Cara Pemerintah Cina Dorong Penjualan Mobil Ramah Lingkungan

Penjualan mobil dan adopsi NEV didorong melalui pemberian subsidi tukar tambah, berikut skema insentifnya

Cara Pemerintah Cina Dorong Penjualan Mobil Ramah Lingkungan
Serafina Ophelia

KatadataOTO – Berbagai negara saat ini menetapkan regulasi baru untuk mendorong penjualan mobil dan kendaraan ramah lingkungan atau New Energy Vehicle (NEV), baik itu hybrid maupun listrik murni.

Pemerintah Cina punya ketetapan berupa subsidi tukar tambah mobil yang bisa dimanfaatkan dengan beberapa syarat seperti kelayakan mobil.

“Mobil bensin (yang akan ditukar tambah) memenuhi kualifikasi subsidi, jika terdaftar pada atau sebelum 30 Juni 2013. (Mobil) diesel dan lainnya harus teregistrasi pada atau sebelum 30 Juni 2015, lalu kendaraan ramah lingkungan sebelum 31 Desember 2019,” tulis laporan China Daily, dikutip Sabtu (03/01).

Subsidi tukar tambah mobil berlaku untuk konsumen yang ingin mengganti mobilnya dengan kendaraan ramah lingkungan. Bisa juga menggunakan mobil bermesin bensin berkapasitas 2.000 cc ke bawah.

3 Mobil Listrik Hasil Kerja Sama dengan Cina
Photo: Carnewschina

Perlu diketahui, aturan subsidi tukar tambah sebenarnya telah diberlakukan sejak 2024. Namun tahun ini, ada beberapa penyesuaian diberikan.

Batasan subsidinya tidak berubah, namun nominalnya digantikan persentase sesuai harga mobil yang dikenakan insentif.

Jadi semakin tinggi harga mobil pilihan konsumen, angka subsidi yang diterima memiliki nominal lebih besar.

Lebih lanjut dijelaskan skema subsidi dari pemerintah yang bisa dinikmati oleh masyarakat.

Subsidi penyerahan kendaraan lama

  • Mobil energi terbarukan: 12 persen atau maksimal 20.000 yuan (Rp 47,7 jutaan)
  • Mobil bensin: 10 persen atau maksimal 15.000 yuan (Rp 35,8 jutaan)

Subsidi tukar-tambah

  • Mobil energi terbarukan: 8 persen atau maksimal 15.000 yuan (Rp 35,8 jutaan)
  • Mobil bensin: 6 persen atau maksimal 13.000 yuan (Rp 31 jutaan)

Guna mendukung program tersebut, pemerintah Cina telah menggelontorkan dana sekitar 62,5 miliar yuan (Rp 149,2 triliun).

10 Merek Mobil Cina Terlaris Juni 2025, Denza Naik 41 Persen
Photo: Denza

Kebijakan tersebut dinilai dapat membantu menggairahkan daya beli konsumen sambil membantu mendorong adopsi kendaraan ramah lingkungan atau energi terbarukan.

Regulasi insentif ini tampaknya bisa jadi referensi untuk di Indonesia. Mengingat masih banyak kendaraan di jalanan Indonesia merupakan tahun lama dan berpeluang sudah tak lagi memenuhi standar emisi.

Skema insentif tukar tambah dapat diterapkan sebagai alternatif buat membantu mendongkrak penjualan mobil baru dan NEV secara nasional.


Terkini

mobil
Denza D9

BYD Punya 6 Opsi Nama Baru Denza untuk Pasar Indonesia

BYD kalah gugatan dari PT Worcas Nusantara Abadi, berpotensi ganti nama Denza khusus pasar Indonesia

news
Harga BBM

Harga BBM BP AKR Naik Ikuti Pertamina di April 2026, Vivo Tetap

Pertamina dan BP AKR menaikan harga BBM mereka pada Sabtu (18/04) hingga menyentuh Rp 25 ribu per liter

news
ACC Carnival

ACC Carnival Samarinda Tawarkan Sejumlah Promo Andalan

ACC Carnival kini berkunjung ke kota Samarinda, Kalimatan Timur untuk memberikan kemudahan konsumen di sana

mobil
Wuling Eksion

Peluncuran Wuling Eksion Semakin Dekat, Segini Kisaran Harganya

Harga Wuling Eksion digadang-gadang akan lebih murah dari versi MPV yakni Darion, dan sama-sama ada EV dan PHEV

mobil
Mobil LCGC

5 Mobil LCGC Terlaris di Maret 2026, Calya Ungguli Brio Satya

Toyota Calya mampu menjadi mobil LCGC terlaris pada bulan lalu setelah terdistribusi sebanyak 2.067 unit

mobil
BMW Festival of Joy

Pameran Khusus BMW Digelar di Jakarta, Ada Mini Edisi Spesial

Pameran BMW Festival of Joy dibuka untuk umum 17-19 April 2026 dan bisa dikunjungi tanpa dikenakan biaya

otosport
Perdana, Jakarta Gelar FIA Rallycross World Cup 2026

Perdana, Jakarta Gelar FIA Rallycross World Cup 2026

Ajang reli ini untuk pertama kalinya dihelat di Jakarta, sirkuit Ancol bakal disulap jadi trek Rallycross

mobil
Ford Everest Sport

Ford Dukung Larangan Mobil Cina Mengaspal di Amerika Serikat

Bos Ford menilai kehadiran mobil Cina di pasar otomotif Amerika Serikat bisa mengganggu bisnis mereka