Harga BBM Pertamina Juli 2026, Solar dan Pertamax Turbo Turun
01 Juli 2026, 16:32 WIB
Harga Pertamax turun Rp600 sehingga harganya kini hanya Rp13.900 per liter sehingga lebih memudahkan masyarakat
Oleh Adi Hidayat
TRENOTO – PT Pertamina (Persero) menyesuaikan harga jual bahan bakar minyak (BBM). Penyesuaian dilakukan mengikuti harga rata-rata publikasi minyak yakni Mean of Platts Singapore (MOPS) atau Argus.
Dalam penyesuaian tersebut, harga Pertamax dan Pertamax Turbo mengalami penurunan. Namun untuk produk jenis diesel seperti Dexlite serta Perta Dex justru alami kenaikan tipis.
Untuk harga Pertamax turun Rp600 menjadi hanya Rp13.900 per liter dari sebelumnya Rp14.500 per liter. Kemudian, Pertamax Turbo yang sebelumnya Rp15.900 per liter mengalami penurunan Rp950 menjadi hanya Rp14.950 per liter.
Selanjutnya harga Dexlite naik Rp700 menjadi Rp17.800 per liter dari sebelumnya hanya Rp17.100 per liter. Kenaikan dengan nilai serupa juga dialami oleh Pertamina Dex yang kini dibanderol Rp18.100 per liter dari sebelumnya Rp17.400 per liter.
Sementara Pertalite dan Biosolar terpantau tidak mengalami perubahan. Pertamina masih mempertahankan Pertalite dengan harga Rp10.000 per liter sedangkan Biosolar di Rp6.800.
“Seluruhnya sudah sesuai Kepmen ESDM No. 62/K/12/MEM/2020 tentang formulasi harga JBU atau BBM non subsidi. Pertamina terus berkomitmen menyediakan produk berkualitas terjamin dan harga kompetitif di seluruh wilayah Indonesia,” ungkap Irto Ginting, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga.
Penurunan harga ini diharapkan bisa membuat masyarakat beralih dari yang sebelumnya menggunakan Pertalite menjadi Pertamax Series. Pasalnya jumlah subsidi untuk Pertalite dinilai lebih besar ketimbang Pertamax.
Dengan berpindahnya pasar maka diharapkan beban subisidi BBM yang selama ini ditanggung pemerintah dapat berkurang.
Mengenai adanya perbedaan penyesuaian harga pada produk Pertamax Series dan Dex Series, Irto menjelaskan bahwa hal ini diakibatkan oleh kondisi energi global. Salah satunya adalah belum stabilnya geopolitik di Eropa Timur.
Kondisi ini menyebabkan tingginya permintaan produk bahan bakar gas di seluruh dunia. Salah satu substitusi produk bahan bakar gas adalah bahan bakar diesel yang harganya mengacu kepada MOPS Kerosene.
“MOPS Kerosene ini menjadi acuan harga untuk bahan baku produk diesel. Tingginya permintaan dan terbatasnya bahan baku membuatnya menjadi tetap tinggi, meskipun harga minyak dunia trennya menurun,” tukasnya.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
01 Juli 2026, 16:32 WIB
12 Juni 2026, 15:00 WIB
10 Juni 2026, 07:00 WIB
01 Juni 2026, 13:20 WIB
01 April 2026, 07:00 WIB
Terkini
15 Agustus 2026, 07:21 WIB
Presiden Prabowo berambisi agar Indonesia memiliki mobil listrik nasional serta memajukan industri otomotif
14 Agustus 2026, 20:50 WIB
Fabio Quartararo mengatakan bahwa ia berniat meninggalkan Yamaha saat melakoni pengujian di Sirkuit Valencia
14 Agustus 2026, 20:48 WIB
Farizon V8E resmi diproduksi di pabrik Handal Indonesia Motor (HIM), kemudian disusul dengan model F3E
14 Agustus 2026, 11:00 WIB
Merek mobil mewah memperlihatkan tren negatif di periode Juli 2026, BMW masih memimpin disusul Mercedes-Benz
14 Agustus 2026, 09:00 WIB
Penjualan BMW disebut positif selama perhelatan GIIAS 2026, tuai respons positif terhadap BMW iX3 Neue Klasse
14 Agustus 2026, 07:00 WIB
Motor listrik nasional baru saja diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto dengan menggandeng Indika
14 Agustus 2026, 06:00 WIB
Ganjil Genap Jakarta hari ini masih ada 26 titik yang membatasi mobil pribadi dengan pelat nomor sesuai tanggal
14 Agustus 2026, 06:00 WIB
Mendekati akhir pekan, SIM keliling Jakarta masih dapat dimanfaatkan dan tersedia di lima lokasi berbeda