Kecelakaan Arus Mudik dan Balik Lebaran 2026 Diklaim Turun
29 Maret 2026, 11:44 WIB
KNKT menilai pemerintah dapat menggandeng pihak swasta untuk mendirikan sekolah mengemudi khusus sopir truk
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Tingginya angka kecelakaan, mendorong sebagian pihak meminta pemerintah mendirikan sekolah mengemudi khusus sopir truk dan bus.
Hal ini dirasakan penting, karena dinilai dapat menambah kemampuan mengemudi masyarakat yang menggeluti profesi sebagai sopir.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyarankan para pemangku kebijakan buat berkolaborasi dengan pihak swasta.
"Untuk memulainya pemerintah harus menggandeng stakeholder lain dalam hal ini operator. Di mana mereka sudah memilki Sumber Daya Manusia (SDM) yang siap dipoles termasuk juga sarana dan prasarana," buka Ahmad Wildan, Investigator Senior KNKT saat dihubungi KatadataOTO, Selasa (09/09).
Wildan menjelaskan beberapa perusahaan swasta siap diajak berkolaborasi oleh pemerintah. Terutama dalam urusan membuat sekolah mengemudi khusus sopir truk serta bus.
Seperti contoh PO Sumber Alam, PO Sugeng Rahayu, PO Eka Wira, PT Siba Surya, PT Pertamina sampai PT Transjakarta.
Lalu masih ada juga produsen kendaraan niaga seperti Hino. Sebab mereka sudah memiliki program pelatihan buat para sopir bus maupun truk.
"Kondisi saat ini untuk membuat sekolah mengemudi bus dan truk, pihak operator jauh lebih siap ketimbang kampus perhubungan seperti STTD sampai PKTJ," Wildan melanjutkan.
ia menuturkan kalau para operator mempunyai pengemudi senior yang mudah dibentuk sesuai kurikulum baru.
Lalu memiliki sarana dan prasarana memadai. Ambil contoh bus, truk, lapangan, perbengkelan sampai ruang kelas.
"Tantangan terberat jika dilakukan di kampus perhubungan adalah mencetak instruktur dan kebutuhan sarana juga prasarana," tegas Wildan.
Di sisi lain KNKT mengaku siap membantu pemerintah dalam mendirikan sekolah mengemudi khusus sopir bus juga truk.
Nantinya mereka membantu berdasarkan pada temuan-temuan keecelakaan selama ini.
"Pemerintah harus berani menyiapkan anggaran dengan merekrut lulusan SMTA yang masih belum bekerja," pungkas dia.
Terakhir pemerintah juga dapat melakukan peningkatan kompetensi untuk para sopir yang lama. Jadi kemampuan mereka bisa semakin baik.
Dengan begitu mampu menangani kondisi darurat saat di jalan raya. Keputusan yang dibuat tidak asal-asal.
Kecelakaan maut melibatkan kendaraan besar dapat diminimalisir. Jadi tidak memakan banyak korban jiwa dan merugikan masyarakat luas.
"Justru sejauh ini belum ada (rencana pemerintah mendirikan sekolah mengemudi). Justru dari swasta yang memulai," Wildan menutup perkataannya.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
29 Maret 2026, 11:44 WIB
11 Maret 2026, 09:00 WIB
14 Februari 2026, 11:00 WIB
03 Februari 2026, 13:00 WIB
03 Februari 2026, 07:00 WIB
Terkini
13 Mei 2026, 21:00 WIB
Di negara asalnya, BYD Atto 1 mendapatkan tambahan sensor LiDAR, jarak tempuh lebih jauh dan dua warna baru
13 Mei 2026, 20:00 WIB
Mobil listrik Chery QQ 3 EV makin dekat ke Indonesia, konsumen cukup menyiapkan booking fee Rp 5 juta
13 Mei 2026, 19:15 WIB
Changan yakin mobil hybrid REEV atau Range Extender Electric Vehicle banyak peminatnya di luar Jakarta
13 Mei 2026, 14:45 WIB
Suzuki menggelar Burgman Fun Rally 2026 untuk mendekatkan diri kepada para konsumen kendaraan roda dua mereka
13 Mei 2026, 14:44 WIB
Maxi Tour Boemi Nusantara 2026 di Pulau Sumatera resmi berakhir setelah JMC diajak menjelajah ke Lampung
13 Mei 2026, 06:00 WIB
Sebelum libur kepolisian menghadirkan SIM keliling Bandung untuk memudahkan para pengendara motor dan mobil
13 Mei 2026, 06:00 WIB
Hari ini fasilitas SIM keliling Jakarta masih dibuka seperti biasa melayani prosedur perpanjangan masa berlaku
13 Mei 2026, 06:00 WIB
Ganjil genap Jakarta hari ini akan berlaku mulai pagi dan kembali aktif pada sore hari untuk mengurai kemacetan