GIIAS 2026 Tampilkan 10 Merek Baru, Panggung Debut Internasional
13 Juli 2026, 18:43 WIB
Mayoritas pikap di Indonesia berpenggerak 4x2, beda dari 105.000 pikap impor yang pakai penggerak 4x4
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – PT Agrinas Pangan Nusantara belum lama ini menjadi sorotan karena keputusannya mengimpor 105.000 unit pikap dari India.
Diketahui bahwa alasannya adalah faktor harga dan kemampuan pengadaan dalam negeri yang masih terbatas.
Kemudian opsi pikap berpenggerak 4x4 tidak banyak dan ditawarkan dengan harga relatif mahal.
Impor pikap atau kendaraan niaga dinilai dapat berdampak buruk bagi industri otomotif, termasuk komponen.
Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) menjelaskan, 105.000 unit setara setengah penjualan kendaraan komersial selama satu tahun di Indonesia.
Ditambah lagi lokalisasi kendaraan komersial di dalam negeri cukup tinggi. Disebutkan bahwa rata-ratanya 60 persen.
Sehingga sebenarnya banyak peluang bisa dimanfaatkan apabila Agrinas memanfaatkan pikap buatan lokal.
“Kalau dari yang saya dengar masalah spesifikasi (penggerak) 4x4. Saya rasa kalau dilihat jalanan Indonesia mayoritas membutuhkan 4x2,” kata Rachmat Basuki, Sekretaris Jenderal GIAMM kepada KatadataOTO belum lama ini.
Namun dia tidak menampik, industri otomotif Tanah Air masih lebih berfokus pada pikap atau kendaraan komersial berpenggerak 4x2.
Sebab mobil yang punya spesifikasi 4x4 baik itu pikap ataupun truk, dijual dengan harga mahal karena pajak tinggi.
“Sehingga, orang Indonesia kebanyakan beli (penggerak) 4x2,” ungkap Rachmat.
Sebelumnya diberitakan, keputusan Agrinas mengimpor kendaraan niaga dari India ditentang sejumlah pihak seperti asosiasi.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo menegaskan, industri dalam negeri memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan operasional Koperasi Merah Putih.
Dari 61 anggota Gaikindo, tujuh di antaranya telah memproduksi kendaraan komersial yakni Suzuki, Isuzu, Mitsubishi, Wuling, DFSK, Toyota dan Daihatsu.
Beberapa produk yang umum digunakan adalah Suzuki Carry, Mitsubishi L300, Daihatsu Gran Max Pick Up sampai Toyota Hilux Rangga.
Ketujuh anggota itu diklaim mampu memproduksi lebih dari 400.000 unit pikap per tahun. Kapasitas itu belum dimanfaatkan secara maksimal.
Hanya saja, memang kendaraan diproduksi umumnya berpenggerak 4x2. Tetapi telah mengantongi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) setidaknya 40 persen, sehingga penjualannya berdampak positif pada industri lokal.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
13 Juli 2026, 18:43 WIB
11 Juli 2026, 21:00 WIB
04 Juli 2026, 19:15 WIB
03 Juli 2026, 13:41 WIB
01 Juli 2026, 09:51 WIB
Terkini
14 Juli 2026, 22:23 WIB
Untuk mengurus dokumen berkendara ada banyak cara, seperti memilih salah satu lokasi SIM keliling Bandung
14 Juli 2026, 22:00 WIB
Saat ini banyak yang mengira biaya perbaikan terbesar pada mobil listrik terletak di baterai yang digunakan
14 Juli 2026, 21:43 WIB
Mayoritas konsumen ternyata memilih Jetour T1 i-DM alias varian Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV)
14 Juli 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Bandung beroperasi hari ini untuk melayani masyarakat yang ingin mengurus dokumen berkendara
14 Juli 2026, 06:00 WIB
Hari ini SIM keliling Jakarta tersebar di lima lokasi berbeda, simak informasi lengkap dan persyaratannya
14 Juli 2026, 06:00 WIB
Sistem Ganjil Genap Jakarta masih dipertahankan untuk mengurai kemacetan di Ibu Kota pada jam-jam sibuk
13 Juli 2026, 21:00 WIB
Honda Super One menjadi mobil listrik baru yang mencoba peruntungan di era elektrifikasi di pasar Indonesia
13 Juli 2026, 20:41 WIB
Persaingan papan atas klasemen sementara MotoGP 2026 memanas usai Ogura tampil kompetitif selama beberapa seri