Tanpa Insentif, Pabrikan Cina Bakal Fokus Jualan Mobil Hybrid
23 Februari 2026, 09:00 WIB
Cina bakal batasi ekspor logam tanah jarang dan berpotensi sebabkan produksi mobil listrik dunia terganggu
Oleh Adi Hidayat
KatadataOTO – Pemerintah Cina akan membatasi ekspor sejumlah mineral penting termasuk logam tanah jarang akibat perang dagang dengan Amerika Serikat. Kebijakan tersebut berlaku untuk semua negara khususnya yang memberi tekanan terhadap negeri Tirai Bambu seperti Eropa, Korea Selatan dan Jepang.
Dilansir dari Global Data, langkah tersebut bakal mempengaruhi banyak hal karena hasil tambang itu digunakan oleh industri berteknologi tinggi termasuk otomotif. Logam tanah jarang kerap digunakan untuk pembuatan baterai kendaraan listrik dan berbagai komponen lain.
Perlu diketahui bahwa saat ini Cina menyumbang lebih dari 90 persen penyulingan tanah jarang dunia. Mereka juga merupakan produsen logam tanah jarang terbesar dibandingkan negara lain.
Logam tanah jarang hanyalah bagian sangat kecil dari keseluruhan ekspor Cina sehingga dampaknya tidak besar buat perekonomian mereka. Tetapi buat pasar global, pembatasan tersebut bisa berdampak sangat signifikan.
Bahkan pengiriman megnet sudah dihentikan sebelum kerangka regulasi baru dikeluarkan. Sehingga para eksportir harus mengajukan lisensi ekspor dengan persyaratan lebih ketat.
Sementara perusahaan yang terkait dengan pertahanan Amerika Serikat bisa diputus secara permanen dari pasokan Cina.
Para produsen global pun kini mulai khawatir bila lisensi baru diperkenalkan mereka bakal mengalami penundaan yang lama. Sehingga terjadi kelangkaan terhadap persediaan tanah jarang secara global dan membuat harga jadi melonjak.
Situasi tersebut pun berpotensi membuat harga kendaraan listrik dunia mengalami peningkatan cukup signifikan. Terlebih baterai merupakan komponen terpenting bagi mobil eletrifikasi.
Selain itu perkembangan mobil listrik pun berpotensi melambat karena pasar tidak bisa menyerap barang akibat tingginya harga.
Di Indonesia sendiri logam tanah jarang juga bisa ditemukan di beberapa lokasi seperti Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi Tengah. Sayang pemanfaatannya belum optimal karena belum memiliki kemampuan untuk mengelolanya.
Padahal pengembangannya sangat penting mengingat keinginan pemerintah buat menjadikan Indonesia sebagai pusat pengembangan kendaraan listrik.
Meski demikian pemerintah sudah melakukan beragam upaya sejak 2022 agar sumber daya alam tersebut bisa dikelola langsung di Tanah Air.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
23 Februari 2026, 09:00 WIB
20 Februari 2026, 08:00 WIB
19 Februari 2026, 16:27 WIB
19 Februari 2026, 15:00 WIB
19 Februari 2026, 09:00 WIB
Terkini
27 Februari 2026, 14:00 WIB
Ganjil genap Puncak kembali diterapkan untuk memastikan kelancaran arus kendaraan khususnya di jalur utama
27 Februari 2026, 12:00 WIB
Dishub DIY memperkirakan ada 8 juta mobilitas saat arus mudik Lebaran 2026 sehingga mereka siapkan rekayasa lalu lintas
27 Februari 2026, 11:00 WIB
Jaecoo siapkan 14 bengkel siaga saat arus mudik Lebaran 2026 yang bakal segera berlangsung di Tanah Air
27 Februari 2026, 09:00 WIB
SUV Ladder Frame seperti Mitsubishi Pajero Sport bisa diandalkan untuk menempuh berbagai medan menanatang
27 Februari 2026, 08:00 WIB
AHM bersedia memenuhi permintaan atau kebutuhan motor baru jika ada permintaan dari Agrinas Pangan Nusantara
27 Februari 2026, 07:00 WIB
Ekspor mobil CBU di Indonesia pada 2025 mengoptimalkan kemampuan produksi di RI yakni 2,59 juta unit per tahun
27 Februari 2026, 06:00 WIB
Jelang akhir pekan, masyarakat tetap bisa mengakses fasilitas SIM keliling Bandung yang beroperasi hari ini
27 Februari 2026, 06:00 WIB
Lokasinya lebih terbatas di akhir pekan, simak informasi lengkap SIM keliling Jakarta hari ini 27 Februari