi lebih dari 400.000 unit pikap per tahun. Kapasitas itu belum dimanfaatkan secara maksimal.
Hanya saja, memang kendaraan diproduksi umumnya berpenggerak 4x2. Tetapi telah mengantongi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) setidaknya 40 persen, sehingga penjualannya berdampak positif pada industri lokal.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
27 Agustus 2026, 15:00 WIB
20 Agustus 2026, 15:00 WIB
15 Agustus 2026, 20:53 WIB
14 Agustus 2026, 11:00 WIB
13 Agustus 2026, 18:54 WIB
Terkini
28 Agustus 2026, 22:10 WIB
BYD Mako PHEV menjadi produk terbaru yang mengisi segmen pikap double cabin, debut di Brasil lebih dulu
28 Agustus 2026, 21:10 WIB
Jorge Martin ingin melanjutkan tren positifnya pada MotoGP Aragon 2026 dengan mengalahkan Marc Marquez
28 Agustus 2026, 17:00 WIB
Jetour T2 Facelift hadir di Chengdu Auto Show dengan ubahan drastis di bagian depan, tampil mirip Defender
28 Agustus 2026, 15:00 WIB
Geely menemukan ada permasalahan pada LiDAR beberapa model mobil Lynk & Co yang diproduksi mulai awal 2025
28 Agustus 2026, 13:00 WIB
Ai Ogura harus masuk ke ruang operasi karena mengalami patah tulang pada tangan kiri usai kecelakaan di Jepang
28 Agustus 2026, 06:00 WIB
Demi memudahkan masyarakat mengurus dokumen berkendara, kepolisian menghadirkan SIM keliling Bandung hari ini
28 Agustus 2026, 06:00 WIB
Mendekati akhir pekan, SIM keliling Jakarta masih dapat dimanfaatkan di lima lokasi berbeda hari ini
28 Agustus 2026, 06:00 WIB
Aturan ganjil genap Jakarta masih menjadi andalan pihak aparat untuk membendung jumlah kendaraan di jam sibuk