Voltron Hub Puri Indah Dibuka, Akomodir Pengguna Mobil Listrik
18 Juli 2026, 21:09 WIB
Secara keseluruhan, tahun ini ekspor mobil listrik China turun 18 persen dibandingkan periode sama di 2024
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Manufaktur mobil listrik asal China akan banyak menghadapi tantangan tahun ini. Pasalnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerapkan tarif resiprokal atau tarif impor yang tinggi kepada China.
Menurut Trump, keputusan tersebut diambil guna menjaga pertumbuhan industri dalam negeri.
Dengan banyaknya tarif impor dibebankan, ekspor mobil listrik China disebut turun sampai 18 persen.
Kemudian ada pergeseran tren di sejumlah negara. Di mana konsumen mulai beralih ke PHEV (plug-in hybrid electric vehicle) dan bukan EV (electric vehicle) atau mobil listrik murni.
Imbas adanya berbagai tantangan itu, pabrikan China diprediksi mulai fokus ke negara-negara potensial lainnya seperti di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Mengingat di Indonesia pemerintah memberikan dukungan berupa insentif pajak, untuk pabrikan yang sudah merakit lokal kendaraannya ataupun baru berencana membangun pabrik.
Insentif impor telah dinikmati oleh BYD (Build Your Dreams) di Indonesia, karena sudah ada komitmen pembangunan pabrik di Subang, Jawa Barat.
Per Februari 2025, jumlah ekspor mobil listrik China ke Indonesia mencapai 5.737 unit, naik 79 persen dari periode yang sama di 2024.
Indonesia berada di peringkat keenam negara yang mengimpor mobil listrik dari China sepanjang 2025. Di urutan pertama ada Belgia sebanyak 10.105 unit, disusul Inggris 8.362 unit lalu Filipina 8.225 unit.
Di Indonesia sendiri, dampak tarif impor AS itu disebut akan dirasakan oleh industri komponen otomotif.
Lalu tidak menutup kemungkinan hal ini mengundang banyak produk asing yang mencari alternatif selain AS.
Sejumlah merek Tiongkok kemungkinan akan membangun pabrik di Meksiko dan memproduksi model yang memenuhi syarat pengecualian tarif impor ke AS.
Tarif impor itu sendiri, menurut pihak asosiasi dari China, tidak akan terlalu banyak berpengaruh. Karena jumlah ekspor ke AS dari China sepanjang 2024 adalah 116 ribu, hanya sekitar 1,81 persen dari total ekspor.
Tidak dapat dipungkiri tetap akan ada dampak dirasakan di pasar domestik. Namun ini tergantung pada bagaimana pemerintah China menanggapi, dengan menetapkan regulasi baru buat meminimalisir efek tarif impor AS.
“Pendekatan AS sangat melanggar aturan WTO (World Trade Organization) mengganggu skema perdagangan dan bisa berdampak besar terhadap produksi dan rantai suplai industri otomotif global,” tulis keterangan CAAM (China Association of Automobile Manufacturers) dikutip dari CNEvPost, Rabu (09/04).
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
18 Juli 2026, 21:09 WIB
14 Juli 2026, 22:00 WIB
13 Juli 2026, 21:00 WIB
13 Juli 2026, 09:00 WIB
05 Juli 2026, 19:42 WIB
Terkini
25 Juli 2026, 08:00 WIB
Para pemilik kendaraan jenis SUV atau Double Cabin 4X4 menjadi incaran calon produk terbaru Giti di Indonesia
24 Juli 2026, 23:00 WIB
SUV PHEV DFSK E5 Plus sudah mulai dirakit lokal di pabrik Cikande, ditawarkan dengan harga Rp 500 jutaan
24 Juli 2026, 22:00 WIB
Daihatsu Rocky Hybrid dibekali beberapa fitur terkini guna memberikan sensasi berkendara yang berbeda
24 Juli 2026, 21:00 WIB
Astra Honda Motor Technical Skill Contest 2026 baru saja digelar dan diikuti 69 peserta dari seluruh Indonesia
24 Juli 2026, 20:22 WIB
Mobil listrik MG S5 EV memiliki potensi overheating, ada ribuan unit yang mulai ditarik dari pasaran
24 Juli 2026, 09:00 WIB
Menutup pekan terakhir di Juli 2026, Sistem lalu lintas Ganjil Genap Jakarta hari ini tetap diberlakukan
24 Juli 2026, 09:00 WIB
DFSK E5 Plus segera debut di GIIAS 2026, punya klaim daya jelajah komprehensif sampai 1.400 kilometer
24 Juli 2026, 07:00 WIB
Menurut Marc Marquez kuda besi skuad Ducati Corse untuk MotoGP 2027 masih harus dilakukan beberapa penyesuaian