BYD Berniat Punya Pabrik Baterai di Subang Demi Tingkatkan TKDN
06 September 2026, 01:22 WIB
Pada semester satu 2026, penjualan mobil Cina mengalami gejolak sehingga menggalami penurunan cukup besar
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Para produsen mobil listrik Cina sepertinya mulai gigit jari. Sebab peminat produk mereka mengalami penurunan.
Melansir laporan dari South China Morning Post pada Selasa (07/07), sebanyak 1 jutaan unit Battery Electric Vehicle (BEV) dan Hybrid Electric Vehicle (HEV) diserahkan kepada konsumen di Juni 2026.
Akan tetapi, menurut China Passenger Car Association angka tersebut mengalami penurunan sampai tujuh persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025.
Sementara itu, pada semester pertama 2026 pengiriman mobil listrik maupun hybrid anjlok 13 persen menjadi 4,7 jutaan unit bila dibandingkan dengan tahun lalu.
“Sentimen konsumen yang lemah merupakan pertanda buruk bagi pasar kendaraan listrik tahun ini,” ucap Tian Maower, manajer penjualan di Yiyou Auto Service.
Menurut Tian, ada beberapa faktor mengapa peminat mobil Cina mengalami penurunan cukup besar beberapa waktu belakangan.
Seperti banyak masyarakat yang mengharapkan para produsen, menurunkan harga kendaraan roda empat berjantung pacu hibrida maupun listrik murni.
Selain itu kondisi ekonomi Tiongkok yang tidak stabil membuat banyak masyarakat menunda pembelian mobil.
Kemudian insentif pembelian mobil listrik dan hybrid dari pemerintah terus dikurangi. Sehingga menurunkan minat masyarakat untuk berbelanja.
Sebagai informasi, pemerintah di Negeri Tirai Bambu telah menyesuaikan pemberian stimulus sejak awal 2026.
Mereka menghapus secara bertahap keringanan pajak penjualan bagi produsen kendaraan roda empat setrum.
Sedangkan pada awal bulan ini, dikonfirmasi bahwa potongan pajak kendaraan tahunan yang tersedia untuk BEV, HEV hingga REEV akan dipangkas mulai 1 Januari 2027.
Dengan berbagai faktor pendorong di atas, para pabrikan didorong untuk terus berinovasi demi menggoda konsumen.
Di sisi lain meski pasar mobil hybrid maupun listrik Cina mengalami penurunan tajam, ada beberapa pabrikan yang masih dapat memetik keuntungan.
Mulai dari BYD, Xiaomi sampai Leapmotor mampu menorehkan kinerja positif dari penjualan ke luar negeri.
Situasi yang ada membuat banyak pabrikan asal Cina lainnya menjerit. Mereka kesulitan untuk berkompetisi di pasar dalam negeri maupun di luar Tiongkok.
Bahkan pada 2030 mendatang, diperkirakan akan banyak perusahaan yang bangkrut atau diakuisisi oleh merek lebih besar.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
06 September 2026, 01:22 WIB
03 September 2026, 16:02 WIB
01 September 2026, 07:00 WIB
28 Agustus 2026, 22:10 WIB
28 Agustus 2026, 15:00 WIB
Terkini
07 September 2026, 06:00 WIB
Hari ini kepolisian menghadirkan SIM keliling Bandung untuk membantu masyarakat di wilayah Kota Kembang
07 September 2026, 06:00 WIB
Untuk bisa melakukan perjalanan di jalan Ibu Kota dengan nyaman, simak puluhan titik ganjil genap Jakarta
06 September 2026, 12:15 WIB
Daihatsu Kumpul Sahabat Batam jadi tempat mengekspresikan bakat, wadah berkumpul masyarakat dan komunitas
06 September 2026, 01:22 WIB
BYD terus memperkuat komitmen mereka untuk memajukan industri otomotif di Indonesia usai mendirikan pabrik
05 September 2026, 19:21 WIB
Daihatsu Kumpul Sahabat Batam jadi wadah silaturahmi dan unjuk kreativitas masyarakat dan anak-anak muda
05 September 2026, 17:00 WIB
Harga Mitsubishi Pajero terbaru terungkap, jadi gambaran banderol untuk pasar Indonesia di masa mendatang
05 September 2026, 15:00 WIB
Lexus NX, salah satu model terlaris Lexus di pasar global kini telah mendapatkan sejumlah permbaruan
05 September 2026, 14:16 WIB
Ajang Daihatsu Kumpul Sahabat Batam berlangsung sampai 6 September, banyak anak muda terlibat meramaikan