Usaha Toyota Tekan Dekabornisasi di Indonesia, Gelar TEY ke-14
07 Agustus 2026, 08:00 WIB
Alternatif bahan bakar ramah lingkungan untuk kendaraan tambang masih terbilang mahal dan punya kelemahan
Oleh Serafina Ophelia
TRENOTO – Ada beragam opsi tersedia untuk membantu mendukung komitmen pemerintah mewujudkan NZE atau net zero emission. Tidak hanya elektrifikasi, bahan bakar ramah lingkungan juga bisa dimanfaatkan.
Buat kendaraan penumpang yang masif digunakan memang sudah tersedia seperti Pertamax Green 95, dengan kandungan bioetanol 5 persen dan RON 95.
Sementara untuk kendaraan tambang masih terbilang sulit diwujudkan baik untuk transisi elektrifikasi maupun penggunaan bahan bakar ramah lingkungan. Karena ternyata harga lebih mahal dan ada kelemahan tersendiri.
Hal ini sebelumnya disampaikan oleh Bambang Tjahjono, Executive Director ASPINDO (Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia) dalam seminar ABB Mining Talk, Kamis (14/9).
“Di Indonesia yang banyak dipakai adalah biofuel dari sawit. Tetapi FAME (Fatty Acid Methyl Ester) punya kelemahan,” ucap Bambang.
FAME disebut menghasilkan tenaga lebih rendah sehingga kendaraan jadi lebih boros, bersifat hygroscopic (mudah menyerap air dari udara bebas), oksidasi dan korosif.
Menurut Bambang hal tersebut bisa diatasi dengan produk sawit HVO (Hydrotreated Vegetable Oil) namun penggunaannya masih menunggu arahan dari pemerintah mengingat harga HVO mahal.
“Tetap alternatif pasti dipakai oleh pemerintah, karena dalam waktu dekat yang namanya fossil fuel itu harus diganti,” ujar dia.
Ia menegaskan perlu ada langkah bertahap karena menggunakan kendaraan bertenaga listrik untuk keperluan tambang bukan hal sederhana. Ukuran jauh lebih besar dan medan dilalui juga lebih ekstrem.
Untuk mensiasati hal tersebut Bambang mengatakan penggunaan EV di industri pertambangan dimulai dari peralatan ukuran kecil terlebih dulu.
“Seperti saya bilang tadi equipment berukuran kecil dulu perlahan ke medium. Tapi untuk ukuran besar masih jadi masalah,” ujar Bambang.
Untuk jangka panjang kombinasi antara elektrifikasi dan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan bisa jadi alternatif yang baik untuk ikut ambil bagian mengikuti komitmen NZE.
“Tidak bisa bilang (target elektrifikasi kendaraan tambang) karena tergantung teknologi bisa 5-10 tahun, itu semua tergantung seberapa cepat kemajuan teknologi dan bagaimana efisiensi dari baterai,” ucapnya.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
07 Agustus 2026, 08:00 WIB
25 Mei 2026, 09:00 WIB
06 Mei 2026, 11:35 WIB
19 Februari 2026, 10:00 WIB
24 Desember 2025, 12:00 WIB
Terkini
15 Agustus 2026, 20:53 WIB
Mobil listrik masih menunjukkan tren positif, model anyar seperti Wuling Aira ev catatkan wholesales tinggi
15 Agustus 2026, 18:57 WIB
Suzuki XL7 Facelift yang baru diluncurkan beberapa pekan lalu, sudah mendapat ribuan pemesanan dari konsumen
15 Agustus 2026, 07:21 WIB
Presiden Prabowo berambisi agar Indonesia memiliki mobil listrik nasional serta memajukan industri otomotif
14 Agustus 2026, 20:50 WIB
Fabio Quartararo mengatakan bahwa ia berniat meninggalkan Yamaha saat melakoni pengujian di Sirkuit Valencia
14 Agustus 2026, 20:48 WIB
Farizon V8E resmi diproduksi di pabrik Handal Indonesia Motor (HIM), kemudian disusul dengan model F3E
14 Agustus 2026, 11:00 WIB
Merek mobil mewah memperlihatkan tren negatif di periode Juli 2026, BMW masih memimpin disusul Mercedes-Benz
14 Agustus 2026, 09:00 WIB
Penjualan BMW disebut positif selama perhelatan GIIAS 2026, tuai respons positif terhadap BMW iX3 Neue Klasse
14 Agustus 2026, 07:00 WIB
Motor listrik nasional baru saja diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto dengan menggandeng Indika