Astra UD Trucks Berkongsi Strategis Dengan Pertamina Patra Niaga
28 Januari 2026, 18:00 WIB
Dalam waktu dekat Pertamina batasi pembelian Pertalite karena tinggal menunggu revisi Peraturan Presiden
Oleh Adi Hidayat
TRENOTO – PT Pertamina batasi pembelian Pertalite dalam waktu dekat. Pasalnya mereka telah mengantongi data kendaraan yang berhak untuk bisa membeli BBM bersubsidi tersebut.
Namun pembatasan tidak bisa dilakukan sembarangan. Saat ini mereka masih harus menunggu revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak (BBM).
“Data kendaraan sudah dapat ditarik dan kami sedang menunggu revisi Perpres 191,” kata Nicke Widyawati, Direktur Utama PT Pertamina beberapa waktu lalu.
Dilansir dari Katadata, pengesahan regulasi akan menjadi acuan kendaraan mana yang berhak membeli BBM bersubsidi. Dengan demikian diharapkan penggunaan subsidi bisa lebih tepat sasaran.
“Jika regulasi sudah disahkan maka kami dapat mengatur sistem karena datanya sudah ada,” tegasnya kemudian.
Pembatasan pembelian Pertalite memang masih belum disahkan oleh pemerintah. Namun beredar kabar bahwa nantinya hanya mobil dengan mesin di bawah 1.400 cc saja yang bisa menikmatinya sementara kendaraan lain harus menggunakan BBM lain.
Ini artinya mobil berkapasitas 1.200 cc bisa menggunakan bensin bersubsidi. Tapi perlu diingat mobil LCGC dilarang menggunakannya sesuai Peraturan Menteri Perindustrian nomor 36 tahun 2021 tentang Kendaraan Bermotor Roda Empat Emisi Karbon Rendah.
Pada pasal 4 huruf f disampaikan bahwa mobil menggunakan penandaan informasi penggunaan bahan bakar dengan tingkat paling rendah octane number 92. Pelanggaran terhadap aturan dapat menghanguskan garansi kendaraan.
PT Pertamina juga mengajukan insentif tambahan sebanyak Rp110 per liter untuk penyaluran Biodiesel B35 yang sudah berjalan. Tambahan ini diperlukan guna memenuhi beban pembangunan infrastruktur tambahan.
Pasalnya penerapan Biodiesel 35 diperlukan banyak infrastruktur tambahan seperti tempat penyimpanan hingga pipa penyalur. Selain itu insentif juga dapat digunakan untuk menutup biaya pencampuran atau blending kilang.
Nicke menampaikan bahwa saat ini kilang Pertamina sebenarnya hanya mampu pengolah fatty acid methyl ester atau FAME kelapa sawit sebanyak 30 persen ke BBM solar. Sementara penerapan B35 berdampak pada peningkatan kandungan hingga 1.4 juta kl.
“Ketika ditambah menjadi B35 dan ke depannya B40 tentu kami perlu tambahan penyimpanan serta ukuran pipa lebih besar. Ini Artinya ada infrastruktur tambahan yang haris dibangun,” tegasnya.
Kondisi tersebut dipersulit karena Pertamina belum mendapat insentif dari implementasi biosolar khususnya pada pelaksanaan program B30 dan B35. Pasalnya Insentif hanya diberikan oleh para pengusaha FAME.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
28 Januari 2026, 18:00 WIB
01 Januari 2026, 07:00 WIB
30 Desember 2025, 09:00 WIB
24 Desember 2025, 20:00 WIB
08 Desember 2025, 14:00 WIB
Terkini
06 Februari 2026, 13:00 WIB
MGS5 EV dipasarkan dengan harga khusus untuk menggoda para calon pengunjung pameran otomotif IIMS 2026
06 Februari 2026, 12:00 WIB
ICar V23 akhirnya tampil di IIMS 2026 dengan harapan bisa lebih cepat dikenal oleh masyarakat Indonesia
06 Februari 2026, 11:52 WIB
V-KOOL rayakan hari jadi ke-8 dengan meluncurkan produk PPF terbaru dengan nama Luxor Diamond di IIMS 2026
06 Februari 2026, 11:00 WIB
GWM Tank 500 Diesel resmi hadir di IIMS 2026 dengan beragam keunggulan khususnya dari sisi kenyamanan
06 Februari 2026, 10:58 WIB
Bridgestone Indonesia rayakan usia ke 50 di Tanah Air dengan memanfaatkan momen pameran otomotif IIMS 2026
06 Februari 2026, 09:21 WIB
Setelah berlaku banderol khusus Rp 299 juta, harga Toyota Veloz Hybrid resmi diumumkan di ajang IIMS 2026
06 Februari 2026, 09:08 WIB
Dua SUV edisi spesial Mitsubishi Motor meluncur di IIMS 2026 dengan balutan beberapa aksesoris khusus
06 Februari 2026, 08:14 WIB
BYD Atto 3 Advanced Plus jadi varian tertinggi Atto 3, diluncurkan dengan banderol Rp 400 jutaan di IIMS 2026