Biaya Pertamax Full Tank buat MPV, Innova Zenix Rp 800 Ribuan
12 Juni 2026, 15:00 WIB
Menurut Toyota, elektrifikasi total bisa membuat jutaan pekerja pabrik dan pemasok kehilangan pekerjaan
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Era elektrifikasi ditandai dengan banyaknya manufaktur mulai memperkenalkan lini mobil listrik ke konsumen. Beberapa bahkan berkomitmen untuk elektrifikasi total dalam waktu beberapa tahun.
Artinya mereka tidak lagi menjual mobil konvensional di masa mendatang. Tetapi fokus menawarkan mobil ramah lingkungan seperti BEV (Battery Electric Vehicle).
Beberapa pihak beranggapan hal ini dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak masyarakat. Namun Toyota memiliki pendapat sebaliknya.
“Ada 5,5 juta orang terlibat dalam industri otomotif di Jepang. Banyak dari antara mereka sudah biasa mengerjakan (pekerjaan terkait dengan) mesin dalam waktu yang lama,” kata Akio Toyoda, Chairman Toyota Motor Corporation dikutip dari Reuters, Sabtu (12/10).
Masih sama seperti yang kerap ia sampaikan di berbagai kesempatan, menurut dia mobil listrik hanya akan menyumbang total 30 persen penjualan mobil secara global. Sisanya dibantu oleh mobil hybrid dan FCEV (Fuel Cell Electric Vehicle).
“Kalau mobil listrik jadi satu-satunya pilihan konsumen, pekerjaan orang-orang dan pemasok kami juga bakal hilang,” lanjut Toyoda.
Sehingga ia menegaskan Toyota masih akan memegang prinsip Multi Pathway di era elektrifikasi. Artinya tidak hanya fokus pada mobil listrik saja tetapi berbagai alternatif ramah lingkungan lainnya seperti mobil hybrid.
Toyota di Indonesia juga tampaknya mengikuti prinsipal dan tidak langsung terjun ke mobil listrik. Hingga saat ini mereka baru punya satu model BEV (Battery Electric Vehicle) yaitu bZ4X, dilego Rp 1,19 miliar OTR (On The Road) Jakarta.
Sementara model ramah lingkungan lain didominasi hybrid di berbagai segmen. Seperti Alphard dan Vellfire HEV mengisi ceruk MPV mewah, lalu pilihan MPV dengan banderol lebih kompetitif yaitu Kijang Innova Zenix Hybrid.
Sayangnya mobil hybrid di Indonesia memang tidak mendapatkan keringanan atau relaksasi pajak dari pemerintah seperti mobil listrik murni alias BEV. Tetapi regulasi ini masih dinanti oleh sejumlah pabrikan.
“Berilah insentif kepada produk-produk yang bisa mengurangi emisi. Kedua untuk mobil memang sudah diproduksi di dalam negeri, bukan impor,” kata Anton Jimmi Suwandy, Direktur Pemasaran PT TAM (Toyota Astra Motor) beberapa waktu lalu.
Merek Tiongkok GWM (Great Wall Motor) yang sekarang pilih jual mobil hybrid di RI juga berpendapat senada.
“Perlu dong (subsidi mobil hybrid), kami coba ajukan lagi ya setelah kemarin sempat ditolak,” kata Lisa Wijaya, Sales & Network Director GWM Indonesia di Jakarta Timur belum lama ini.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
12 Juni 2026, 15:00 WIB
10 Juni 2026, 15:00 WIB
09 Juni 2026, 21:30 WIB
06 Juni 2026, 19:00 WIB
05 Juni 2026, 14:06 WIB
Terkini
14 Juni 2026, 20:00 WIB
BYD Dolphin PHEV merupakan salah satu strategi BYD menembus pasar Eropa, tawarkan alternatif EV yang menarik
14 Juni 2026, 18:27 WIB
Menurut Kawasaki, proses perancangan dan pengembangan Brusky 125 sepenuhnya dilakukan oleh Modenas Malaysia
13 Juni 2026, 21:35 WIB
Astra Honda Racing Team sukses di race pertama ARRC Motegi, Jepang dengan membawa dua podium via Herjun dan Irfan
13 Juni 2026, 20:27 WIB
Nama Hyundai Staria Hybrid telah terdaftar di laman Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 11 Tahun 2026
13 Juni 2026, 18:28 WIB
Menurut Pindad, masalah yang terjadi pada mobil kepresidenan Prabowo terjadi pada awal-awal penggunaan
13 Juni 2026, 07:38 WIB
Ajang Daihatsu National SMK Skill Contest merupakan kompetisi untuk menyiapkan generasi mendatang tahan banting
12 Juni 2026, 23:51 WIB
BYD M6 DM akan bersaing di kelas MPV ramah lingkungan lain di Indonesia mengandalkan harga dan teknologinya
12 Juni 2026, 22:24 WIB
MPMX kembali menggelar program MPM Bisa untuk memberdayakan ekonomi penyandang disabilitas di Indonesia